Siang Adalah Tamu

“Malam datang, lampu-lampu dinyalakan”, kalimat romantis yang sudah beberapa kali saya dengar. Nyala lampu-lampu memang membius, kadang mendatangkan perasaan menggelitik, entah senang entah galau. Pulang menyetir sendirian di tengah jalanan Jakarta yang lelah tapi benderang, menyelimuti gelap malam. Hanya lampu kendaraan yang berbicara, menyampaikan pesan dari pengendara. Iya, begitulah cara kami saling berbicara, para pengendara di kursinya masing-masing. “Awas, saya mau jalan!”, “eits tahan, saya mau belok kiri”, “mobil depan agak melambat, saya juga mau melambat”, “jangan dulu nyebrang!, saya tanggung males nge-rem”. Ribuan pesan diteriakkan, cara kita selamat sampai di rumah.

Di sini malam selalu datang terlambat, sedangkan pagi hadir terlalu cepat. Sialnya kita selalu menyangka malam adalah tamu, datang untuk kemudian pergi besok saat fajar datang. Padahal malam adalah tuan rumah, yang selalu menerima siang sebagai tamu. Alam semesta adalah rumah bagi kegelapan. Gelap ada karena tidak hadirnya cahaya, bukan sebaliknya.

Malam lebih abadi dibandingkan siang, jauh lebih tua dibanding sang surya.

Hidup juga adalah tamu, datang untuk kemudian pergi. Kematian adalah tuan rumah, lebih tua dan abadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s