Lima Sekantor: Bagian 1

Lima Sekantor: Prakata

Januari 2015

“Hey Cin, udah liat timeline fesbuk si Efa belom?” Tika setengah berteriak antusias saat masuk cafe, setengah pengunjung tertarik perhatiannya, tapi beberapa detik kemudian kembali normal setelah tahu siapa yang datang. “Heh berisik!” celetukan dari meja ujung. Tika merespon “iih kalo mau sepi sono ke rumah sakit!”, serentak ruangan cafe bergelak tertawa. “So sweet ya, married now” gue nyamber. “oh ya?, aku belom liat tuh” Mita menimpali. “no wonder” Tika menjawab dengan ekspresi mencemooh. “huh” Mita menghardik pendek, suasana diakhiri ketawaan kecil. “Lihat nih!” Tika menyodorkan smartphone-nya, seolah yang lain tidak punya benda yang sama. Ahmad Faqih Awaluddin married now with Asyabilla Kirani Harun, status yang terpampang di timeline sahabat kami Efa. Efa sebetulnya panggilan dari Faqih yang diambil dari singkatan F.A (Faqih Awaluddin), julukan yang konon dia peroleh waktu opspek di kampusnya dulu. Ramai komen atas perubahan status perkawinan dia, teman-teman kantor, kampus juga kerabatnya. Banyak yang memberi selamat, banyak juga yang mencandanya, sudah ada 30-an komen yang muncul di statusnya.

Mikha Ario:“Congrats ya Faqih & Billa”

Dewi Kinanti: “Semoga menjadi keluarga SaMaRa”

Lucas Manuputi: “Jek kawin lo?, gue ga diundang :(”

Ridwan M3ssi Fauzi “Enak ya sobb, kapan mau nambah? wkwkwk”

Bimo Lorenzo: “ cuy, jangan kebanyakan telanjang ntar masuk angin haha”

Kamila Indar Siyani: “Mas Faqih selamat ya atas pernikahannya, semoga langgeng, jadi keluarga sakinah ma waddah wa rohmah, maaf gak bisa hadir, ada acara lain”.

Dua komen terakhir menarik perhatian kami, “haha geblek si Bimo” gue mengawali pembicaraan. “mbeerr, congornya ga dijaga ya” sambar Tika. “bukan congor kali, tangannya, kan dia ngetik bukan ngomong” Mita menimpali. “iyaa deh, biar cepet” gue dan Tika serempak. Bimo Lorenzo, nama aslinya Bimo Clementz Hutagaol indo Batak-Perancis, memang punya mulut blak-blakan. Sedangkan Kamila adalah mantan Efa, dan sudah diduga sebelumnya dia gak bakal punya nyali dateng di resepsi pernikahan mantannya. Bukan karena takut sang mantan sih, tapi ketemu kami sahabat-sahabat sang mantan. Bisa dibilang Efa & Mila putus 8 bulan yang lalu karena akal-akalan kami, yang ga rela sahabat kita kawin sama cewek seperti dia. Mila bertipe shopper sejati, pemeras kantong lelaki, mereka berpacaran selama 1.5 tahun, dan selama itu juga kami tidak pernah bisa bermanis-manis sikap. “Huh si looser ga dateng kan, gue tunggu seharian kemaren, sampe pegel” sungut Tika, “ga mungkin berani nongol lah Tik, haha” sambut Mita. “Mungkin dia masih jomblo jadi tengsin hihi” gue menimpali. Sepuluh menit kemudian topik pembicaraan berpindah ke detail acara resepsi pernikahan Efa, mulai dari makanan, dekor, kostum, souvenir dan tamu undangan. Gelak tawa satu per satu bermunculan saat komentar lucu keluar dari mulut kita bertiga. Pembicaraan kami terhenti saat Bimo tiba-tiba muncul dan langsung duduk membanting badannya di sofa dan menyeruput coffee late pesanan gue. “eh nyettt, maen sruput aja” gue merebut coffee cup dari tangannya. “kemanisan!” komen dia tanpa peduli gue yang lagi sewot. “ udah ngerampok, protes lagi” Tika membela. Reaksinya cuma memonyong-monyongkan bibirnya mendekat muka kami bertiga yang dengan refleks menjauhkan diri dari wajahnya. Bimo dengan kelakuan minusnya, sudah kita maklumi, selalu ada segunung maklum buat dia. “njir, kaki gue kaku gini say, tadi pagi hampir ga bisa bangun, pegel abis” keluh Bimo, sambil mengurut betisnya. “apa kabar kita yang pake hi-heels Men?” jawab Mita. Mita selalu memanggil Bimo dengan panggilan Cemen, plesetan dari Clementz. Buat Bimo, di dunia ini tidak ada seorang cewek pun yang boleh mengejek namanya, kecuali Mita. Mita memang seperti adik kecil buat Bimo, badannya imut, auranya fragile dan ringkih berbanding terbalik dengan Bimo yang berbadan atletis, tinggi dan tegap.

Kami berlima, termasuk Efa adalah sahabat, berkantor di perusahaan yang sama, sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di perminyakan. Gue – Andriani Sudijono, staff Public Relation, berbadan agak besar, tapi teman-teman menghibur dengan bilang bohai dibanding chubbi atau ndut, gue penyuka kuliner, travelling & buku dan gue masih lajang. Bimo secara struktural sebenernya atasan gue, dia seorang PR group head yang khusus menangani media issue, selain playboy, dia adalah biker, itu menjelaskan kenapa FB profile-nya pakai nama Lorenzo, diambil dari Jorge Lorenzo, pembalap MotoGP, Bimo adalah tipe cowok metroseksual, bagi dia penampilan dan pencitraan adalah nomor satu. Tika, nama lengkapnya Sawitya Artika, staff di Marketing & Communication Division, diantara gue dan Mita, dia adalah cewek paling menarik secara fisik, wajah cantik, badan padat proporsional dan dandanan sexy cenderung menggoda. Tika sudah punya seorang anak cowok berumur dua tahun bernama Bradano Statham Lukman, berharap bermuka seperti Brad Pitt, gagah seperti Jason Statham, sedangkan Lukman diambil dari nama suaminya Lukman Hariadi. Mereka sudah menikah selama lima tahun, di umur yang masih sangat muda, setidaknya buat ukuran gue, yaitu waktu Tika 20 tahun. Mita Indriyani, Legal staff, tipe wanita karir banget, selalu berdandan ala sekretaris sopan, memakai blazer dan blouse senada, atau celana panjang dan kemeja, kadang gue ngeliatnya monoton dan kurang variatif. Mita berasal dari keluarga yang kurang harmonis, kedua orang tuanya harus berpisah waktu dia berumur 14 tahun, kepedihan kadang terpancar dari wajahnya. Faqih alias Efa adalah senior IT staff, urusan coding-mengcoding system dan web, sesuatu yang gue sama sekali enggak ngerti. Dia tipe cowok cuek, cenderung males memperhatikan penampilan, gue berani bertaruh 9 dari 10 anak IT di seluruh dunia memang gak berpenampilan menarik. Efa termasuk gak terlalu banyak bicara, tetapi efektif & efisien saat mencela, dia punya idealisme tinggi. Di antara kami berlima, gue yakin dia punya IQ paling tinggi, dan gue kedua tentunya.

Kami berlima bersahabat sejak dua tahun yang lalu, karena sebuah insiden di Malaysia saat kantor kita mengadakan Rapat Kerja tahunan di Singapura & Malaysia. Kantor selalu mengadakan Raker di bulan Desember setiap tahun, di tanggal 17, bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Waktu itu tahun 2013, kami berlima secara tidak sengaja terpisah dari rombongan waktu berkunjung ke Legoland di Johor, tanpa disadari kita sempat tersesat di negeri orang selama 5 jam. Waktu itu kami sama sekali tidak saling kenal, kecuali gue dan Bimo tentunya. Perusahaan kita cukup luas, dan menempati tiga lantai di salah satu gedung perkantoran di Jl. Sudirman. Tidak heran karyawan dari divisi berbeda jarang bertemu, kecuali mereka yang sudah berteman sebelumnya. Raker adalah salah satu kesempatan karyawan untuk saling bersosialisasi, selain di kantin atau toilet tentunya. Gue masih inget betul kejadian di sana, travel agent yang perusahaan pake emang dodol, mereka gak ngecek lagi penumpang bis saat mau pergi menuju tempat selanjutnya. Gue waktu itu masih di toilet, hasil makan tomyam super pedes tadi malem. Pas nyampe tempat parkir, kaget banget bis rombongan udah gak ada di tempatnya, panik … panik banget. Gue segera tanya-tanya ke petugas parkir ke mana bis rombongan dengan nyebutin ciri-ciri warna bis-nya, mereka menjawab sudah jalan sepuluh menit yang lalu. Hah?, sepuluh menit yang lalu?, berapa lama gue di toilet? Ah tomyam sialan. Untungnya tas gue bawa, di dalamnya ada ponsel dan passport, padahal tadi gue buru-buru lari ke toilet karena mules melilit. Terduduk lemes, kebayang kalau gue terjebak di negara ini, gue bisa aja dideportasi karena gak pegang ijin kerja, atau terpaksa jadi TKI ilegal, buat ngumpulin duit pulang. Tapi masa sih travel agent gak nyariin gue?. Lamunan gue terusik, waktu seorang cewek terdengar agak histeris “apa?, masa saya ditinggal, ah ga bener ini. Tolong dong saya Pak Cik, saya harus gimana”. Seorang cewek cantik memakai jeans biru tua selutut, T-shirt ketat warna khaki dengan aksesoris serasi, di kepalanya menggantung kaca mata hitam ala pilot. Dari logat bicaranya gue yakin betul dia orang Indonesia, dia ditenangkan beberapa petugas lokal. Gue bergegas mendekat, dan segera tahu kalau kita dari kantor yang sama, rasa panik sedikit hilang, setidaknya sekarang gue punya teman satu derita. “Gue Andrina, panggila aja Andri” menyadari dari tadi kita belum saling tau nama masing-masing, “Andri? haha iya, dari tadi belum kenalan, gue Tika” katanya. Dari logat bicaranya, gue segera tahu kalau dia bersuku sunda, meskipun gak kental banget, tapi masih bisa jelas dikenali. Kita berdua segera bikin rencana apa yang harus dilakukan, dan kemungkinan-kemungkinan apa yang harus dicoba. Diluar kepanikan kita berdua, gue masih bisa ngelihat ketegaran, dan ketenangan dalam diri Tika, dia tipe cewek kuat pikir gue. Menit-menit berikutnya gue dan Tika berdebat soal apakah kita harus nunggu di sini sampai travel agent dateng nyari, atau malah harus usaha balik ke hotel tempat kita menginap di Orchard Rd Singapura. Di tengah-tengah diskusi, tiba-tiba kita diinterupsi oleh tiga orang yang datang mendekat dan bergabung. Itulah mereka, Bimo, Efa dan Mita, mereka ditunjukkan petugas ke arah kami setelah tahu mengalami hal yang sama. “aah Bimo, lo ketinggal juga” gue sumringah akhirnya ada orang yang gue kenal juga. “iya nih, sial banget ya gue” katanya dengan mimik muka kesal. Bimo yang berpenampilan oke, seketika merubah Tika yang tadinya tegar jadi manja, ah dasar perezz. Efa waktu itu berpenampilan kusut, persis mahasiswa tingkat akhir yang kurang tidur dan belum mandi. Mita gue inget betul pakai baju casual warna biru muda, celana pendek cargo warna broken white plus topi bulat besar, tipe turis banget dan tentu gak lupa pocket camera di tangannya. Dia tampak paling panik, seperti tidak tahu harus ngapain, dan akhirnya pasrah menyerahkan nasibnya ke kami berempat.

“Kita balik ke Sing aja pakai MRT” Bimo meyakinkan kami berempat. “Tapi gimana kalau travel nyari kita ke sini Mas?” Efa mendebat. “Terus kita harus nunggu berapa lama di sini bro?” balas Bimo. “Aku capek nunggu di sini” Mita mengeluh. “Iya, bisa kering juga kita nunggu di sini, panas!, cari tempat adem dikit gitu” Tika nambahin. “Kita cari makan aja gimana?” ide gue terbaik, karena dari tadi perut udah minta diisi lagi. Sontak keempat orang itu memandang gue bersamaan dengan muka aneh. “Nyasar bukan berarti ngelupain makan kan?” kata gue nyengir. “ah elo Ndri, makan doang yang dipikirin, ntar aja lah, mending kita cari informasi dulu transport ke Sing” Bimo seolah-olah bijaksana, padahal sumpah, sehari-hari dia jauh dari bijak, mungkin pencitraan, gumam gue dalam hati. Semua setuju, dan tiba-tiba Bimo jadi pemimpin tanpa terpilih, gayanya memang meyakinkan. Kami pun mengikuti arah langkah Bimo, berharap dia membawa kita ke jalan yang benar.

Empat jam kita butuhkan untuk sampai di hotel, lebih banyak dihabiskan untuk berjalan nyari informasi, cari makan dan sedikit nyasar. Di empat jam itu pula kami mulai saling kenal lebih akrab. Somehow gue ngerasa kita berlima punya “klik”, ada keseruan yang mengingatkan gue ke kisah persahabatan selama sekolah di SMP. Pengalaman nyasar di Malaysia malah menyenangkan dibanding seharusnya bikin panik.

Sesampainya di hotel, Efa langsung lapor ke front desk, karena panitia pasti ngecek terus keberadaan kami ke hotel. Waktu itu jam 18.15, rombongan masih belum sampai, mereka mampir dulu di beberapa tempat belanja oleh-oleh khas Malaysia, tempat para tour guide dapat komisi tambahan. Kita berlima menunggu di lobby, membahas “petualangan” yang baru saja dialami. “hebat juga ya kita bisa nyampe balik ke hotel, aku sempet mikir bakal terjebak di negeri orang”, Mita membuka obrolan. “ah biasa aja, Johor & Singapore kan punya sistem transport & informasi yang bagus” kata gue tidak setuju. “kalau nyasar di Zimbabwe, baru keren!” Tika nambahin. “ah tapi lo juga tadi panik kan?” sela Efa, kontan semua cekikikan, Tika cuma pasang wajah aneh. “Untung kita punya big bro ini” kata Tika, sambil menepuk paha Bimo, Tika duduk manja menyender di dada Bimo. “Yang penting kita berfikir jernih, ga perlu panik, itu aja” Bimo menjawab dengan nada suara dibuat berat dan lambat. Gaya lo tuh cooy gumam gue dalam hati. “Ehm! inget anak” suara dehem di belakang Tika & Bimo mengagetkan kami berlima … “ehm! Inget suami!”, Tika menoleh sigap dan sontak melempar bantal sofa ke orang tersebut “aah Robby ganggu kesenengan orang aja!” teriak Tika sewot, “kan siapa tau dapet satu smooch, dua smooch” sambungnya. Robby ngabur setengah berlari, kami bertiga selain Bimo tertawa tergelak. “Jadi kamu udah punya suami & anak?” tanya Bimo heran, Tika mengangguk mengiyakan. “Ah dasar!” kata Bimo, dan sikapnya langsung berubah konyol “sini gue kasih smooch” katanya sambil memonyongkan bibirnya ke arah pipi Tika yang langsung melompat menjauh sambil memukul bibir Bimo dengan bantal sofa yang lain. Gue ketawa terpingkal-pingkal, Bimo asli akhirnya muncul, capek juga gue liat dia empat jam tadi. Buat Tika yang agresif, sikap Bimo yang cool empat jam tadi pasti jauh menarik dibanding sifat aslinya yang lebih agresif. “Anak lo berapa tahun Tik?” tanya Efa, “baru 4 bulan say” jawab Tika, “hah? empat bulan? dan kamu udah langsing lagi?” tanya Mita keheranan. “Iya, lo udah sexy aja, sampe gue ketipu kirain perawan” Bimo berkata sambil memandang detail tubuhnya, Tika hanya mengangkat bahu “udah bakat kali” katanya singkat. Padahal belakangan gue tahu kalau dia rajin nge-gym, jogging dan yoga. Memang gak bakal ada yang nyangka kalau Tika udah punya anak, she’s so perfect.

Selanjutnya pembicaraan kita balik lagi ke petualangan yang tadi kita alami. “Tadi kita kayak Lima Sekawan” kata Mita, “haha iya” Efa menimpali. “Apa tuh?” Tika & Bimo hampir serempak, “Lima Sekawan? Hallooowww, kalian gak tau?” gue sedikit heran. “Itu, tokoh novel detektif cilik, bacaan aku waktu kecil, ceritanya seru-seru, mereka berlima memecahkan masalah-masalah misterius” Mita menjelasakan, tanpa menyebut diantara mereka berlima ada seekor anjing. “oh gitu, nah kita namain aja genk kita pakai Lima Sekawan, gimana?” usul Tika. “Lima Sekantor aja deh” jawab Efa singkat, “Lima Sekantor haha lucu juga tuh” gue menimpali, “setuju”, “boleh”, “gue setuju” semua sepakat. That’s it, itulah proses terbentuknya genk Lima Sekantor, kami selalu ngumpul berlima selagi ada kesempatan, mulai makan siang, pulang kantor, hangout saat gak ada agenda lain.

Dan hari ini sampai kamis, Efa dapat cuti pernikahan, dia dan Billa ber-honeymoon di Batam, di kawasan Nongsa. Buat Efa bulan madu di Bali atau Lombok terlalu mainstream. Biasanya kami berlima duduk di meja ini, Efa selalu ambil kursi di pojok, dia gak mau tengkuknya kena semburan AC. Hari ini kursi Efa kosong, gue tentu kehilangan dia, setelah menikah, tentu semuanya gak bakal sama lagi. Gue tau Efa sayang banget sama Billa, pasti waktu buat kita berempat akan dibagi sama istrinya. Efa terus terang adalah mesin ATM buat kita berlima, dia selalu royal traktir kita berempat dan tidak pernah komplen isi bensin untuk mobilnya yang selalu kita tumpangi. Meski dia bukan orang bergaji paling tinggi diantara kita berlima, Efa sering mengerjakan proyek-proyek sampingan, desain webiste lah atau bikin aplikasi di Android, selain itu dari YouTube channel, blog, Adsense dan Twitter menurut Bimo, Efa bisa dapat penghasilan tambahan 2000-3000 US Dollar per bulan, lebih besar dari gaji dari kantor yang dia terima. Sedangkan Bimo, yang secara struktur jabatan paling tinggi diantara kita berlima punya pengeluaran besar buat dua hobinya: motor dan perempuan. Sering gue denger dia harus pesan spare part atau aksesoris motor jutaan Rupiah via online. Untuk hobi keduanya, mungkin pengeluarannya lebih besar lagi, buat kencan, nonton film, check-in hotel, foya-foya sampai nonton striptease di Mangga Besar. Kita sangat maklum dengan hal itu, makanya tidak pernah mengganggu pengasilannya.

“Tumben Efa ga update status, atau jawab komen-komen ya?” Tika bertanya keheranan, maklum aja sebagai orang IT, Efa biasanya ga pernah lepas dari socmed. Status terakhirnya di Path cuma arrive at Nongsa Point Marina, Batam with Asyabilla Kirani Harun, itu pun tadi malem. “Ya elah kayak belum pernah honeymoon aja sih Tik” kata Bimo, “mana inget sih sama gadget” sambungnya. “Iya, tadi aku nyapa di Line juga gak jawab Tik” Mita menimpali. “Ya udah lah, biarin mereka tenang nikmatin honeymoon-nya, balik ke ruangan yuk” gue lihat jam tangan udah hampir habis waktu istirahat. Kami serempak menuju lift, balik ke ruangan di lantai 7, cuma Mita yang di lantai 8. Di jam istirahat gini, lift kayak metro mini, kita harus antri buat dapet giliran masuk. 5 menit harus kita habiskan di depan lift, 5 menit yang lumayan buat Bimo senyam senyum sama karyawati-karyawati kece lantai ini. Giliran tiba kami masuk lift, diikuti 5 orang lainnya. Tiba-tiba “ting” bunyi nyaring dari dari empat gadget kita berbunyi hampir bersamaan, berarti ada notifikasi penting di salah satu socmed, entah yang mana. Gue dengan sigap buka ponsel kesayangan, ini waktunya balapan antar provider, siapa yang paling cepet akses data. “eh Efa jawab nih” Mita jadi pemenangnya, seperti biasa provider gue memang lelet. Dan seketika suasana lift jadi lebih meriah, kami berempat antusias membalas komen Efa barusan.

Lima Sekantor: Bagian 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s