Menyesal

Kemarin pagi saat dalam perjalanan ke kantor berada pada satu titik yang secara visual sangat bagus. Sebuah scenery yang sepertinya susah diulang dalam waktu lama. Di sekitar South City, jalan penghubung antara Pondok Cabe dan Cinere, tepat di jalan menurun sebelum jembatan yang disebut Golden Bridge saya bisa melihat dengan jelas gunung Salak menjulang. Cuaca pagi itu sangat cerah, langit biru jernih di sekitar gunung Salak, awan terlihat lebih ke utara. Jembatan yang di tengahnya ada elemen artistik berupa tiang-tiang membentuk gelombang berwarna emas itu berkilauan terkena cahaya matahari, sementara bangunan dia antara jembatan dan gunung terlihat seperti silhuet.

Pada satu momen yang sangat pendek saya punya dua pilihan: berhenti untuk mengambil foto dengan kamera ponsel saya, atau melanjutkan perjalanan. Melihat di kaca spion tengah ada beberapa mobil di belakang, saya memilih lanjut, daripada mengganggu pengendara lain. Tapi dalam hati bertekad, besok pagi saya harus berhenti mengambil gambar yang sama, di titik yang sama.

Pagi ini ternyata hujan turun terus dari malam, sehingga tadi ketika melewati jalan yang sama, matahari belum keluar dan awan menutupi pandangan ke arah selatan. Gunung salak tidak terlihat.

Saya baru sadar, ternyata naluri untuk mengambil foto saat momen yang tepat memang sangat kurang. Belum waktunya, bahkan untuk hanya jadi penyukan fotografi saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s