Kisah Sabron Jomblo Sosmed

Lima belas tahun tanpa cinta, Sabron merana, hatinya mulai meregas perlahan, memunculkan tanya masih perlukah ?. Di meneriakkan jeritan pada langit, merayap melalui awan dan hilang menguap. Salah, seharusnya dia melakukannya pada dinding berbicara, dinding Facebook yang juga menguping dan mengintip. Biarkan dunia tahu, dunia kecil dalam jaringan gelombang yang berkelebat dalam serat jauh di dasar samudra.

Sabron menitipkan rindu pada gadis tak berwujud serta belum nyata, mengangankan kehangatan, kenyamanan bercengkrama seperti dulu muda usia. Salah, seharusnya dia menitipkan rindu pada Whatsapp yang memiliki identitas, yang menyahut ketika ditanya dan tertawa ketika berlelucon. Rangkaian aksara dan rupa menjadi makna menjentikkan kebahagiaan seketika.

Sabron mulai terbiasa, mereguk kesenangan dalam kesendirian, dia tersenyum dalam nestapa. Dia membingkai cerita pada relung kesepian yang dingin berangin. Salah, seharusnya dia membingkai cerita pada Instagram yang penuh warna rekayasa. Memoles pilu menjadi tawa bahagia.

Sabron berceloteh pada genangan sisa hujan semalam yang memantulkan luka hati, menghujam tanah dengan hentakan kecil namun tajam. Salah, seharusnya dia berceloteh pada Twitter yang menjadi wajan curahan kata, wajan kecil yang selalu menampung setiap tumpahan.

Sabron menanda keberadaannya pada tanah dia berpijak, tanah yang turut sunyi mendengar sepi hati. Salah, seharusnya dia menanda keberadaannya pada Path agar sang idaman dapat menghampiri, mencairkan yang beku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s