Di Bawah Nol Derajat

Aksa menggerakkan kaki-nya yang terasa makin kaku, berlari menapakkan sepatu boot ke pijakan yang tak terlihat. Hembusan nafas tersengal mengembun menghangatkan wajahnya, silih beganti dengan dingin angin yang tak biasa. Gigi gemeretuk tak bisa ditahan, lidahnya ditekan ke langit-langit agar tak tergigit. Baju tebal berlapis-lapis membuat badannya berat, tapi itu yang membuatnya hangat. Deru angin dari arah belakang mendorong tubuhnya tehuyung ke depan, otot kakinya harus bekerja keras melawan licin jalanan. Angin meniupkan partikel salju deras, kadang menampar muka, menimbulkan bunyi tumbukan pada permukaan pagar dan apapun yang diterjangnya. Mungkin ini hal biasa di muka bumi lain, tapi ini Jakarta, dia tak pernah siap untuk situasi ini, seperti juga ratusan jutaan manusia lain di Nusantara. 

Deru angin bersahutan, desis dan siulan, melewati celah-celah kecil yang terbentuk oleh tumpukan beton-beton angkuh fly over di Jalan Antasari. Teriakan-teriakan melengking udara mengingatkan ceret masak air di markasnya di Cipete. Aksa terus berlari, berpacu dengan benda-benda terbang terhempas, dia sadar satu potongan seng atau benda bersudut tajam lain bisa melukainya. Jaket tebal oranye-nya kadang terlihat, kadang tersilap putih salju tertiup angin. Bertahun-tahun dia bergelut dengan ganasnya api, menaklukkan panas, melabrak bara, menghirup karbondioksida. Dia terlatih, dekat dan akrab dengan panasnya yang membakar, seperti matador dan banteng, seperti pawang dan ular kobra. Api yang berkali-kali dia taklukkan, api yang sama yang merenggut kawan-kawannya. Dua tahun sudah kiri wajahnya terbakar, menjejak luka, menyisakan kebas membuatnya tak berindera. Hari ini wajah kanannya merasakan pedih yang sama, tajam menusuk kulit dan daging, bukan … bukan panas, tapi dingin yang membakar.

Deru semakin kencang, benda terhempas semakin besar, Aksa mencari ujung jembatan yang semakin tak terlihat, tempat dia bisa berlindung di balik tembok penyangga yang lebar, tak percaya dengan kekuatan pagar juga rumah yang berderet di sisi kirinya. Dorongan angin di punggungnya semakin menekan, membuatnya berlari kian kencang, satu hempasan membuatnya melayang. Sebuah tangan kokoh menariknya ke samping, badannya menjejak dasar dengan keras dan berguling. Tak sempat melihat siapa sosok itu, deru kencang angin dan butir-butir butih menderu bagai air bah menerjang, dia menelungkup menutupi wajahnya. Hampir lima menit dia merasakan desakan dahsyat, hingga badannya bergeser beberapa puluh centimeter. Lima menit yang terasa sangat lama, menakutkan, dingin dan mencekam, dia hanya ingin memejamkan mata, bersembunyi, seperti dulu, di balik ketiak ibunya yang hangat dalam gendongan.

Badai salju sudah reda, seketika dunia sunyi tanpa suara, bagai kematian, kubur yang gelap dan dingin, membawa keraguan “apa aku masih hidup?” tanya Aksa dalam relungnya. Menunggu sejenak, berharap tak datang malaikat menanyainya, berusaha keras mengingat ajaran guru di surau dulu kelak ajal menjemput. Sunyi berganti degup jantung dan gemuruh nafas memburu, sisa pergulatan tadi, “ah aku masih hidup”. Jeritan tangis anak-anak terdengar sayup, manusia-manusia merintih kaku. Aksa mendorong tumpukan salju di punggunya, menekan lantai paving block tuk mengangkat badannya. Paru-parunya mengemis udara, menyanyikan pengap meminta segar, mengharap oksigen lebih banyak untuk mengalirkan darah yang mulai beku.

Sekelilingnya putih menguasai, menutup apa yang dikehendaki, membuat bukit-bukit indah, ya sesungguhnya indah, lukisan angin dan tumbukkan, ada kerja fisika di sini. Kepala-kepala bemunculan, membawa panik dan lega bersamaan, sesaat kosong, kemudian sadar, menggali, mencari wajah lain untuk tersenyum. “Hoy, kau baik-baik saja?” teriakan dari arah belakang Aksa, membuatnya menoleh, “ah rupanya lo Binsar, makasih bro” sadar dia penolongnya, Binsar hanya mengangguk kecil sambil mengacungkan jempol di balik sarung tangan tebal. Binsar segera menggali, menyingkirkan salju, mencari nafas lain dalam tumpukan. Kegaduhan segera terjadi, jeritan anak histeris disahut para wanita menangis, memeluk buah hati, para lelaki memanggil kekasih hatinya. Menggali dengan tangan telanjang, memerah, mengelupas kulit tipis, kadang melukai pangkal kuku. Aksa tahu, tangan-tangan itu akan segera mati beku dan harus diamputasi, tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk melarang. Dia cukup beruntung memakai sarung tangan anti api yang tebal, memudahkan menggali dan menyingkap salju membuka ruang. Beberapa personel TNI dari kesatuan Marinir dengan sigap memakai sekop, menyingkirkan tumpukan salju ke arah jalan. Kolong jembatan fly over ini harus segera kembali bersih, jadi ruang berlindung mereka yang terjebak. Cukup luas untuk menampung sekitar tujuh puluh manusia yang berdesak-desakan, berhimpit, saling mendekap, merindukan kehangatan. Tong-tong sampah besi yang sedari malam tadi digunakan untuk membakar apapun supaya api menyala dan membawa kehangatan kini padam. Jok motor, helm, tas, kayu, kursi mobil dan kardus jadi bahan bakarnya kini mulai menipis, menjemput petaka di depan. Beberapa pemuda mulai membuang salju dari tong dan membuat api kembali, menghangatkan puluhan orang kedinginan, baju basah menyatu dengan kulit tertiup angin dingin menggigit. Badai tadi membuat 8 orang mati karena hipotermia, mati bukan lagi sesuatu yang mahal. Sejak tadi malam Aksa menyaksikan ratusan orang harus tewas akibat ketidaktahuan, bagaimana kita bisa belajar dari pengalaman kalau pengalaman itu tak ada?.

Tadi malam ketika salju pertama turun, jam 20, orang-orang bergembira menyambutnya, berfoto, membuat video, meneriakkan kepada dunia akan anomali ini, Indonesia yang eksotis menjadi sangat dramatis. Mungkin impian dari ratus jutaan orang tropis untuk mengecap dinginnya kristal putih yang mempesona itu, membayangkan berada di Eropa, Jepang atau Amerika. Mungkin juga impian jutaan umat Kristen, merayakan Natal dalam putih bersalju, berimajinasi Santa datang membawa kado. Dan benar saja, Natal dan Tahun Baru datang lebih awal Desember ini, mall-mall dan taman hiburan merayakannya dengan pesta kembang api, pesta salju di Jakarta!. Tapi kita tidak pernah siap menghadapinya, jam 22 mulai banyak terjadi tabrakan beruntun, salju yang menebal melepas cengkram karet roda di aspal, korban bergelimpangan. Anak jalanan dan gelandangan kedinginan, memunculkan penjarahan toko-toko dan hypermarket, demi sepotong pakaian hangat dan makanan. Jakarta chaos menginjak jam 23, saat Aksa dan kawan-kawan dipanggil komandan, bergerak membantu tim SAR, Kepolisian dan TNI mengendalikan keadaan. Ingatan kejadian 98 muncul kembali, trauma yang belum sepenuhnya hilang.

Tepat tengah malam, badai pertama datang, menyapu semua yang tak terlindungi, menerbangkan, mengangkat dan melemparnya kembali ke permukaan, mayat-mayat berserakan. Jaringan listrik mati, menggelapkan seluruh Jakarta, saluran telepon tak berfungsi, telepon selular pun demikian. Semua komunikasi terputus, bapak tak tahu kabar keluarganya, anak-anak terpisah dari orang tuanya, Aksa tak tahu kabar istri, anak dan mertuanya di Jalan Bangka. Rumah pun bukan lagi tempat yang aman, kaca-kaca terhambur benda terlempar, genteng terbang layaknya papan. Penghuni memilih berada di sini, di bawah kolong fly over, berkumpul, menghangatkan diri. Personel Marinir mengajarkan mereka membuat api dari bahan bakar apapun di sekitar, mengumpulkan makanan dan mengambil pakaian dari mayat-mayat yang bergelimpangan. Sampai pagi Aksa tak bisa lelap, mata tak kunjung terpejam, membayangkan anak lucu satu-satunya dan seluruh keluarganya. Suara-suara rintihan kesakitan dan menggigil kedinginan terdengar dari jalan di atas, tapi apa yang harus diperbuat?, evakuasi ratusan oang tak memungkinkan, tak cukup area untuk sekedar menidurkan mereka dalam kehangatan apalagi merawatnya. Tadi pagi, beberapa orang memeriksa mobil-mobil yang terparkir berantakan, menjadi perangkap bagi penumpang yang memilih tetap berada di kabin, mati lemas kekurangan oksigen.

Aksa bersandar pada tumpukan ban, yang sengaja dikumpulkan sebagai bahan bakar, di depannya Binsar duduk menerawang menghisap kepul rokok pemberian Bang Jaki, pemilik toko kelontong di pasar Cipete, 300 meter dari kolong ini. Aksa yang bukan perokok, menghisapnya demi menghangatkan tenggorokan, menurutnya personel Pemadam Kebakaran yang merokok melakukan kekonyolan. Bulir-bulir air mendidih dari kaleng biskuit hasil mencairkan salju menjadi penghangat sempurna di pagi ini, pagi yang menyembunyikan matahari. Ketenangan mereka dihentikan oleh deru kasar traktor yang menyeret salju dan benda lain di jalanan, mobil ambulance dengan roda dililit rantai tepat di belakangnya. Beberapa dokter turun, memeriksa warga yang butuh bantuan dan mengobati mimisan dan gejala hipotermia. Satu-satunya yang tak bisa mereka lakukan adalah evakuasi.

Seorang bapak berkaca mata sedari tadi memandangi bagian bawah jembatan, menilik-nilik dengan detail, memeriksa sambungan-sambungan, mencatat di bukunya sambil sesekali melap embun dari kaca matanya. Menghampiri para anggota Marinir yang segera membuat lingkaran, sesuatu yang penting segera dibicarakan. Sertu Agus memanggil anggota Korps Pemadam Kebakaran untuk bergabung. Pak Harry adalah seorang insinyur ahli dari PU spesialisasi struktur jembatan dan konstruksi jalan layang. Dia sejatinya ahli metalurgi, ikut membidani struktur jalan layang ini saat dibangun. Kekhawatirannya akan kondisi struktur besi baja menggerakannya untuk turun ke jalan di tengah dingin yang mendera. Perubahan suhu yang ekstrim dari biasanya sekitar 36 derajat ke minus 26 derajat hari ini, bisa mengakibatkan baja menjadi regas dan memungkinkan terjadi kolaps. Memang dari tadi malam terdengar suara-suara aneh, besi yang saling bergesekan, menciut karena suhu menyusut. Dia menyarankan petugas mengevakuasi warga ke tempat yang lebih aman, tanpa tahu di mana. Jalan layang bisa saja roboh dua tiga hari menjelang. Semua saling berpandangan, bagaimana memindahkan 70 orang ke tempat lain yang belum tahu di mana dalam badai salju seperti ini.

bersambung …. bagian 2

sumber foto: Tribun News

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s