Tangga Menuju Rumah Impian

Kemarin sore mengunjungi sebuah megastore perlengkapan rumah terkenal asal Swedia bersama keluarga. Sudah agak basi sih, sementara yang lain sudah berbondong-bondong ke sana semenjak pembukaan. Sempat hype dan jadi viral, karena untuk beberapa kalangan terutama yang berhubungan langsung dengan dunia interior & desain, nama brand tersebut – sebutlah namanya Ikea – sudah sangat familiar dari dulu. Saya sendiri dulu  hanya bisa ngiler dengan melihat katalognya yang suka dijual di sebuah bursa buku bekas di kawasan Cikapundung Bandung. Ikea mewakili gaya desain khas eropa modern yang minimalis dan fungsional. Sebagai anak kuliah desain, apalagi desain produk industri, barang-barang ala Ikea ini jadi salah satu referensi paling aduhai. Semua barang perlengkapan rumah mulai dari pernak-pernik aksesoris, alat makan, dapur sampai furnitur, semua ada!.

Tahun lalu ketika rumors berubah jadi keyakinan, melihat berita dan update sosmed beberapa teman, megastore tersebut semakin nyata, persiapan-persiapannya dengan pasti semakin mantap. Sampai tibalah saat pembukaan, ramai orang membicarakannya, setidaknya bagi yang berada di Ibu Kota dan sekitarnya. Angan-angan saya dulu untuk segera mengunjunginya terhenti, melihat bagaimana respon masyarakat terlalu antusias. Menurut beberapa cerita teman, megastore tersebut sangat padat, berubah menjadi arena wisata, bahkan buat mereka yang mungkin sebelumnya tidak tahu apa itu Ikea. Akhirnya, angan-angan saya selama 17-18 tahun mengunjungi salah satu tokonya terpaksa harus ditahan dulu, setidaknya sampai euforianya mereda. Untuk beberapa teman yang beruntung, mereka tidak perlu menunggu selama itu, karena sempat mengunjunginya di negara lain.

Berkunjung ke sana adalah sebuah pengalaman baru, bagaimana tidak, dari awal masuk ke area toko saja saya menemukan sesuatu yang tidak lazim. Mobil masuk ke area parkir tanpa ada ticket, kita hanya perlu melewati pintu otomatis yang dilengkapi sensor. Sempat agak ragu, apa tadi saya melewatkan pos ticket, bagaiman kalau pas keluar nanti diminta?, bagaimana cara perhitungan saya parkir berapa lama, atau gimana kalau dianggap menghilangkan ticket dan didenda 50ribu?. Ah sudahlah, saya bayar aja deh kalau memang harus bayar, bawa bayi 11 bulan agak repot balik ke pos depan. Tiga jam ke depan saya akan tahu kalau ternyata parkir gratis, kita hanya perlu melewati sensor otomatis lagi yang terhubung dengan palang otomatis. Mungkin sebuah super komputer melakukan pendataan secara cepat mobil yang masuk & keluar, saya yakin ada sebuah kamera yang merekam nomor polisi setiap mobil di pintu masuk, mengirimkan data secara real time ke server untuk diolah di setiap pintu ke luar.

Masuk ke pintu akses gedung, langsung dihadapkan dengan sebuah lift besar, lebih besar dari lift barang atau lift khusus rumah sakit. Kalau saya perkirakan, trolley ukuran besar – bukan trolley mini kelas mini market – bisa ditampung sebanyak 7-8 unit. Sampailah di lantai dasar, sebuah tangga lebar “mengajak” pengunjung langsung ke lantai 2. Di sini saya takjub, satu lantai perwujudan katalog, sebuah katalog 3D berukuran sesungguhnya. Barang didisplay sesuai dengan contoh peruntukkannya, mulai dari ruang kerja, ruang tidur, ruang keluarga, dapur sampai kamar mandi, beberapa contoh ruangan malah disertai ukuran, misal dapur 6X3 m2. Masuk ke toko ini saya perlu sedikit beradaptasi dan mencerna sebentar apa yang dimau Ikea dari kita, awalnya pasti agak sedikit keder, tapi kemudian saya paham konsepnya. Yang jelas di toko ini penuh informasi, pengunjung diajak mandiri dan mencari informasi dari sekeliling, tidak perlu dimanjakan petugas toko. Banyak sekali media komunikasi yang terpampang, mulai dari cara penyusunan display, rambu-rambu di lantai, graphic text, signage di berbagai tempat. Beda dengan toko lain, petugas biasanya mendekat saat kita melihat-lihat, menawarkan bantuan, kadang memberi rasa intimidatif, di sini jangan harap petugas membantu, kecuali kita meminta dengan mendatangi spot-spot tertentu. Yang patut disyukuri para suami adalah jalur perjalanan pengunjung sudah diatur rapih, menyerupai labirin, dengan warna jalur utama lebih gelap dari area display dan disertai rambu penunjuk arah di lantai, jadi kita bisa terhindar dari kebiasaan istri yang punya jalur random dan penuh ketidak teraturan. Peta-peta jalur terpampang di atas, menggantung dari arah plafon, uniknya peta ini tidak dibuat seperti gambaran ruangan, berdasarkan arah utara-selatan, barat-timur, tapi disusun secara linear, ini menegaskan konsep jalur tadi. Memang ada jalan-jalan pintas menuju area istirahat, di mana restoran dan toilet berada. Tapi yah namanya juga Indonesia, akan ada saja kita temui pengunjng yang berlawanan arah.

Untuk berbelanja barang-barang kecil, disediakan kantung-kantung besar berwarna kuning atau biru, plus trolley kecil tempat menggantungkan tas tersebut kalau belanja anda banyak. Untuk barang-barang besar, kita cuma perlu mengambil form dan pensil di rak-rak, menuliskan nomor artikel produknya. Jangan harap kita menemukan tulisan-tulisan kecil di atas kursi, meja atau tempat tidur yang isinya: Mohon tidak diduduki, Harap tidak disentuh, hati-hati barang mudah pecah. Ya, karena yang Ikea inginkan kita mencoba & menguji sebelum membeli. Bagaimana kita mau beli kursi kalau tidak dicoba?, sebuah furniture tidak cuma soal desain, tampilannya menarik, tapi juga harus enak dipakai, bahannya sesuai kebutuhan atau tidak, pantat atau punggung merasa nyaman atau enggak?, ergonomiskah? dan semua itu didapat dari mencoba. Khusus soal ini, di negara China ada sedikit pengecualian, karena orang-orang tak tahu diri memanfaatkan sofa, kursi dan tempat tidur untuk beristirahat!, ngadem gratis!, mereka tidur nyenyak, buka sepatu atau sendal. Semoga bangsa kita lebih tahu diri ya.

Tempat istirahat jadi salah satu tempat favorit saya, toilet umum dan restoran tersedia. Saya termasuk orang yang banyak minum air putih dan sekaligus banyak kencing, gedung mana yang saya datangi tidak dikencingi? :). Di lorong menuju toilet terdapat besi-besi pengait dengan masing-masing diberi nomor, rupanya ini tempat kita menyimpan kantung belanjaan selama beristirahat. Tidak ada rak penitipan barang berpetugas, lagi-lagi kita dipaksa mandiri, menyimpan tas belanja dan menghafal nomor. Berbelok sedikit kita sampai di ruangan besar dimana meja makan disediakan dengan berbagai pilihan, mau meja tinggi dengan bar stool?, meja makan ukuran standard atau sofa dengan meja pendek. Sebelumnya ada area pembelian makanan ala cafetaria, kita perlu masuk ke jalur antrian, mengambil baki dan troli berdesain khusus, bebeda dengan troli belanja tadi. Makanan di sini tentu makanan eropa tapi dengan harga Indonesia, ada cake, meatball, pasta, kentang goreng atau meshed, sosis, sup jagung. Nasi goreng atau mie ayam absen di sini. Selanjutnya kita menuju antrian pembayaran, di depaannya ada rak gelas, pilihan cangkir atau model wine glass, ternyata dengan mengambil gelas tadi kita membeli minuman free flow. Hot drink (kopi atau teh) untuk cangkir, soft drink untuk wine glass, dengan bayar tujuh ribu saja kita bisa minum sampai puas, tinggal ambil di dispenser yang tersebar di beberapa titik. Setelah makan, kita diminta menaruh piring & gelas kotor dalam baki di area tertentu, lagi-lagi diajak mandiri dan tertib, petugas hanya perlu mengelap meja yang kotor.

Setelah beristirahat, pengunjung digiring ke lantai dasar yang merupakan area belanja, kalau tadi bentuk displaynya seperti katalog, di sini barang disusun di rak, sama seperti saat kita belanja di hypermarket lain. Trolley besar disediakan, tas belanja tinggal ditaruh di dalamnya, jalur belanja tetap diatur seperti lantai atas. Di sini dipastikan ibu-ibu akan kalap, barang-barang dari yang paling murah – tapi tetap well designed – sampai yang lumayan mahal tersedia, tapi umumnya worth it.  Ada gelas, piring, alat masak, aksesoris kamar mandi, handuk, lampu, segalaaa macam, racun dunia!. Di sini rem anda harus pakem, kalau enggak bisa bahaya, setidaknya buat dompet.

Setelahnya kita akan masuk ke area berbeda, area belanja mandiri, bentuknya seperti gudang, rak-rak besar berisi kardus-kardus tersusun rapi, mengingatkan kita akan toko perkulakan Makro atau Lotte warehouse. Trolley datar disediakan, untuk memudahkan menumpuk barang berukuran cukup besar. Di sinilah Ikea sebenarnya, menurut saya. Rak-rak lemari moduler, dinding panel atau kaki meja dijual terpisah. Semua barang memang didesain moduler, knock down, customable, saya bisa merancang lemari saya sendiri, dan kapan-kapan bisa di-ekspansi sesuai keinginan. Sebuah tangga menuju rumah impian, karena saya bisa sedikit-sedikit menaikinya, satu anak tangga menuju rumah ideal yang direncanakan. Bandingkan dengan Da Vinci misalnya, impian yang sulit dijangkau, mengawang seaneh program dicount-nya yang enggak masuk akal. Saya sudah bisa membayangkan, satu atau dua tahun ke depan rumah akan menjadi display katalog Ikea seperti yang saya lihat belasan tahun yang lalu, rumah modern ala Swedia, walau tetap made in China.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s