Menunggu Papa Minta Maaf

Kasus “Papa Minta Saham” yang semakin hari semakin heboh diduga tidak akan cepat berakhir gaungnya. Sidang MKD jadi drama tontonan dengan sharing rating tinggi, dimana pengiklan berlomba mengambil perjudian. Dibukanya rekaman pembicaraan ke publik, menambah keterkejutan masyarakat akan sepak terjang petinggi negara ini, mata kita terbuka lebar, terbelalak sejadi-jadinya. 

Kegaduhan Politik, kalimat yang mungkin baru akrab di telinga akhir-akhir ini. Betapa akhirnya kita tahu, guncangan besar dalam skala besar di lingkungan elit yang sempit dan ekslusif memberi efek besar bagi masyarakat. Rupiah langsung tertekan, entah karena pengaruh ekonomi global, entah karena sentimen pengusaha mengingat salah satu pengusaha terkait kasus tersebut, entah ketakutan pelaku pasar dengan kestabilan negara. Beberapa yakin kegaduhan ini tidak perlu terjadi, mengganggu ketenangan politik yang berpotensi mengganggu kehidupan bernegara. Beberapa yakin kegaduhan ini perlu, untuk membersihkan negara yang sudah terlanjur carut marut, pahit di awal tapi manis di akhir.

Mungkin kasus ini akan biasa kalau hanya menyangkut divestasi perusahan biasa dan ecek-ecek, tapi ini luar biasa karena menyangkut sebuah perusahaan raksasa. Terlebih berhubungan dengan negara adi kuasa dan menjadi sorotan dunia. Gosip-gosip bawah tanah menyebutkan beberapa nama secara pribadi menikmati cipratan dollar kemilau emas dari jaman Presiden Soeharto sampai SBY, yah namanya gosip, susah dibuktikan. Tapi kasus “Papa Minta Saham” ini cukup mengejutkan, dimana kalau benar-benar kejadian, mungkin Ketua Dewan yang Terhormat ini menjadi pejabat pertama yang terang-terangan secara terbuka menikmati cipratan dollar tanpa ditutup-tutupi, sehingga di masa depan tidak perlu lagi menggosip untuk tahu. Saya sendiri sempat bingung, akan seperti apa mekanisme-nya saham PT. Freeport Indonesia akan jatuh ke tangan perorangan dalam proses divestasinya, mungkin saya terlalu naif dan bodoh dibanding para pengusaha dan penguasa licin tersebut.

Yang saya tunggu dari kemarin adalah “Papa Minta Maaf”, sang Papa minta maaf kepada kita seluruh Rakyat Indonesia atas kekhilafannya (berikut orang-orang yang terkait) karena telah bertindak di luar hak dan wewenangnya, memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi atau golongan dan membuat kegaduhan, untuk kemudian menggantung palu – mengundurkan diri, kembali jadi pengusaha. Tapi apa daya, mental seperti itu belum milik kita, masih milik bangsa lain. Dimakan gengsi, akibat lapar kekuasaan dan kekayaan.

Pada akhirnya kita harus menerima bahwa akan sia-sia menunggu permohonan maaf dari Papa Minta Saham dan Mama Minta Pulsa. Kita, Anak-Anak Minta Keadilan yang bergejolak. Keluarga yang aneh!.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s