Sudah Tahu

Baiklah, hari ini adalah hari pertama weekend panjang dan hari libur nasional Menjelang Natal dan kebetulan adalah juga hari peringatan Maulid Nabi. Dan bisa ditebak, jalanan menuju kawasan tertentu sangat padat. Dari Ibu Kota menuju Bandung terpantau sangat padat, begitu pula menuju Kota Bogor.

Istri saya kebetulan punya Nenek yang berdomisili di kawasan Gadog, Ciawi Bogor. Beliau baru saja wafat tepat seminggu yang lalu dan sesuai tradisi diadakan tahlilan selama 7 hari. Dan jadilah istri saya menginap di sana sementara saya harus tetap masuk kerja di Jakarta. Dan hari ini saya hendak menjemput sang istri tercinta dan kedua putri saya di sana.

Bangun tidur sangat awal, sekitar jam 4:00 karena memang rencananya berangkat paling lambat jam 5 pagi, sebelum jalan tol macet pikir saya. Sesuai rencana, saya jalan dari rumah di sekitar Pdk Cabe tepat jam 5:00, jalanan masih sepi, lampu-lampu masih nyala. Berjalan menuju pintu tol Lingkar Luar di Pdk Indah/Lb. Bulus. Awalnya cukup senang, karena jalanan cenderung lancar, sampai akhirnya di sekitar Mampang mulai merayap dan tersendat semenjak Ragunan. Cari-cari info di dunia maya, ternyata kemacetan sudah terjadi sejak tadi malam, dan diduga terus berimbas ke Tol Jagorawi.
Hal yang seharusnya bisa diperkirakan, tapi naluri berjudi saya salah.

Daripada beresiko terkena macet di depan, saya memutuskan melewati jalan Raya Bogor saja, keluar dari pintu tol Cijantung. Ternyata lancar, sangat lancar malah, mungkin karena masih pagi. Menyusuri jalur tua ini cukup asik, di depan bisa dilihat Gunung Salak yang semakin lama semakin mendekat dan membesar. Singkat kata, sudah sampai di perbatasan kota Bogor sekitar satu jam setelah keluar pintu Tol tadi. Sesampainya di Warung Jambu saya memutuskan belok kiri masuk ke Tol Lingkar Luar Bogor, untuk kembali masuk ke Tol Jagorawi dan nantinya keluar pintu Tol Ciawi yang jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar 10 Km, buktinya tarif-nya pun murah, hanya 1000 rupiah, lebih murah dari bayar toilet umum.

Dan kondisi jalan Tol macet total, 5 lajur yang terbentuk dari ribuan mobil berjalan sangat lambat. Ribuan galon BBM terbuang pagi ini, mungkin dari tadi malam. Puluhan pedagang asongan khas Ciawi bermunculan, gemblong, kacang, tahu goreng, rujak dan minuman, pertanda macet akan berlangsung lama. Dan betul juga, untuk mencapai pintu Tol yang jaraknya tinggal 1,5 Km semua harus menghabiskan waktu 2 jam lebih, hal yang sudah sudah mereka sudah mereka tahu.

Turis yang menuju puncak Bogor memang sudah seharusnya tahu kondisi ini, dan akhirnya harus bisa pasrah dan sabar. Dari banyak mobil yang di kaca belakangnya ada sticker Taman Safari bisa ditebak mereka sudah pernah berhadapan dengan kondisi ini dan ternyata tidak kapok. Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian, mereka tahu pasti, ada kesenangan di depan sana. Seperti juga saya, menjemput kesenangan di depan, bertemu keluarga tercinta. Jadilah perjalanan ini harus dibuat santai dan menyenangkan, tidak perlu mengeluh atau mutung.

Dan saya memilih menulis di blog selama kemacetan ini, sambil tetap berada di belakang kemudi. Banak yang bisa dilakukan selama menunggu arus kemacetan terurai. Para turis keluar dari kendaraan, mencari toilet yang hanya tersedia di pos pintu tol dan beberapa milik masyarakat di perkampungan samping jalan tol. Beberapa tidak perlu toilet, cukup di bawah pohon rindang di sepanjang jalan ini. Yang lain hanya cukup menunggu dalam mobil dengan AC menyala, mendngarkan musik atau radio. Saya memilih parkir mobil di lajur paling kiri, mencari toilet umum karena sudah mulai kebelet buang air kecil. Asik juga jalan-jalan semaunya di jalan tol, sambil melihat-lihat penjaja makanan asongan berkeliaran.

Pasti banyak juga yang berfikiran, sudah tahu jalanan ke arah puncak macet, kenapa masih saja ke sana. Memang belum tahu kalau libur panjang macet total?, jawab saja dengan gampang: “sudah tahu”. Saya pikir justru ini sensasinya, menaklukan jalanan dalam mode kesabaran tinggi. Tidak perlu menyesal karena mereka juga semua tahu akan kemungkinan mengalami hal seperti ini. Dan kalau istri tanya, “sudah sarapan?” tinggal jawab: “sudah tahu”, sambil menikmati tahu goreng dan lontong nasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s