One Minute Silence

Sebagai pencinta sepak bola, terutama Liga Inggris, hal-hal di seputar olah raga paling populer sejagad ini selalu menarik buat saya, di dalam maupun di luar pertandingan. Di Inggris (mungkin juga di liga negara lain) ada tradisi khusus untuk menunjukkan rasa duka cita terhadap sebuah kejadian, baik meninggalnya legenda atau orang yang berpengaruh terhadap dunia sepak bola atau kejadian lain seperti bencana alam atau bencana kemanusiaan. Mereka meminta penonton dan semua orang yang berada di stadion melakukan one minute silence (mengheningkan cipta selama satu menit) secara serempak sebelum pertandingan.

Yang membuat saya kagum adalah, bagaimana puluhan ribu orang (rata-rata stadion di Inggris berkapasitas 25-30ribuan orang) secara sukarela berdiam sejenak selama satu menit. Atmosfir stadion yang riuh dari teriakan, tepuk tangan, siulan atau nyanyian tiba tiba sunyi senyap sementara untuk kembali riuh setelahnya. Mereka melakukannya secara serempak dengan tujuan sama, menghormati mereka yang patut dihormati. Ya mungkin saja ada dari mereka melakukannya tanpa betul-betul berduka, atau malah sama sekali tidak mengerti untuk apa mereka harus turut berduka.

Dulu sekali, waktu jaman saya bersekolah SD & SMP, dimana upacara bendera hari Senin menjadi rutinitas, mengheningkan cipta adalah bagiannya, untuk menghormati para Pahlawan Negara. Nah kan pasti anda mulai bernyanyi dalam hati … Dengan seluruh angkasa raya memuji Pahlawan Negara ….., cukup menyanyinya. Kita yang termasuk murid-murid baik, penurut dan cari aman, akan ikut serempak berdiam dan berduka cita dengan khidmat, hanya anak-anak iseng tetap bercanda secara berbisik-bisik dalam barisan, menunggu semprotan kata “stttt” dari mulut para guru. Tapi menurut saya, kelakuan seperti ini bukan bermaksud tidak menghormati para Pahlawan tapi hanya bentuk perlawanan dari kebosanan melakukan rutinitas yang sama setiap hari Senin.

Tidak mudah mengatur orang banyak ketika berkumpul, terutama kita dan anda yang bukan Militer. Tabiat manusia memang susah dikendalikan dan diatur, kecuali dengan trigger tertentu. Aktivitas keagamaan salah satunya. Karena saya Muslim, saya akan mengambil contoh pelaksanaan ibadah Sholat berjamaah. Puluhan, ratusan, ribuan bahkan jutaan orang akan secara sukarela diatur dipimpin oleh seorang imam, padahal mungkin kenal saja tidak dengan sang imam. Semua diam dalam bacaannya masing-masing dalam hati, sebagian mungkin pikirannya melayang kemana-mana. Seperti siang tadi saat Sholat Jumat di Masjid dekat kantor, kesunyian hanya terbelah lantunan ayat yang dibacakan Imam. Sampai akhirnya terusik suara nyaring anak kecil: “Papa, aku mau pipis”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s