Siapa Berani Bilang Mourinho Cemen?

Kemarin ada tiga berita besar yang berseliweran di jagad internet yang mendominasi timeline sosmed kita; yang pertama berita Premiere film yang ditunggu-tunggu seluruh dunia – Star Wars The Force Awakens, kedua berita tentang kontoversi Mentri Jonan melarang pengoperasian Go-Jek dan di hari yang sama merevisinya, karena panggilan Presiden Jokowi dan yang terakhir tentang dipecatnya Pelatih Chelsea Jose Mourinho. Ketiganya menarik perhatian, terbukti banyak bermunculan meme mengenai ketiganya.

Star Wars, siapa yang tidak kenal film yang ikonik ini, selama beberapa generasi menjadi salah satu film yang selalu ditunggu baik oleh fans fanatik yang disebut fan boys, maupun fans medium/intermediate/sedang-sedang saja seperti saya atau oleh fans baru. Seolah sekarang menjadi mainstream, yang tidak ikut heboh berarti kuper. Menjadi brand yang menjual, jadi lifestyle baru, didukung berbagai promosi secara global. Buat kita yang sudah menunggu 2-3 tahun, tanggal 18 Desember seperti bisul yang pecah, begitu lega. Sayang saya baru bisa nonton di tanggal 22 Selasa depan, jadi bisa dibilang belum pecah-pecah amat.

Go-Jek yang fenomenal ini selalu menjadi berita, dari mulai awal berdiri, mengundang decak kagum, menarik banyak orang untuk bergabung, penolakan ojek pangkalan, demo sampai masalah legalitas. Yang terjadi kemarin menurut saya kurangnya koordinasi dan komunikasi Menteri dan Boss-nya sang Presiden. Merevisi sebuah aturan dalam hari yang sama, dilihat dari sudut pandang manapun terlihat lemah. Kurang pengkajian, tergesa-gesa, prematur dan miskoordinasi. Ya siapapun boleh saja membela Pak Menteri atau dalam konteks paket-kabinet ini- dari semua sudut pandang, perundang-undangan, legalitas, kebutuhan orang banyak dan lainnya, tapi tetap kesan negatif-nya tak bisa hilang.

Soal Mourinho, bagi sebagian orang pemecatannya mengejutkan, bagi sebagian lain sudah sesuai perkiraan. Posisi Chelsea yang hampir sampai ke Boxing Day akhir minggu ini masih terpuruk di papan bawah menjadi alasan besar Abramovich memecatnya, walau dengan resiko pesangon yang sangat besar, yaitu membayarkan gaji sampai kontrak berakhir, setidaknya itu yang saya baca. Mou jadi bahan bully masyarakat bola akhir-akhir ini, dicaci dan dimaki. Tapi yang pasti, dengan segudang prestasinya dari semenjak di Porto, Chelsea, Inter Milan, Real Madrid dan kembali ke Chelsea, siapa yang berani bilang Mourinho cemen?. Dia akan tetap jadi The Special One, dengan strategi-strateginya, mulut besarnya, kontroversinya dan akan tetap menjadi magnet bagi media. Di mana nantinya dia akan berlabuh masih tanda tanya, tapi semua orang akan menunggu. Saya melihat dia sekarang sedang mengalami fase kesialan, fase yang sering menghampiri orang-orang hebat. Sebetulnya di atas kertas tidak ada alasan untuk Chelsea terpuruk di musim ini, pemain-pemainnya mayoritas adalah pemain yang sama yang menjuari BPL di musim kemarin, ditambah pemain baru yang lebih segar dan berkualitas. Dalam sepak bola sering kita melihat pemain dan pelatih hebat tidak berkembang saat bergabung di satu klub, sebut saja Fernando Torres di Chelsea, Di Maria di Manchester United, Robinho di Manchester City. Ketidakcocokan sistem atau rekan kerja sering menjadi kambing hitam. Tapi berbeda dengan Mou, dia bukan orang yang baru di Chelsea, sudah paham betul kondisi di dalam maupun di luar lapangan. Hanya saja kesialan sedang menerpanya di musim ini, membuatnya tidak bisa melepaskan diri dari masalah-masalah bertubi dalam tim-nya, mulai dari konflik dengan dokter tim, masalah defender yang menua & melambat, penerapan taktik yang kurang mulus sampai perasaannya dikhianati para pemannya. Kesialan juga yang pernah datang kepada Zidane, seorang Maestro yang harus dikartu merah pada laga terakhirnya sebelum akhirnya memutuskan untuk menggantung sepatu-terlepas dari provokasi dari Marco Materazzi. Atau kesialan Valentino Rossi yang dihukum karena dianggap melakukan perbuatan tidak semestinya pada Marquez, dan akhirnya menutup kans untuk menjadi juara dunia tahun ini.

Fase kesialan selalu hadir kepada semua orang, dengan intensitas berbeda dan juga efek berbeda. Yang jelas untuk orang-orang hebat, satu kesialan tidak akan menghapus prestasi-prestasinya di masa lalu. Jadi siapa berani bilang Mourinho cemen?

Kalau Pak Jonan cemen gak ya?, sebelumnya beliau adalah Direktur PT. KAI yang dinilai berprestasi dan penuh gebrakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s