Kisah Sabron Mencari Makan

Panas terik membakar jagad, Sabron abai tak mengindahkan.

Mendamba receh dari pertigaan, tempat mobil acak boleh diurut.

Bersyukur untuk bayangan, bisa berpindah saat kepanasan.

Surya tegak waktunya buang lapar dahaga.

Tak lagi pilihan, warteg 30 langkah jadi tujuan.

Tak lagi pilihan, sajian sama sejak tiga kalender.

Sabron rindu masakan Emak, garang asam tak ada bandingan.

Tak dengar kabar kampung halaman, terusir Bapak penuh amarah.

Menuntut waris agar usaha, tak jadi pemuda tak berguna.

Tak adil, Bapak meradang Emak dijauhkan.

Menerawang … diaduk juga, padahal es teh in tawar.

Sabron bukan preman, tak ditakuti malah dibully.

Sebulan ini berat terasa, bersaing sumbangan Musholla.

Receh berpindah, berharap pahala.

Sabron kecil pandai mengaji, membaca Qur’an di Pak Haji.

Tapi tak pandai membaca di sekolah apalagi berhitung.

Buta huruf tanda di jidatnya, bukankah Qur’an pun tulisan?

Sabron tak pernah mengerti.

Kadang meronta pada hidup, kapan kau berubah?

Bagaimana berani bermimpi? saat mimpi semakin jauh.

Merokok setelah makan satu-satunya kemewahan.

Setiap hisapan membuang nestapa, pergi bersama asapnya.

Kembali ke ruang kerja, tempat para Boss berlalu-lalang.

“Makasih boss”, upah dari recehan yang diterima.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s