Terlalu Sulit Membenci James Milner 

Kedatangan dan kepergian pemain hal yang biasa dalam dunia olah raga profesional, di dunia sepak bola eropa kesempatan mendatangkan dan melepas pemain datang dua kali dalam setahun, yang dikenal dalam istilah jendela transfer, yaitu di musim panas dan musim dingin. Transfer musim panas terjadi setelah penyelenggaraan liga selesai (Juli – September) untuk mempersiapkan musim baru, sedangkan transfer musim dingin berlangsung di sekitar bulan Desember, memberikan kesempatan klub mengevaluasi kinerja pemainnya dalam setengah musim kompetisi.Kadang proses transfer menyuguhkan drama dan menguras energi karena melibatkan berbagai pihak, klub asal-klub tujuan, fans, agen pemain dan di kasus tertentu melibatkan keluarga. Tidak jarang seorang pemain harus pergi meninggalkan klub yang telah dia bela dengan menyisakan kejadian tidak mengenakkan. Hubungan baik dengan klub, manajer, fans yang tadinya baik berubah 180 derajat menjadi buruk, bahkan sangat buruk. Kadang di saat itu dijadikan momen bagi pemain untuk curhat mengenai ketidaksukaannya terhadap beberapa pihak di dalam klub, membuka aib klub sendiri. Bursa transfer pun melibatkan perputaran uang yang tidak sedikit, angka-angka fantastis muncul, sasaran empuk media untuk diangkat. Pemecahan rekor terjadi terus menerus setiap tahun.

James Milner pergi dari Etihad Stadium menuju Anfield dalam status bebas kontrak, artinya Liverpool berhak mendapatkan dia secara gratis dari Manchester City. Kepergian Milner bukan hal yang mudah bagi City, yang berusaha mempertahankannya tetap di Etihad. Tapi keputusan Milner harus dihormati, hal yang dia minta cukup satu: jam main yang tinggi untuk mempermudah dia terus di timnas Inggris – suatu hal yang sulit dijanjikan oleh Manuel Pellegrini. City punya banyak sekali pemain tengah yang berkualitas, yang harus bersaing ketat untuk mendapatkan tempat di starting XI. Kepergiannya ke Liverpool, salah satu pesaing dalam perebutan tempat di liga tentu menyesakkan, tapi terlalu sulit membenci James Milner.

Milner adalah salah satu pemain yang sangat dicintai di Manchester City, perilakunya di lapangan dan di luar lapangan tidak pernah mengesalkan. Kedekatannya pada fans termasuk sangat baik dibanding pemain lain. Milner dianggap salah satu pemain yang underrated – dianggap remeh, dia adalah salah satu dari sedikit sekali pemain yang posisinya fleksibel, meski posisi idealnya adalah gelandang bertahan, dia pernah dimainkan di hampir semua posisi, wing back kanan, wing back kiri, gelandang bertahan, gelandang menyerang, winger kanan, winger kiri, striker bahkan center back, tinggal posisi kiper saja yang belum pernah dia alami. Dalam semua posisi yang dia ditugaskan, selalu memberikan 100% untuk team. Daya juang dan kengototannya yang selalu terlihat penuh di lapangan, walau dalam posisi tertinggal, keinginannya untuk berjuang selalu terlihat di lapangan. Salah satu pertandingan yang selalu saya ingat adalah saat melawan Bayern Muenchen di Liga Champions Eropa, memberikan inspirasi untuk pemain lain untuk terus bergerak, mencari peluang mencetak gol tanpa lelah,  mental juara yang tinggi.   

Milner punya kecepatan, kemampuan menggiring bola, umpan matang dan tendangan keras. Dia pernah membuat gol dari bola mati yang spektakuler ke gawang Hull City, tendangan melengkung yang menyulitkan kiper menahan tendangannya. Satu-satunya kekurangan dia adalah cenderung kasar dalam men-tackle pemain lawan, menjadikannya salah satu pemain yang mudah mendapatkan kartu kuning. Sekarang di Liverpool, Milner menempati posisi favoritnya – gelandang bertahan agak sebelah kanan. Dia memang lebih eksplosif berada di sisi kanan.

Milner punya julukan unik saat ada di Manchester City, yaitu “boring Milner” yang didapat dari salah satu akun twitter parodi yang dibuat oleh fans. Perawakan dan wajahnya memang cocok diasosiasikan dengan orang Inggris yang konservatif, polos, lugu naif dan kaku – Inggris kampung!. Reaksinya terhadap gurauan tersebut tidak negatif, dia menanggapinya dengan santai. Pernah dalam satu film pendek dia berperan sebagai boring Milner dalam menyambut perayaan Natal, beradu akting dengan Chappy, salah seorang legenda City di ruang ganti yang lucu dan senang bersenda gurau. Film tersebut dibuat untuk CityTV oleh website resmi City yaitu http://www.mcfc.co.uk, dan diunggah ke channel youtube City, mendapatkan respon yang sangat baik dari para fans City maupun fans klub lain.

Milner jga dikenal dermawan, dia punya yayasan yang peduli terhadap anak-anak, kesehatan dan para veteran. Yayasan tersbut dinamai James Milner Foundation, setiap tahun mengadakan event charity untuk mengumpulkan dana untuk disumbangkan. Para pemain liga Inggris diundang untuk hadir dan turut memberikan sumbangan.  

  

 Kiprahnya di Liverpool menarik untuk terus dipantau, meski bukan lagi bagian dari Manchester City, dia akan selalu dalam ingatan para fans. Saya selalu ingat satu kalimat yang dikenal di lingkungan City: “once a blue, always a blue”, sekali biru tetap biru. Semoga sukses Milner!.  (Eggaip)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s