Di Bawah Nol Derajat bagian 3

74 orang mulai bergerak bersama dalam asa, mengurut jejak tapak kaki yang membentuk guratan kasar dibuat tiga pasang kaki tim pelopor. Sekarang jam menunjukkan empat lewat, waktu biasanya untuk menikmati segelas kopi dan sepotong roti bakar, waktu di mana bayangan memanjang menjauh dari peraduan matahari. Bripda Fadli bersama Galuh, satpam hotel di Jalan Antasari berjalan mengekor paling belakang, sebagai tim penyapu, bila ada orang atau barang tertinggal. Di depan mereka 6 orang laki-laki muda dan kekar dipilih, menyeret kereta barang buatan dari kursi mobil yang dicabut dari kabinnya, menghapus jejak-jejak acak para pengungsi, dan mencetak jejak baru dari mereka berdua. Lebih ke depan lagi warga dipecah berkelompok, yang melindungi dan dilindungi. Kabel listrik yang tak lebih jadi kawat menjuntai setinggi pinggang jadi pegangan. Kadang terdengar decak kagum juga heran rubahnya suasana, hari ini dan tiga hari sebelumnya. Fadli sang Polantas, tentu paling tahu situasi jalanan yang sekarang terbenam empat meter di bawahnya. Mobil-mobil beriringan, dimuntahkan fly over dan jalanan bawah yang teduh, mereka membawa para robot pekerja yang menggerakkan Jakarta kembali ke keluarganya tuk sementara dan besok pagi bergumul lagi dengan roda perekonomian. Di ujung sana terbagi dua, kiri dan kanan yang sama merayap, berjalan pelan bagai di atas konveyor.

Melewati jalan menurun tajam di sebelah kiri, tempat rumah-rumah mewah di bawah sana bagai surga di kota yang buas ini. Dasarnya adalah Kali Krukut, sungai yang membentuk cekungan memanjang mulai dari Gandul- Depok, Pangkalan Jati, Antasari, Kemang, terus mengular ke utara, Kelurahan Pulo hingga belakang kantor Walikota Jakarta Selatan. Ketika tumpukan salju tak lagi dapat menahan beban dirinya, bergetar, bergerak menjadi longsoran menurun ke bawah sana. Sontak tangan yang tak siap mencengkram kabel terbawa bersama luluhan debu putih, berguling terpelanting sebelum menghantam tembok atau genting yang menghadang. Jerit raungan menggema, walau tertelan suara gemuruh luruhan salju. 10 orang hilang lenyap terkesiap. Manusia-manusia menggelantung di kabel, jarak kini menjauh dari pijakan, genggam erat tangan terluka. Beban berat tak dapat menahan pengait di tiang-tiang listrik yang berdiri congkak, menghentak ketika terlepas, serempak melepas cengkraman tangan tak berdaya. Fadli leluasa melihat puluhan manusia berjatuhan bagai tetesan air hujan dari genting saat mulai turun membentur tanah. Dirinyapun begitu, terjerembab, mendarat pada permukaan miring lereng salju sebelum menggelontor menjadi longsoran. Badan tak terkendali menggelinding cepat, dunia berputar membawa pening tak terhingga bersama benturan-benturan di kepala. Berhenti tertahan ranting pohon menggunduk, Fadli terengah, menahan sakit di sekujur, rasanya tulang terlepas dari susunan. Kaki kiri terkoyak, luka menganga, dingin dan perih berlomba merenggut rasa. Tak berdaya, dirinya hanya terdiam memandang langit yang mulai menggelap. Galuh, yang cukup beruntung meluncur pada punggung dengan kepala terjaga, segera memeriksa “Pak, gimana keadaan?”, sadar tak dapat jawaban, dia berteriak ke arah atas 300 meter jauhnya “hooy, tolooong, banyak yang luka!”. Erangan kesakitan bersahutan dari berbagai arah, beberapa yang terluka ringan segera berdiri, tak ada waktu untuk bermanja.

Di atas, panik pecah membelah sunyi, wanita-wanita histeris membuang tangis, anak-anak pun demikian ketika sadar yang dia kenal tak lagi bersama, jauh di bawah sana tanpa tahu keadaannya. Tangisan sedih bercampur amarah “Tuhan, apalagi cobaan yang Kau berikan, masih belum cukupkah?, renggut saja nyawaku, aku sudah tak kuat lagi”. Satu pukulan di tengkuk melumpuhkan kesadaran, harus ada orang-orang berfikir jernih menghadapi masalah. Saat seperti ini histeria jadi berbahaya, dengan cepat merambat menular merengkuh perasaan. Prajurit Marinir bergerak, mengendalikan situasi. Kabel listrik yang tampak rapuh dari luar digunakan sebagai tambatan, digergaji di satu ujungnya, menjuntai ke bawah menggapai tangan-tangan menengadah. Yang terluka dirawat seadanya, ditarik perlahan melawan gravitasi. Fadli harus berterima kasih pada Galuh, menyambung nyawanya. Sore itu, 13 nyawa melayang pergi terhanyut sungai yang membeku.

Sore berubah cepat berganti malam, rombongan terseok menuju titik tujuan, lambat bergerak dalam gelap, sedang badai mengintai di depan. Jam 8 malam semua sampai di lapangan futsal, dimana Erwan menanti penuh cemas. Perlahan semua diturunkan pada dasar pijakan, tempat api pembakaran membawa hangat juga cahaya. Persediaan makanan surut menipis, mendatangkan lapar yang tak berkompromi. Malam itu badai datang jam 23, membawa gemuruh keras pada atap yang terbuat dari plat besi tipis, cepat berlalu mudah menjadi sepi kembali.

Esoknya, sehabis badai lewat jam 12 siang, tiga orang tim pelopor berjalan mencari titik hinggap berikutnya. Dua Marinir, Serda Hilmi dan Ilyasa serta satu Pemadam Kebakaran Jaka namanya, sudah tiga jam menghilang dari pandangan. 58 menanti dalam harap, beberapa meringis menahan perih tak cukup mendapatkan perawatan. Jam 15.30, suara dua orang bercakap di atas atap mengalihkan pandangan, itulah Hilmi dan Jaka yang tiba membawa berita. “Kita menemukan tempat yang bagus” Hilmi bermaklumat setelah turun mendekat. “Tadi saat di ujung jalan, kita dipanggil orang dari arah Alamanda Tower, beberapa orang berlindung di sana dan menyarankan kita belok ke kanan, berlindung di Citos” lanjut Jaka. “Citos! ide yang bagus, ada cukup ruang untuk berlindung, pakaian dan bahan makanan” tanggap, Sertu Agus menyela. Semua orang riang, berharap banyak pada tujuan yang disepakati tersebut.

Mengangkat semua orang kembali ke atas atap tak semudah dikira, terlebih berlimpah yang terluka, perlu 90 menit untuk merampungkan. Jam 5 sore itu mereka bergerak yakin ke arah tujuan, lebih waspada dibanding kemarin. Langit mulai menghitam, jarak tatap menjadi sumir, kegelapan menghampiri. Aksa bergidik memandangi gedung bangunan yang pupus menjadi siluet, hanya garis cahaya lampu senter Hilmi dan Jaka berkelebat menerangi cepat kemudian gelap. Terang Lafadz Allah di atas menara 165 yang biasanya gemerlap gagah kini padam tak terpandang. Perlahan mereka berkelok ke arah kanan menuju mall terpandang di Jakarta Selatan yang kini gelap dan kaku, menyisakan warna-warni temboknya yang termakan kelam. Bagian depan gedung-gedung sederet tak terlampau tertutup salju, badai datang dari utara menghantam punggung-punggungnya. Mereka disambut suka pengungsi yang terlebih dahulu tertambat. Peluk hangat warga mengharu, mencairkan keputusasaan.

Citos kini menjadi cemar laiknya rumah susun semrawut, lantai atas jadi tempat peraduan, baju bergelantungan berhamburan. Lantai bawah tempat perawatan dimana yang sakit dan terluka dibaringkan rapih tersusun. Atrium yang terbuka dibiarkan kosong, menjadi jalan perlintasan untuk badai ketika menyergap. Di sini sangat nyaman, lebih dari cukup, kemewahan yang sederhana. Pakaian dan makanan melimpah untuk hari-hari yang datang kemudian. Sekarang ada sekitar 140 orang pengungsi dan seperlimanya terluka, beberapa menunggu ajal.

Hari-hari menjemukan hadir, di sini hanya menunggu, menandaskan waktu. Menunggu badai pergi dan penguasa bertindak, kadang kemarahan muncul tiba-tiba tanpa jalan keluar. Badan-badan tegap mulai membengkar, otot-otot tak terbebani. Tabiat manusia kembali ke akarnya, keserakahan dan nafsu mulai menjelma. Perebutan hidangan dan pakaian, pemuda-pemuda berkelahi karena wanita, anak-anak berebut peraduan.

Selang satu minggu, badai telah berlalu, meninggalkan salju yang kian ramah mempesona. Anak-anak mulai berani bergelak di atasnya, bermain, membentuk dan melempar. Heli-heli tim SAR dan Kepolisian mulai berlalu lalang membawa pemulihan, beberapa teman yang terluka dibawa sudah. Alat berat mulai menyingkap salju dari jalanan, bangkai-bangkai mobil dirapihkan, pekerjaan berat dan panjang. Lampu-lampu mulai dinyalakan setelah listrik kembali mengalir, Jakarta mulai menggeliat.

Aksa yakin, kini saatnya pulang mencari buah hati dan keluarga, berharap Tuhan lindungi mereka. Berjalan ke utara, kadang membonceng apapun yang melintas. Terpana, bagaimana semua tak lagi sama, semua hancur tak lagi apik. Dingin masih menyelimuti, salju tertiup tak berpola, hempasan roda Ambulance yang dia tumpangi. Jalan layang tempat dia sempat berlabuh tetap berdiri, hanya melenting merubah condong. Meninggalkan pertanyaan “Apakah kami masih hidup kalau saja waktu itu tetap diam menunggu di sini?”.

Jerit tangis bahagia membuncah saat Aksa disambut sang istri dan keluarga terkasih. Mereka sangka dia telah mati, terkubur salju, terhimpit beton atau terhantam besi. Dua minggu yang menyayat, menimbulkan syak prasangka. Tapi kini mereka telah kembali berhimpun, menanti bencana berikutnya, ketika salju mulai mencair yang bisa jadi membawa banjir, ketika mayat-mayat yang beku membusuk mengemuka bau. Tugas berat menanti di depan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s