Jalanan Yang Merubah Wajah

Beberapa tahun yang lalu pernah diputar sebuah cerita pendek kartun animasi yang menarik dari Disney di televisi, bukan cerita dari tokoh yang terkenal seperti Mickey, Donald, Goofy dan kawan-kawan berbuat kekonyolan. Sebuah cerita yang sangat bermakna, menyindir kehidupan kota besar, sehingga selalu menempel di kepala. Kisah seorang bapak yang penuh kehangatan, baik, penyayang, tipe ideal kepala keluarga harmonis, dia berangkat ke kampus/sekolah dengan mengendarai mobil, dan seketika berubah perangai ketika berada di jalanan yang semrawut, menjadi pemarah, berteriak-teriak kepada pengendara lain, egois dan tidak mau kalah. Tapi kemudian berubah lagi menjadi serorang pengajar yang baik dan sopan ketika berada di depan murid-muridnya. Kisah yang sangat akrab dengan kehidupan kita yang berada di kota besar, saya sendiri kadang malu dikala mengingat betapa berubahnya wajah kita di jalanan. Saya tipe orang yang tidak mau kalah ketika berurusan dengan pengendara yang melanggar, dan tentu sasaran paling lumrah adalah pengemudi angkutan umum yang memang sembrono, egois dan kadang bisa mencelakakan orang lain, tapi tidak jarang juga pengemudi kendaraan pribadi melakukan hal yang sama. Ketika dalam mood yang baik, saya selalu mengingatkan diri sendiri untuk mengalah dan bersabar dan menjauhi masalah.

Kita tidak pernah tahu berhadapan dengan siapa ketika berada di jalanan, jangan-jangan orang yang kita bentak adalah tetangga, saudara bahkan klien. Bisa saja kita bersitegang dengan orang yang minggu lalu bersalaman di Masjid saat sholat Jumat, atau orang tua dari teman anak kita.

Empat tahun lalu, ketika saya masih mengontrak di salah satu rumah keluarga Betawi, saya pernah bersitegang dengan sopir angkutan umum di jalanan, dia menghalangi jalan saya menuju jalan raya dari sebuah belokan, kami sempat sedikit adu mulut sampai akhirnya dia pergi. Dan ternyata sopir tersebut adalah tetangga di lingkungan rumah, mengontrak rumah petak di keluarga Betawi lainnya. Rasanya jadi canggung setiap berpapasan dengan dia.

Jalanan di Jakarta memang bagai neraka, terutama bagi yang tidak biasa. Di sini hukum rimba berlaku, yang punya nyali lebih besar jadi pemenang. Jalanan yang penuh ketidakpastian, inilah yang mengakibatkan pengemudi tidak punya rasa aman, bisa sampai di tujuan tepat waktu. Akibatnya selalu merasa terlambat atau akan terlambat.

Tapi jalanan juga yang melatih kita jadi penyabar tanpa batas, belajar untuk mengerti, positive thinking dan tidak gampang menggerutu. A happy driver. Kalau kita berhasil menjadi happy driver, maka kita bisa jadi happy worker di kota yang ganas ini.

 

sumber foto: mfa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s