Bubarkan Saja YLKI Kalau Pengkritik Harus Punya Prestasi Lebih

Belakangan, ketika banyak pengkritik (atau peng-komplain) terhadap pemerintah atau instansi tertentu selalu dimentahkan dengan kalimat: “Memang prestasi kamu apa?, apa yang sudah kamu perbuat?”, membuat saya berfikir ada yang salah dengan logika ini. Kalau kita konsisten mengikuti logika ini, jadinya hanya mantan Presiden yang berhak mengkritik Presiden, hanya mantan anggota DPR yang berhak mengkritik DPR, hanya mantan anggota KPK yang berhak mengkritik KPK, dan seterusnya dan seterusnya. Karna setidaknya mereka pernah menjabat posisi tersebut terlebih dahulu dan “sudah berbuat” untuk mendapatkan hak-nya untuk mengkritik.

Untuk mengkritik rasa ayam KFC, apa saya harus jadi chef terlebih dahulu?, jadi ahli masakan ayam? atau harus jadi pengusaha ayam telebih dulu?. Kalau saya mau kritik tayangan Televisi, apa saya harus terlebih dahulu membuat satu tayangan, atau punya perusahan TV?. Kalau saya tidak puas dengan pelayanan sebuah Rumah Sakit, apakah untuk mengkritik saya harus jadi dokter dulu? atau jadi pengusaha rumah sakit dulu?. Kalau begitu, bubarkan saja YLKI, KPI dan lembaga lain yang sejenis.

Bila logika ini yang digunakan, kita sudah mengkerdilkan banyak orang-orang yang bersuara lantang meneriakkan ketidakberesan -setidaknya menurut mereka sendiri. Kita sudah mengkerdilkan para pahlawan revolusi di berbagai belahan dunia. Berarti kita sudah mengkerdilkan Soekarno sebelum jadi Presiden, saat mengkritik pemerintahan Kolonial Belanda, mengkerdilkan Widji Thukul saat bersuara sumbang mengkritik pemerintahan, mengkerdilkan Che Guevara, Malcom X, Aung San Suu Kyi dan lain-lain.

Dan yang lebih mengherankan, justru banyak menganut logika ini adalah teman-teman yang dulu adalah aktivis perjuangan reformasi, yang bersama-sama berhasil menumbangkan rezim Orde Baru. Saat itu kita bukan siapa-siapa, masih mahasiswa, apalah artinya kalau dibandingkan prestasi Bapak Pembangunan H.M Soeharto. Dan kalau pertanyaan yang sama saat itu diajukan kepada mereka:”Memang prestasi kamu apa?, apa yang sudah kamu perbuat?”, saya yakin mereka akan ngamuk berat.

Memang ada perbedaan mendasar antara mengkritik dan komplain, tapi sebagai warga negara bukankan kita punya hak akan keduanya?. Mengkritik adalah penyeimbang, memberi masukan membangun atas berbagai kekurangan. Komplain adalah curhatan warga terhadap ekspektasi yang tidak/belum terpenuhi.

Patut disayangkan polarisasi kubu saat Pilpres kemarin masih menyisakan bekas mendalam. Membuat logika dan objektivitas kita diacak-acak, yang tersisa subjektivitas dan praduga negatif. Yang mengkritik dianggap mencari-cari kesalahan dan hanya ingin menjatuhkan, yang membela dianggap kehilangan sensitifitas.

Saya jadi ingat kasus Koin Untuk Prita di tahun 2009, kritik & komplain berakhir menjadi kasus pencemaran nama baik. Dan memang dia bukan dokter atau punya prestasi di bidang kesehatan, tapi dia tetap punya hak untuk komplain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s