Perjalanan 50ribu

Halo, saya ARQ729341, selembar uang Rp. 50.000,- dan ini kisah perjalanan saya

Hari ini hari keberuntunganku, akhirnya keluar juga dari antrian di mesin ATM ini bersama 5 teman yang lain. Sekarang aku berada dalam dompet seorang perempuan bernama Kirana, dompet yang wangi, berwarna hijau muda. Setelah menunggu berhari-hari dalam kegelapan, dan bertumpukan, akhirnya aku bisa melihat cahaya. Dari beberapa uang 10ribu, 20ribu dan 5ribu yang sudah lebih dulu berkelana, kami menemukan cerita memukau perjalanan mereka ke tangan-tangan tidak diduga. Mereka berbadan lebih kucel, menggambarkan pengalaman panjang, guratan-guratan tak teratur membuat mereka lebih terlihat matang dan gagah. Aku akan berada di dompet ini entah sampai kapan, tapi setidaknya tetap akan lebih baik dari perjalananku dari Peruri ke BI dan selanjutnya ke mesin ATM mini market tadi.

Sore jam 6, Kirana menyerahkan aku dan beberapa teman kepada seorang sopir taksi bernama Fuad Wildan yang mengembalikan beberapa lembar dua ribuan. Fuad menyimpan kami dalam dompet kulit berwarna coklat yang lusuh, menyimpatnya di saku pantat … oh baru tahu rasanya. Dari beberapa teman 10ribuan kami tahu, sopir taksi sering sekali buang air kecil sembarangan, di pinggir jalan, batang pohon atau selokan, beberapa sadar dengan mencuci tangan memakai jatah air minumnya, tapi beberapa ya tahu sendirilah … kadang meninggalkan bau pesing di badan mereka. Di dalam taksi, suhunya berubah-rubah, tiba-tiba dingin saat ada penumpang, tapi umumnya panas dan sumpek.

Setengah jam kemudian, aku sudah berpindah tangan di sebuah pos pintu jalan tol dalam kota di Tebet tempat seorang petugas laki-laki bernama Sofyan bertugas. Kami disimpan dalam sebuah kabinet dengan rapi, beda nominal berarti beda ruang. Pertukaran di sini sangat cepat, setiap sekitar 10 detik, teman-teman datang dan pergi. Di sini pula pertama kali aku berkenalan dengan uang koin dan mereka memang berisik. Beberapa dari mereka punya pengalaman unik, nyemplung di got, masuk ke mulut anak kecil bahkan ada yang sampai selama 8 bulan berada dalam celengan babi, eh … celeng memang babi.

Jam 3 pagi keesokannya aku berpindah tangan kepada seorang laki-laki bertubuh gempal, mengendarai mobil Jepang keluaran tahun kemarin, dari pembicaraan dengan teman-temannya aku tahu dia bernama Rio. Dia dan dua temannya, Ferdy dan Riani menuju ke bandara Soekarno Hatta, mengejar first flight ke kota Malang. Satu jam aku ada di atas dashboard, kedinginan bersama beberapa lembar 10ribuan dan struk tol tadi. Sekarang kami tiba di bandara, Rio memarkir mobilnya di tempat parkir menginap, mereka akan berada di Malang selama tiga hari. Sebelum turun, Rio sempat menyambar aku, memasukkan ke saku kemeja-nya, kasihan teman-temanku ditinggal dalam mobilnya, mereka kehilangan kesempatan bertualang di kota lain selain Jakarta, “akan ada waktunya teman!” gumamku. Tapi jangan dulu gembira, kadang kegembiraan kami harus tertunda akibat kami dibelanjakan di toko sekitar bandara. Bahkan setahun yang lalu banyak teman-teman yang akhirnya batal terbang karena dibayarkan Airport Tax, berakhir kembali di bank. Tapi kali ini aku beruntung, aku sudah berada dalam kabin pesawat setelah menunggu sekitar satu jam. Terbang merupakan pengalaman tidak terlupakan, aku berada di ketinggian ribuan kaki di atas awan. Butuh hampir 1 jam 30 menit untuk sampai ke bandara Abdul Rachman Saleh Malang, sebuah bandara kecil yang sebetulnya milik TNI Angkatan Udara. Aku berdoa semoga tidak diserahkan kepada porter pembawa tas di bandara ini. Rupanya aku beruntung, Rio hampir lupa menyimpan aku di saku kemejanya, dari tadi dia mengeluarkan uang lain dari dompetnya yang disimpan di sebuah tas selendang kecil. Mereka semua dijemput mobil menuju hotel Santika, tempat mereka akan menginap dua malam.

Pagi itu Rio menukarkan aku dengan pecahan 10ribuan kepada Ferdy yang segera menyerahkanku sebagai tips kepada bellboy bernama Kadarisman. Menurut teman-teman pecahan 20ribu di sakunya, jarang juga pengunjung yang memberi tips 50ribuan. Sore harinya Risman membayar hutang pinjaman sebesar 300ribu kepada kakaknya yang bernama Rusmiyati, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di pinggiran sungai Brantas. Semalaman aku berada di bawah bantal Ibu Rusmiyati, sampai akhirnya besok paginya dibayarkan kepada tukang sayur keliling. Pekerjaan tukang sayur keliling cukup berat belakangan ini, mereka harus bersaing ketat dengan supermarket yang semakin menjamur. Tapi Mas Bandi, optimis karena mereka punya senjata andalan, apalagi buat masyarakat di lingkungan kumuh seperti ini, yaitu bisa dihutang. Siang hari yang terik Mas Bandi mampir di sebuah warung Soto Lamongan untuk beristirahat makan siang, buat tukang sayur, berpacu dengan waktu itu keharusan, karena semakin siang sayurannya akan semakin layu. Aku dibayarkan kepada penjual soto, yang kemudian secara cepat berpindah tangan kepada seorang laki-laki bernama Setyono, seorang teknisi servis komputer. Dia sebetulnya tinggal di Surabaya, kebetulan saja hari ini dia dapat panggilan dari langanannya di kota ini. Jadi perjalananku selanjutnya adalah berada dalam dompet Setyono selama 3 jam menuju kota Surabaya.

Sore jam 5 kami sudah sampai di kota Pahlawan ini, agak mengingatkanku lagi dengan kota Jakarta. Setyono langsung menuju sebuah hotel melati, di mana dia janji bertemu dengan seorang perempuan namanya Bebi, wanita cantik dan wangi. Malam yang masih terang itu mereka bercumbu dan memuaskan hasrat dan segera aku tahu kalau Bebi ternyata seorang penjaja diri, setelah aku dan beberapa lembar 100ribuan diserahkan kepadanya dari tangan Setyono sebagai bayaran. Malam harinya aku sudah berpindah tangan kepada seorang mucikari yang tak jelas namanya, yang jelas Bebi memanggilnya Pakde. Pakde merapikan lembar-demi lembar uang dan memasukan kami ke beberapa amplop. Besok paginya amplop-amplop itu diserahkan ke beberapa orang berbeda. Amplop di mana aku berada diserahkan kepada seorang oknum aparat, seseorang yang menjadi pelindung Pakde.

Malam harinya, sang aparat menyerahkanku bersama beberapa lembar 50ribuan lain kepada istrinya. Dia berani menafkahi keluarganya dengan “uang haram”, ya semenjak tadi malam, statusku berubah menjadi uang haram. Istrinya yang mungkin tidak tahu statusku, membelanjakanku untuk membeli pulsa elektrik telepon selular keesokan paginya. Semenjak itu statusku kembali berubah menjadi uang halal, bisnis pulsa telepon masih cukup laris walau sekarang sudah banyak kemudahan mengisi pulsa via ATM atau online. Sang penjual pulsa bernama Qomar membawaku ke Masjid Baiturrahman, dimana dia beribadah sholat jumat dan memasukkanku ke dalam kencleng yang terbuat dari kayu jati yang mulai lusuh. Di sini aku banyak bertemu dengan uang 2ribuan dan koin, memang uang 50ribu apalagi 100ribu termasuk minoritas. Seperti biasanya setelah ibadah selesai, para relawan DKM mengngumpulkan kami, membereskan dan menghitung, sebagai bahan laporan keuangan kepada para jamaah di minggu depan. Aku segera dibawa ke sebuah toko material milik Koh Aceng, rupanya masjid sedang dalam perbaikan, sehingga aku dan beberapa teman dibelanjakan semen dan pasir. Koh Aceng selalu memberi diskon yang banyak kalau untuk keperluan pembangunan rumah ibadah.

Agak lama juga aku terdampar di mesin kasir Koh Aceng, ini hari ketiga sampai aku diserahkan sebagai kembalian kepada seorang office boy sebuah kantor Dinas Pemerintahan, dia diperintah membeli paralon untuk perbaikan saluran air yang sudah setengah bulan rusak. Di sini aku dirapihkan dan diikat dalam sebuah gepokan bernilai satu juta. Malamnya seorang pegawai menyerahkan kami dalam sebuah amplop coklat kepada seorang pengacara. Besok harinya tumpukan uang dimasukkan ke dalam sebuah kardus bekas rokok kretek dan disimpan dalam bagasi sebuah mobil sedan mewah keluaran Jerman. Kami di bawa ke sebuah pusat perbelanjaan di mana mobil terparkir di basement 2, selang beberapa menit menunggu, datanglah sebuah mobil lain mendekat, kardus itu dipindahkan ke bagasi mobil tersebut. Tapi seketika kegaduhan terdengar, beberapa orang berhamburan mendekat. Rupanya mereka adalah para penyidik KPK yang mengintai pergerakan pengacara ini. Dia ditangkap tangan ketika hendak menyerahkan kami kepada sorang Hakim pengadilan negeri. Beberapa jam kami berada di sini, tak tahu proses apa yang dilakukan, sampai akhirnya dibawa pergi dalam sebuah mobil. Keesokan harinya kami semua dibawa dalam sebuah kontainer yang terkunci sangat rapat, dibawa terbang ke Jakarta menuju kantor KPK di Jalan Kuningan. Perjalananku yang cukup pendek harus segera terhenti, karena semenjak itu menjadi barang bukti kasus penyuapan. Entah berapa lama aku harus terikat bersama teman-teman lain dalam lemari penyimpan ini, dan kembali berubah status menjadi uang haram.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s