Kopi Pahit dan Ampas

Pagi ini sang asisten rumah tangga kantor (kantor apa rumah? kurang konsisten), menyajikan secangkir kopi pesanan saya. Biasanya dia menyediakan teh panas yang kadang tawar, kadang manis sesuai suasana hatinya. Sebelumnya, segera setelah duduk di kursi kerja, saya langsung pesan kopi-sebelum dia terlanjur menghidangkan teh, setengah berteriak ke arah dapur. Kebetulan pintu ruang kerja dan pintu dapur membentuk garis diagonal membentang antara ruang tengah yang cukup luas, panjangnya sekitar 394 inchi. Bingung kan?, inchi biasanya digunakan dalam ukuran diagonal. Apa daya dia sudah terlanjur menyeduh teh celup dalam kemasan kertas tipis setengah transparan ke dalam segelas air panas dari dispenser canggih punya kantor. Canggih karena dispenser ini bukan tipe yang memanfaatkan gaya gravitasi, yang biasanya menyulitkan ibu-ibu kala air galonnya habis, karena berat dan harus diangkat-angkat ke tempatnya yang berposisi di atas. Karena menyulitkan inilah, sang suami atau adik laki-laki atau anak laki-laki yang harus mengganti galonnya saat air habis. Dispenser yang ada di kantor ini menggunakan pompa listrik sehingga dapat menyedot air galon yang diletakkan di bagian bawah, dengan posisi lehernya menghadap atas. Canggih kan?, saya pikir seharusnya seluruh ibu-ibu di seluruh dunia menggunakan dispenser jenis ini di dapurnya. Tapi jangan harap anda bisa minum saat mati lampu, pompa-nya akan tiba-tiba tidak berfungsi dan anda hanya bisa sue beli air kemasan botol di warung terdekat. Tidak ada sesuatu yang sempurna kan?, jadi mari kembali lagi ke kopi dan sang asisten. Dia menyahut “siap”, setelah tadi saya meminta sambil agak merasa bersalah, karena terlambat 4 menit dia terlanjur menyeduh teh. Dia mengantar gelas teh ke meja kerja, dan bertanya: “kopinya segelas atau cangkir aja mas?”. “cangkir aja Bang!, makasih ya” timpal saya. Ya, Bang – begitu saya memanggilnya karena namanya Bang Jenal, entah Zaenal atau Jaenal atau Zenal, karena anehnya sang kakak kandungnya yang juga bekerja di kantor ini namanya Zaelani, dipanggil Bang Lani.

Selang lima menit lamanya (atau cepatnya) – waktu memang relatif kata Mr. Einstein, dia datang dengan secangkir kopi pahit dan menaruhnya di meja, persis di sebelah gelas teh panas yang sudah dia antar tadi. Kopi pahit memang pilihan yang saya minum, Bang Jenal sudah paham dia harus menyiapkan kopi tanpa gula kalau saya pesan. Saya mulai minum kopi tanpa gula beberapa bulan ke belakang, tadinya saya sama sekali menghindari kopi karena punya masalah dengan asam lambung. Tapi berkaca dari pengalaman kakak ipar yang rutin minum kopi pahit segelas setiap pagi, sakit maag-nya malah sembuh, saya mulai coba. Dan ternyata betul, kopi tanpa gula bersahabat dengan lambung. Beberapa artikel yang sudah saya baca menyatakan reaksi kimia gula dan kopi-lah yang menjadikannya bersifat asam dan mengakibatkan perut kembung, asam lambung naik. Jadilah saya peminum kopi tanpa gula, sangat klasik dan konservatif, dulu cuma para dukun yang minum kopi jenis ini, entahlah mungkin dukun punya masalah sama dengan lambung. Saya tidak minum kopi-kopi fancy yang namanya keren macam coffee latte, macchiato, capuccino dan lain-lain. Kalau datang ke gerai kopi macam Starbucks atau Coffee Bean, bisa dipastikan, saya adalah orang yang paling merasa rugi dan tidak ikhlas bayar mahal, cuma buat minum kopi americano. Itu pun setelah diingatkan istri “ih rugi amat minum kopi pahit di Starbucks”.

Oh, kopi pesanan tadi lupa saya minum, sekarang airnya sudah mulai hangat, tidak panas lagi. Saya tipe peminum kopi sruput cepat, sebelum mendingin, kadang istri saya heran, “enggak dadas tuh lidah?”. Anda tahu kan dadas itu apa?. Kadang suka heran sama orang-orang yang minum kopi sambil beraktivitas yang lain sampai airnya dingin, apa enaknya?. Menurut saya minum kopi itu perlu konsentrasi dan fokus, tidak seperti saya pagi ini sambil ngecek beberapa kerjaan. Nah saya angkatlah itu cangkir mendekatkan ke bibir untuk menyeruputnya, tapi segera saya menahan diri, mata saya menangkap banyak sekali ampas mengambang di permukaannya. Waduh, si Bang Jenal bikin susah, nyuruh saya nyeruput kopi dan ampasnya?. Akan lebih mudah kalau ada sendoknya, bisa dibuang tuh ampas, tapi ini tidak. Ya sudahlah, saya seruput saja sambil sedikit-sedikit meludahkan ampasnya ke tong sampah dekat meja. Kata orang menyeduh kopi tidak dengan air mendidih begini akibatnya, serbuknya tidak larut dengan sempurna, menyisakan ampas di permukaannya. Ini pasti gara-gara dispenser canggih tadi, pemanasnya tidak bisa menghasilkan air mendidih. Semua dispenser begitu ya?, ya seperti tadi saya bilang, tidak ada yang sempurna.

Selamat pagi, selamat beraktivitas!.

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. dwi anggoro says:

    Wah baru tau ane kalo diagonal pake inchi. Kirain satuan metrik us.

    Like

    1. eggaip says:

      hehe maksudnya inchi sering dipake ukuran diagonal gadget & TV

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s