Iri Dengan Musisi ? Coba Dipikir Lagi

Buat kita yang merasa terkungkung dalam rutinitas harian untuk memenuhi kebutuhan hidup, rasa iri terhadap kehidupan para musisi kadang hinggap. Betapa enaknya jadi mereka, jadwal harian longgar dan fleksibel, bisa banyak berinteraksi dengan keluarga dan sahabat, quality time dengan quantity yang cukup. Tapi tunggu dulu, kalau anda memang berfikiran demikian berarti anda salah.

Rutinitas umum kita para pekerja dimulai pagi hari, bahkan untuk pekerja di kota besar bahkan harus memulai sangat pagi sekali. Kemudian berangkat kerja dengan berbagai kendaraan dan dengan jarak yang berbeda, saya yakin beberapa dari kita harus menempuh jarak luar biasa sampai tempat kerja. Kemudian bekerja baik di belakang meja maupun di lapangan sampai sore atau malam hari, dilanjutkan dengan perjalanan kembali ke rumah. Istirahat dengan waktu yang mungkin selalu kurang cukup.

Tapi ternyata para musisi juga punya rutinitas, walau dalam skala waktu yang lebih lebar. Baik mereka yang bernaung di major label maupun independen. Rutinitas mereka akan mulai dari Mengumpulkan materi rekaman-rekaman-peluncuran album-promosi-konser promosi album-gigs-mengumpulkan materi rekaman, begitu seterusnya. Secara detail mungkn aktivitasnya semakin beragam, tapi polanya kurang lebih sama. Lebih-lebih mereka yang punya kontrak dengan label dengan deadline, misalnya 4 album dalam 15 tahun. Tekanan tentu jadi makanan sehari-hari bagi mereka, hal yang akrab dengan kita pula.

Rutinitas ini juga mendatangkan kejenuhan, itulah mengapa banyak musisi yang memiliki proyek sampingan. Pelarian sementara dari “kewajiban” yang diemban. Tidak jarang tekanan tersebut dirasa lebih berat oleh beberapa orang dibanding orang lain. Musisi yang tergabung dalam band sering berakhir dengan pergantian personil atau malah membubarkan diri, dengan alasan sudah tidak ada kecocokan atau perbedaan visi. Mempertahankan konsistensi dalam rentang waktu yang panjang bukan hal yang mudah sama sekali.

Berapa banyak band yang tetap eksis dalam waktu panjang, aktif berkarya tanpa perubahan personil?, saya rasa sangat jarang. Perubahan industri musik dan pasar terus terjadi sepanjang waktu, mereka yang tidak bisa beradaptasi akan sulit bertahan.

Saya pernah membayangkan dalam posisi mereka, kejenuhan dan kebosanan apa yang mungkin muncul. Bertemu secara intens dengan orang yang itu-itu saja selama bertahun-tahun, dan melakukan pengulangan proses yang sama dengan mereka. Bahkan beberapa musisi bisa sangat merasa bosan bahkan benci memainkan lagu yang sama berjuta-juta kali. Lagu ikonik seperti pisau bermata dua, menghasilkan royalti yang tinggi tapi juga menumbuhkan kebencian. Ada beberapa musisi yang terang-terangan menyampaikan kebencian ini, seperti Led Zeppelin terhadap lagu “Stairway to Heaven”, Radiohead “Creep”, Sinead O’Connor “Nothing Compares”dan saya yakin masih banyak yang lainnya.

Dalam tahap tertentu, musisi sepenuhnya jadi milik para fans, kehidupan pribadinya jadi prioritas nomor dua. Kadang mereka harus kehilangan banyak momen dengan keluarganya, bahkan kehilangan kebersamaan dalam tumbuh kembang anaknya. Beberapa musisi punya masalah hubungan dengan orang-orang terdekatnya.

Jadi, profesi apapun punya tantangan kalau kita mau menganalisa lebih cermat. Yang bijak, jadi apapun, pekerja, musisi, seniman atau pengusaha, yang terpenting adalah bagaimana mempertahankan konsistensi dalam rutinitas, sehingga tidak punya waktu buat iri terhadap profesi lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s