Lima Sekantor: Bagian 2

 

Februari 2015

Sudah hampir dua minggu ini aku disibukkan dengan kerjaan, bahkan dua hari ini pun harus lembur padahal ini Minggu. Yang bikin sedih, hari ini adalah syukuran pindahan Efa ke rumah barunya di Jati Asih, dari sejak pernikahan mereka, aku udah janji mau bantuin kalau mereka menempati rumah baru. Dari hari Sabtu kemarin Andri, Bimo, Tika dan Mas Lukman sibuk bantuin Efa & Billa. Mereka upload status di FB, Path dan Twitter soal keseruan pindahan rumah, ditambah lagi kelucuan-keluacuan ponakan Billa. Kontrakan Efa sebelumnya di Pejompongan, meski bujangan, Efa cukup banyak punya barang dan furniture.

Dua minggu yang lalu perusahaan kita harus berurusan dengan sekelompok  masyarakat di  Padang, karena tanah kantor perwakilan di sana ternyata masih sengketa, ada dua sertifikat asli yang saat ini masih disidangkan. Ajaibnya sistem administrasi di negara kita, dengan permainan calo, pejabat Kelurahan, Kecamatan dan oknum petugas di BPN hal itu masih mungkin kejadian. Pembebasan lahan sebetulnya sudah dilakukan dari dua tahun yang lalu, tapi menyisakan masalah di ujungnya, saat kantor akan mulai melakukan pembangunan. Masyarakat melakukan pemblokiran jalan akses menuju kawasan itu dengan menyimpan balok-balok kayu besar di jalan. Aku dan Mas Pram ditugaskan untuk mendata seluruh anggota keluarga dan ahli waris dari pihak yang memperkarakan soal ini. Ribet banget, karena ternyata keluarga H. Irdan adalah keluarga besar, dan sudah menempati lokasi itu sejak tahun 40-an. Sekarang silsilah keluarganya agak complicated, karena ada anggota keluarga yang sudah meninggal, ada yang sudah bercerai, ada yang punya anak angkat. Memang untuk urusan perkara Perdata dan Pidana, kantor punya pengacara, tapi mereka lebih konsentrasi di persidangan, sedangkan untuk pengumpulan data sebagai bahan di persidangan, kitalah yang bergerak. Di dua minggu ini sudah dua kali aku dan Mas Pram bolak-balik ke sana. Hal ini menyita perhatian dan waktuku, beberapa hari belakangan aku sering pulang malem banget, dan harus tetap dateng paginya untuk internal meeting.

Rasanya sedih banget kalau kesibukan kerjaan menjauhkan aku dari keempat sahabatku ini, kadang saat kita chat di Line group aku suka nangis sendiri. Aku sangat beruntung punya mereka, kejadian di Malaysia selalu aku syukuri. Padahal waktu itu aku baru 1 bulan gabung di kantor ini, di kantor aku sebelumnya, cuma karyawan yang sudah melewati waktu kerja satu tahun yang boleh ikut End Year Meeting. Bisa dibilang mereka itu keluarga terdekatku, tempat aku curhat dan dapat perhatian. Tidak jarang aku nginep di rumah Andri dan Tika kalau lagi males sendirian. Sebetulnya aku suka gak enak sama Mas Lukman kalau sering-sering dateng ke rumahnya, takut mengganggu, tapi Tika selalu membuka pintu buat aku kapanpun. Bimo dan Efa gak kalah perhatiannya sama aku, mereka selalu datang bawa makanan kalau sedang lembur atau sedang sakit di apartemen. Tiga hari lalu aja Bimo nemenin lembur di kantor sampai jam 3 pagi, dia khawatir aku pulang sendirian, apalagi kejahatan agak mengerikan belakangan ini. Kebaikan mereka semua sering bikin aku terharu.

Jam di dinding menunjuk ke angka 2, Mas Pram sedari tadi berkutat dengan data di meja-nya. Sudah 4 jam ini aku dengar playlist lagunya mengulang-ulang, lagu-lagu yang sama kalaupun aku mendengar radio. Jam 12 tadi dia ngajak aku makan siang, tapi merubah rencanya supaya kerjaan cepat selesai dan lebih cepat pulang, aku setuju saja. Aku harus berbohong sama sahabat-sahabatku di Line Group yang mengingatkan soal makan siang. Tumpukan berkas sudah mulai menyurut, aku harus semangat, supaya cepat selesai terus langsung jalan ke rumah Efa “come on Mit, you can do it!“.

Di perkantoran seperti ini, saat lembur adalah waktu paling menyiksa, dengan alasan penghematan, kantor mematikan central AC, terlalu mahal untuk menyalakan AC dengan kapasitas 40 orang hanya untuk membuat nyaman 2 orang. Tapi kami punya kipas angin sendiri, yang bisa dipakai di saat-saat seperti ini, kipas yang tidak bisa meniup kesumpekkan udara kantor yang tertutup. Suhu jadi cukup hangat, untungnya hari Minggu gini aku bisa pakai baju casual, cukup kaos dan celana denim saja.

Pelan-pelan aku merasakan cuaca mendingin “ada yang salah dengan badanku”, teh manis hangat mungkin bisa membantu, terima kasih untuk dispenser di pojok ruangan. Kembali memandangi monitor, runtutan huruf yang kadang jadi enggak bermakna, otakku tidak bisa memprosesnya menjadi kata atau kalimat, aku tersedot ke masa lalu. “Cintaku, sini sayang, jangan lari telalu jauh!” teriakan wanita cantik dari bawah pohon, itulah ibuku, aku berlarian mengejar mas Bagus, umurnya 12 tahun waktu itu. Punya dua anak yang bahagia adalah keindahan buat kedua orang tuaku. Kami berempat sering bermain di taman ini, tidak jauh dari rumahku di Surabaya. Aku ingat selalu nimbrung saat kakakku bermain bola dengan Papa, Papa yang hampir aku lupa wajahnya. Umur 11 tahun aku harus merasakan kepedihan, saat Mama memergoki Papa berselingkuh dengan teman kerjanya, perselingkuhan yang berakhir dengan rusaknya rumah tangga mereka. Papa memilih pergi ke Palangkaraya bersama kekasihnya dan tinggal di sana. Semenjak itu, tahun 2001 aku kehilangan sosok Papaku, karena Mama sengaja menjauhkan kami berdua dari dia. Kemudian Mama memilih tidak menikah lagi, mungkin perasaan kecewanya terlalu mendalam. Lima tahun kemudian, Mama pergi selamanya karena serangan jantung, penyakit jantung karena tidak tahan dengan kebengalan kakakku – setidaknya itu yang Mas Bagus percaya. Dia terlibat peredaran narkoba di lingkungan kampusnya, ditangkap Polisi dan dipaksa drop out tahun itu juga. Kehidupanku berada pada titik nadir, aku kehilangan semuanya. Aku terpaksa tinggal bersama Pakde di Medan, seorang pengacara kelas menengah. Keluarganya sangat baik, tipe keluarga idaman semua orang. Beliau sangat mementingkan pendidikan untuk semua anak-anaknya termasuk aku. Setahun kemudian aku dikuliahkan di Universitas Islam Sumatera Utara, Fakultas Hukum. Di tahun itu juga, pakde berhasil membebaskan Mas Bagus dari tahanan dengan bantuan koleganya dan kemudian membantunya membuat usaha, berjualan alat tulis.  Sekarang, ketika aku berhasil bekerja di kantor ini, di Jakarta, kakakku sudah cukup sukses jadi pengusaha alat perkantoran di kota Kupang, menikah dengan Kak Irianti orang Kupang kelahiran Jawa dan sudah punya 3 orang anak yang lucu, semuanya perempuan.

Aku terhenyak, dikagetkan dering henponku yang akhirnya terjatuh ke lantai, kepalaku terantuk meja saat refleks mencoba menangkapnya. Terlalu lambat, ya aku memang lambat, bukan tipe suka berolah raga dengan gerakan lincah. Kadang aku suka bingung sendiri, badanku kadang susah dikontrol, sering menyenggol gelas, menjatuhkan barang, baju nyangkut di gagang pintu. “Kamu baik-baik saja?” tanya mas Pram dari kursinya yang berada di deretan depanku menghadap kaca besar, “iya mas, fine” jawabku pendek. Telepon dari Tika, ” Hey Mitmit, ada apa?, ga liat notif? masih belum selesai? Kapan ke sini?” Tanyanya berentet. “Udah nanya-nya?, banyak amat, sorryyy say, aku ketiduran, ngantuk banget nih Tiktok, setengah jam lagi kelar” jawabku. “Cepetan sini!, makanan sudah mau abis!” Perintahnya, “iya … iya …” jawabku, sambil menarik keyboard, meneruskan input berkas. “Bentar, ini Efa mau ngomong” Tika menyerahkan henponnya “Mit, kenapa? Jadi ke sini kan?” Lanjut Efa. “Gapapa, cuma ketiduran, jadi dong Fa, sejam lagi aku jalan, mau titip apa?” Tanyaku. “Kurang tidur sih tuh, titip apa ya? Ga usah deh … eh curros saja deh kalo ada” jawabnya. “Okay Efa … daah” aku menutup pembicaraan, sebelum sempet mencet tombol virtual menutup telepon, suara di ujung sana berteriak “Mitmit cepetan yaaaa … dadaah” itulah Tika. Segera aku cek notifikasi, ampuun ada 86, pantesan mereka khawatir. Tanpa sempat aku buka Line group dengan 86 new message itu, aku langsung kebut, semoga setengah jam selesai harapku.

Jam 15.10 berkas terakhir berhasil aku selesaikan, segera pamit ke Mas Pram dan pesan Bluebird via aplikasi. Berjalan menuju lobby kantor, entah kenapa, badanku terasa lemas sekali, lapar juga mulai merayap, makanan berkuah boleh juga pikirku. Sambil menunggu taksi datang kubuka Line Group yang sekarang notif-nya sudah 124 buah, scroll ke awal sambil membaca sekilas ketinggalan apa saja aku. Ada foto-foto sahabatku & keluarga groufie selama acara, orang tua Billa juga hadir -Mamanya Efa tidak bisa hadir karena terlalu jauh dari Palembang-, ada foto para tamu undangan yang kebanyakan tetangga, bahasan soal Bimo ngincer manager katering, kata Andri namanya Rima, cantik, fotonya diupload sama Tika, sayang sudah punya suami, tapi Bimo gak peduli, “Dasar Bimo, ga bisa liat yang bening nganggur, pasti disamber”. Taksi datang, aku langsung pamit ke Pak Nurdin, security yang piket hari ini.

Langsung aku ketik message di group:

Aku: |Genk, aku otw ya, pakai BlueBird BB1805|

Ada kesepakatan tidak tertulis diantara kita untuk ngasi tahu nomor body taksi kalau jalan sendirian, terutama aku, Tika & Andri.

Andri: |Akhirnyaaa …. say titidj ya, jangan tidur|

Cemen: |Mitong, lama amat! Bilang ke abangnya kebut!|

Tiktok: |ah telat, udah bubaran aja baru jalan|

Tiktok: |ati2 ya mitmit|

Aku: |iya .. iya|

Efa: |Mit, lewat TOL ja biar cpt. Ntar kecengan Bimo kburu pergi, mbak2 katering yg nyuci piring|

Cemen: |haha kamprettt, yg cantik dong bagian gue|

Aku: |dah punya suami kan?|

Cemen: |Gak ngaruh!, ini dah dapet pin bb-nya|

Tiktok: |huh sama aja, gatel!|

Cemen: |kikiki, garuk dong say|

Tiktok: |pakai garpu!|

Mereka gak pernah bikin aku berhenti bahagia, obrolan di group terus berlanjut, biar aku gak ketiduran, hal yang juga dilarang di taksi saat sendirian.

Dua jam kemudian aku sampai juga di depan rumah Efa, tadi berhenti sebentar buat makan siang yang kesorean dan beli oleh-oleh buat Efa. Rumah ini sudah rapi, terakhir kali kita ke sini tiga bulan lalu sebelum pernikahan Efa, waktu itu temboknya masih bata, atap baru terpasang dua pertiganya. Pagar terbuka lebar, sandal dan sepatu yang bergeletakan tinggal sedikit, tamu sudah pada pulang, ini jam 17.23.

“Assalamualaikum” seruku sambil masuk ke ruang tamu, suara gaduh orang-orang di halaman belakang mana bisa dengar salamku. “Waalaikumsalam, eh nak Mita sudah sampai” suara halus wanita 50 tahunan menyambutku, dia adalah Mertua Efa, Mamanya Billa, kami berdua cipika-cipiki “Iya tante, maaf aku baru dateng, kerjaan kantor lagi numpuk” aku membuat alasan. “Iya, Faqih juga bilang, tapi kamu sehat kan?” Tanyanya, “Alhamdulillah sehat, agak ngantuk aja, kurang tidur” jawabku, “habis kelihatannya pucat” lanjutnya. “masa sih? Enggak ah” kataku mengelak “pada di belakang ya Tan?”, “Iya itu lagi pada makan rujak” jawabnya, “wah asik” kataku sambil ngeloyor ke belakang.

“Hi semuaaaa” teriakku, mengganggu semua pembicaraan. “Hoy Mitong, nyampe juga akhirnya” Bimo sumringah, sambil terus mengunyah rujaknya, mukanya merah, pasti kepedesan dia. Sontak teman-teman menyambutku, tidak lupa aku mengucapkan selamat untuk Efa dan BIlla untuk rumah barunya. “Ini pesenannya, curros versi Indonesia tapinya” aku menyerahkan bungkusan hitam ke tangan Efa, “yyah cakwe” jawabnya heran, “abis susah nyarinya” jawabku cengengesan. “Ya udahlah, guys ini hajar!” Efa menyeru semua yang segera menyerbunya.

Sore menjelang magrib itu, banyak sekali yang kami bicarakan dari soal rumah baru, kelakuan Cemen, Konser One Direction Maret nanti, Motor Bimo & Mas Lukman bahkan politik. Sampai tiba-tiba aku merasa semuanya berputar-putar, semakin kabur, gelap dan tak sadarkan diri.

Ketika terbangun, lemas sekali kubuka mata, melihat sekeliling, aku berada di ruangan yang tidak asing lagi tapi yang paling kubenci, Rumah Sakit. Tanganku dipasang jarum infus, hidung seperti ditusuk-tusuk angin kencang dari selang oksigen. Di ranjang sebelah sesosok perempuan membelakangiku memainkan ponsel-nya, Tika, yang seketika menoleh ke arahku mendengar aku menggerakkan kaki dengan sangat berat, lemas. “Hey, Mit, elo udah sadar” dia tersenyum sambil mendekat. Aku hanya bisa mengangguk perlahan, semuanya berat, dengan perlahan aku menutup mata, menahan silau lampu TL di atasku. Segera aku rasakan gosokan halus di punggung tangan kiriku, sentuhan yang hangat, “Oh Mama…” kerinduanku membuncah di saat seperti ini.

bersambung

 

Lima Sekantor: Prakata

Lima Sekantor: Bagian 1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s