Di Bawah Nol Derajat bagian 2

Tiga Marinir sukarela siap dengan bekal baju tebal, perlengkapan dalam ransel dan tekad. Latihan mereka di laut, pantai, kota dan hutan, semuanya tropis. Dua hari ini mereka bertemu muka kekuatan alam lain yang tak pernah terlintas dalam benak, salju putih yang ganas, bukan jenis yang menyenangkan laiknya yang tampil di layar kaca. Mereka adalah Sersan Dua Marinir Chalid, Desmod dan Erwan. Ketiganya akan menerjang ketidakpastian, menjejak bukit halus mencari jalan untuk evakuasi 70-an warga menuju lokasi baru yang lebih aman. Empat badai terakhir menghasilkan tumpukan salju setinggi dua kali orang dewasa di jalanan menuju selatan, mereka harus menaikinya, menjejakkan snowshoe buatan ke permukaannya yang mungkin ringkih dan bisa membuat terjerembab tenggelam. Ketiga prajurit tak kenal takut, menentang lautan putih menghadang, menghampar hilang di horizon, Jalesu Bhumyamca Jayamahe – di laut dan darat kita jaya.

Tadi malam sebelum badai kembali datang, para petugas pengamanan berkumpul dalam sunyi membuang syak dari warga, silang pendapat soal kekhawatiran Ir. Harry akan momok ambruknya jalan layang ini. Mereka 6 Prajurit Marinir, 3 korps Pemadam Kebakaran, 2 Polantas dan 3 Satpam Hotel yang terkumpul secara kebetulan. Badai salju pertama malam sebelumnya mengantar takdir Tuhan bagi mereka untuk warga di kolong jembatan ini. Kurang separuh bersikukuh, menunggu bantuan lebih baik, resiko evakuasi terlampau tinggi. Tapi bantuan dari manakah?, harapan kosong, mereka harus bantu diri sendiri. Sebagian banyak meminta bergerak, mati berusaha lebih bagus dibanding diam, penyesalan takan cair, beku dimakan suhu.

Ke manakah mereka harus bergerak?, selatan lebih baik, harapan lebih terang, seterang matahari tiga hari lalu. “Markas adalah tujuan masuk akal” tanggapan Erwan atas usul Chalid, ke Cilandak KKO mereka harus menuju, di mana barak-barak tersedia, persediaan makanan lebih dari cukup. Sabar adalah kunci, jarak terlampau jauh, mungkin 15 kilometer, mereka harus menemukan titik persinggahan. Sertu Agus, berpangkat tertinggi: “pelajari interval badai, kita bergerak di antaranya, perlu tim pelopor”, itulah mengapa mereka pasukan khusus. Malam itu, mereka semua lebih siap menanti badai, ya pertama kalinya badai ditunggu, untuk tahu interval hadirnya. Semua duduk merapat, dengan paha di dada dan tangan direntangkan ke kawan di samping, membuat jalinan kuat. Saat badai datang nanti, wajah dibenamkan antara kedua paha, seperti unta membenamkan kepalanya saat badai pasir menghajar.

Sekitar jam 22, badai kembali datang menderu, membekal angin dan semburan salju. Tangan-tangan berpagut erat, saling mengunci dan mengikat kuat, pun membawa hangat. Desakan salju tak juga mampu menggeser mereka, 8 menit tak lagi terasa lama, mereka hanya berdoa dalam deru. Badai berlalu, mereka baik-baik saja, hanya perlu menyingkirkan salju di kepala dan punggung serta membuat kolong kembali kering dan hangat. Jawaban didapat, badai pertama dan kedua berjarak 10 jam, kedua dan ketiga 12 jam, harapan mereka yang keempat hadir l4-15 jam kemudian. Ada 12 jam waktu aman untuk mereka bergerak, sepertiga tuk tim pelopor mencari titik, sepertiga kurang tuk kembali menjemput dan sisanya untuk evakuasi. Tim pelopor harus tiga, kelak satu menunggu di titik aman, satu kembali ke sini dan satu cadangan.

Malam itu mereka sibuk mempersiapkan diri, snowshoe dibuat dari apapun yang tersedia, dop roda mobil, setir atau cakram rem motor. Film Holywood menunjukannya, harus ada benda lebar untuk membagi beban badan di permukaan agar tak terperosok dalam salju yang lunak, dulu benda seperti raket, berpinggiran kayu dengan kawat menyilang di tengahnya, diikat erat pada sepatu. Jok mobil lebar bak kereta salju ditarik kabel-kabel, tempat perbekalan makanan, obat dan pakaian disimpan, dilindungi ponco dan jas hujan. Tak pelu khawatir bahan bakar, bangkai mobil berlimpah dalam kuburan salju, di mana bensin dan kursi-kursi sebagai bahan utama. Jam 3 pagi semua siap, istirahat dan tidur cukup diperlukan untuk menjajak perlindungan baru esok pagi setelah badai ke empat datang. Di pagi yang muda itu semua terlelap, menyisakan 3 orang terjaga, menatap putih yang gelap terbungkus malam, kilau kuning kadang melintas, cerminan api dalam tong yang menari dihembus angin. Geraknya gemulai menghipnotis, membawa relung ke masa lalu yang pergi tak lama sebelum salju.

Pagi ini jam 10 lewat 10, jarum membentuk huruf V … victory! tadi badai datang lebih cepat dari perkiraan, Serda Erwan bergerak paling depan, menjejak permukaan, memastikan kepadatan, Desmond dan Chalid di belakangnya, bergerak perlahan, sendu dengan bulir-bulir salju berjatuhan tak teratur, ringan terhempas angin. Tiga loreng dalam lautan putih yang menggunung, menyisakan atap-atap putih rumah berlantai satu, kini lantai dua menjadi dasar. Tiang dan kabel listrik menjadi kerdil, daun-daun memutih pohon tinggi hanya tampak pucuknya. Di belakang, jembatan fly over semakin menjauh, tumpukan mobil berselimut putih tebal, diam tak bergerak seperti foto hitam putih masa lalu. Tak ada burung dan binatang bersenda gurau, semua diam, hanya desis angin terkadang datang, terkadang silam.

Selang satu jam, Desmond mendengar suara merintih, memohon pertolongan, lemah dan bergetar, datang dari satu rumah di sebelah kiri, dia segera menuju suara. Erwan menghardik “kita fokus pada misi, waktu semakin sempit, jangan gila!”, tapi Desmond bersikeras “apa kau tak akan menyesal nanti, mengingat hari ini? tak akan bisa tidur kau dibuatnya” balasnya berteriak. Chalid dan Erwan menyerah, mengikutinya ke arah suara, mereka semua berpangkat sama, tak ada yang berhak memerintah. Suara datang dari celah sebuah atap, di mana mobil yang sekarang putih dan miring menabrak genting. Desmond menghampiri dan membersihkan salju dari genting dan membuka satu per satu agar terlihat sumber suara. Seorang anak perempuan berumur sekira 13 tahun menggigil kedinginan, berpegang pada kayu struktur wuwungan, di sebelahnya terkulai lemas anak lelaki 7 tahunan, kaku tapi bernafas dia. Desmon menarik satu persatu mereka perlahan, derik bunyi dari mobil tersangkut kaso menjerit menyuarakan ketidakseimbangan. Keduanya diserahtangan kepada Chalid dan Erwan yang segera membungkusnya erat dengan pakaian dalam ransel seadanya. Gigi gemeretuk, badan dingin dan lemas, haus dan lapar pasti menyerang dari kemarin. Berdua digendong oleh masing-masing prajurit, seraya bersiap melanjutkan misi. Tiba-tiba suara derik menggema, sekejap mobil tertelan gravitasi meluncur menuju dasar, membawa serta Desmond yang belum siap berkuda-kuda. Genting-genting amblas menarik lapisan salju ke arahnya, menciptakan debu salju dalam rumah. “Desmond!” Erwan berteriak pasrah tak bisa menyergap badannya yang jatuh seketika. Perlu tiga menit lamanya menunggu pandangan jernih, berdua terkesiap, tampak di bawah sana Desmond kaku telungkup, merah darah segar mengalir, kontras dengan putihnya salju berserakan, badan mobil menimpa tepat di kepalanya, punggung tertusuk tiang lampu chandelier besar, tak ada harapan dia hidup. “Desmond, kamu bodoh” rintihan Erwan dalam hati, sahabat terbaiknya, prajurit Marinir Infantri hebat kini tiada. Tak ada air mata tertumpah, mungkin beku didera suhu, hanya sesal tertinggal. Keduanya berdiri sempurna, memberi penghormatan terakhir, sahabat pergi dalam tugas, sepenting gugur dalam perang.

Keempatnya melanjutkan perjalanan ke arah selatan, dengan dua dalam gendongan di punggung, makanan  membuatnya menghangat, hidup … harus hidup demi kematian Desmond tak jadi sia-sia. Mereka tak banyak bicara, benak berlayar ke masa lalu di mana kepedihan jauh dari hari ini.

Satu jam tiga puluh menit mereka bertemu atap panjang, berbaris tiga di sebelah kanan, cukup luas untuk sebuah bangunan. Segera Chalid bisa mengenali dari ingatan, “lapangan futsal!” serunya dengan yakin. Mereka mendekat, menyingkap dengan hati-hati salah satu bagian atapnya yang terbuat dari plat besi. Erwan mengintip ke dalam, benar, lapangan futsal membentang di bawah sana. Dua lapangan rumput sintetis berdampingan dengan satu lapangan semen, sempurna untuk menampung 70 warga. Jala di dindingnya bisa jadi alat turun dan memanjat ke atas atap. Setelah melepas snowshoe buatan dari dop mobil, mereka segera turun perlahan, menjejak lantai, membuat alas tidur untuk kedua anak, menghangatkan badannya dengan meneguk air panas dari termos kecil dalam ransel. Beberapa bagian kecil atap dilepas sebagai jalan udara mengalir menyegarkan ruangan, ventilasi yang cukup, cukup untuk asap mengalir ketika nanti mereka membuat perapian.

Chalid harus segera bergerak kembali ke utara, kolong fly over dimana semua menanti untuk evakuasi. Semakin cepat dia sampai, semakin banyak jatah waktu untuk mereka menuju lapangan futsal ini. Kali ini dia berjalan menentang angin, merasakan hujaman salju bagaikan jarum menusuk wajah, hanya google buatan Amerika ini melindungi matanya. Dia merasakan sepi yang begitu menyiksa, lebih dari hutan Kalimantan dulu saat dia tersesat dalam latihan gabungan. Hutan pekat, malam gelap, gemericik hujan menghantam ranting dan daun. Tapi hutan punya nafas kehidupan, binatang melata bergerak halus, serangga bernyanyi dan menari dalam simfoni, burung dan kelelawar terbang liar dengan congkak, yang lemah menjadi buruan. Untuk prajurit komando, hutan adalah tempat bergelut, menjanjikan kehidupan. Tapi kota putih ini begitu senyap, kaku tak bernafas, bagai kota mati berhantu, hantu bernama badai. Seretan kakinya pada salju membentuk irama konstan, rapi bertempo, bersahut detak jantung. Ujung jembatan semakin terlihat, mendekat, semangatnya semakin membakar mencairkan beku.

Satu setengah jam dia berjalan, sampai kemudian tiba disambut wajah-wajah ceria mencari jawaban. Waktu yang termakan lebih sedikit dari yang disajikan, menyediakan lebih untuk mereka semua berjalan. Wajah terperanjat Sertu Agus atas gugurnya Desmond, tapi tak ada waktu untuk berduka, bergerak mendahului badai keharusan, sebelum gelap menghadang. Doa-doa dipanjatkan, barisan diatur, perlengkapan disiagakan. Mereka siap menjemput kebahagiaan.

Bersambung … bagian tiga

Bagian satu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s