Teleportasi Ke Alam Baka

Rasanya tidak ada yang salah ketika 16 tahun lalu saya mantap memilih Fisika Quantum sebagai bidang yang akan didalami dan kemudian menjadi bagian dari hidup, dan tragisnya sekaligus menjadi bagian dari kematian. Sebuah kematian yang sama sekali tidak sederhana dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dulu, saya hanya berfikir akan mati karena penyakit, misalnya diabetes atau serangan jantung atau paling tidak kanker, karena terpapar radiasi dari penelitian-penelitian yang dilakukan. Tapi saya harus dihadapkan pada perburuan organisasi kriminal paling rahasia dan mahal di dunia. Dan kematian saya bersama istri beberapa jam yang lalu adalah sebuah pesan keras dan nyata bagi para saintis dan peneliti dalam bidang teleportasi, “Jangan coba-coba merubah apa yang telah mapan!”.

Nama saya Aksara Muarabhumi, seorang profesor Quantum Mechanics dan peneliti di MIT, salah seorang ilmuwan terbaik yang dimiliki Indonesia, setidaknya itu yang pernah disampaikan Menteri Ristek Putriana Kejora tahun 2024 yang lalu. Desertasi saya mengenai Perancangan Perubahan Perputaran Elektron Terarah bermuara pada proyek penelitian mengenai teknologi teleportasi, dibiayai secara penuh oleh institusi. Tesis saya pun tidak jauh dari Fisika Quantum, saya berkonsentrasi pada perhitungan matematis perpecahan dan penyatuan partikel yang diselesaikan di universitas yang sama. Sedangkan gelar sarjana sarjana didapatkan di tanah air dari Jurusan Fisika di ITB pada tahun 2012.

Orang tua saya bukan seseorang berlatar pendidikan sains apalagi ilmuwan, Ayah adalah seorang penjual onderdil motor di Kota Jember sedangkan Ibu seorang juru masak di sebuah katering di kampung kami. Tapi dorongan kedua orang tua bagi kami anak-anaknya untuk bersekolah sangat tinggi. Kakak tertua saya Mas Wirabhuwana berhasil berkuliah di Jurusan Teknik Mesin UGM dan menjadi Sarjana Teknik pertama kebanggaan Ayah dan kemudian meneruskan Magister dengan subjek yang sama di UI, sekarang menjadi salah satu enjiner terbaik di group Astra, adik saya Dewi Ganeshi lulus dari Jurusan Hukum UI, mengambil minat pada Hukum Internasional Publik dan sekarang menjadi staff di KBRI Jerman. Obsesi Ayah saya pada pendidikan tinggi sebetulnya bukan dari kesadarannya akan ilmu dan sains tapi lebih karena trauma atas kematian tragis Bapaknya, Kakek saya Ki Narto, seorang dukun santet yang berakhir dianiyaya dan dibakar hidup-hidup atas praktek perdukunannya. Saya masih ingat saat itu, malam 13 Ramadhan, masyarakat berbondong-bondong menuju rumah Kakek setelah Sholat Tarawih, menjemput paksa dan menghabisinya di depan kami, para keluarganya, akibat tuduhan menyantet Kepala Kampung sehari sebelumnya.

Kakek memang bukan seorang religius, bahkan sangat jauh dari Tuhan, tapi saya masih ingat suatu saat berumur 9 tahun dia pernah bercerita, santet bukan hanya soal menyakiti seseorang dari dalam, tapi soal memindahkan sebuah barang dari satu tempat ke tempat lain. Memindahkan beberapa buah paku dari ruang prakteknya ke perut seseorang, melalui berbagai ritual. Ritual yang bagi sebagian orang hanyalah sebuah persekutuan dengan jin, tapi bagi Kakek, itu adalah sebuah proses rumit yang juga melibatkan kekuatan alam. Kakek berfikir keras mengenai proses itu tapi sadar bahwa kapasitas daya pikirnya tidak cukup paripurna, sehingga berhenti pada tahap kegundahan tanpa tahu jawabannya. Dan hampir 32 tahun kemudian saya menemukan jawabannya, bahwa santet adalah salah satu bentuk teleportasi, memecah partikel paku atau barang lainnya untuk kemudian disatukan di tempat lain, sebuah teknologi canggih paling tua yang dipraktikkan cukup lama dari jaman nenek moyang.

Sebetulnya penelitian mengenai teleportasi bukan hal yang baru, tapi tim kami di MIT sudah membuka pintu bagi realisasinya pada kehidupan nyata. Kami membuat sebuah mesin teleport yang berhasil memindahkan makhluk hidup pertama di dunia, walau masih hanya seekor tikus dan berjarak hanya beberapa kaki. Jurnal-jurnal sains memberitakan kehebohan ini secara masiv, saya dan 4 rekan profesor lain mejadi bahan pembicaraan. Alat ajaib Doraemon, Pintu Menuju Ke Mana Saja mungkin bisa diwujudkan beberapa tahun ke depan.

Tapi kematian yang tragis mulai menimpa satu persatu dari kami berlima. Kematian pertama dan paling dahsyat adalah peledakkan laboratorium penelitian yang menewaskan Prof. Reuben dan Prof. Shanjid Khan. Awalnya tidak ada satupun dari kami curiga bahwa kejadian tersebut adalah tindakan kriminal, kami menganggapnya sebuah kecelakaan kerja yang sudah menjadi resiko pekerjaan, apalagi berkaitan dengan difusi partikel. Selang 4 hari kemudian Prof. Irene dari Russia meninggal dalam sebuah kecelakaan tunggal, mobilnya hancur menabrak pembatas jalan dalam perjalanan menuju kampus. Dua hari kemudian FBI mendatangi kami yang tersisa, saya dan Prof. Kristoph dengan memberitakan kemungkinan pembunuhan terencana terhadap 3 rekan kami sebelumnya dan kami mungkin menjadi target berikutnya. Saya hampir tidak percaya, karena sama sekali tidak pernah merasa punya musuh, apa yang kami lakukan semata-mata untuk sains dan kepentingan seluruh umat manusia. Kemudian, saya memutuskan meminta Kepolisian Federal untuk memulangkan saya dan istri ke Jember, Indonesia. Beberapa hari kemudian, permintaan itu dikabulkan dalam sebuah penerbangan diam-diam dan penuh kerahasiaan. Sedangkan Prof. Kristoph berada dalam perlindungan penuh FBI tanpa saya ketahui berada di mana.

Di Jember, perasaan saya tidak pernah tenang, walau seorang Perwira Polisi terus menerus 24 jam berjaga atas permintaan Interpol. Briptu Alisyahdana, khusus menangani tindak kriminal internasional, ditugaskan karena pengetahuannya atas pergerakan organisasi kejahatan dan mafia lintas negara. Bayangan-bayangan kematian selalu datang melalui mimpi dan perasaan khawatir berlebihan. Saya menjadi phobia akan segala hal, bahkan bunyi gemericik hujan pun menjadi sangat mencurigakan. Ingatan akan kematian Kakek yang penuh penderitaan kerap datang, ditambah memori atas wafatnya Ayah karena penyakit gangguan pernafasan 7 tahun yang lalu.

Satu jam sebelum kematian kami, saya dan istri diminta Briptu Ali segera berkemas dan masuk ke dalam mobilnya untuk diamankan ke tempat lain. Informasi dari intelejen, beberapa anggota Yakuza terlatih sudah datang ke Indonesia dan mendekat ke arah Jember. Mereka akan bekerja sama dengan kelompok kriminal lokal dari Surabaya memburu kami. Saya sempat bingung, apa urusannya Yakuza dengan kami dan penelitian mengenai teleportasi. Saya coba menggali dari Ali, apa pasal mereka memburu kami, dan jawabannya cukup menyentak “Profesor boleh saja jenius soal fisika quantum, tapi ada yang Bapak lupa, yaitu soal dampak sosial dan ekonomi dari apa yang anda hasilkan. Akan ada jutaan mobil dan motor menganggur, ada ribuan pabrik kendaraan dan onderdil yang akan bangkrut dan berarti jutaan tenaga kerja diPHK, akan ada jutaan kilometer jalan yang mubadzir, ada banyak kereta api yang mangkrak, berapa ribu bandara yang akan tutup, berapa banyak pilot, pramugari dan flght crew yang akan dipecat?, berapa juta sopir taksi yang akan menganggur di seluruh dunia? dan seterusnya. Anda mengancam kemapamanan industri yang bernilai sangat besar, saya sendiri tidak penah tahu berapa triliun dollar nilai ekonomis yang akan dirugikan. Perusahaan-perusahaan otomotif Jepang salah satu yang akan terkena imbasnya, salah satu dari mereka yang menyewa organisasi kriminal untuk menghambat peneletian dan penemuan Profesor”.

Saya menghela nafas panjang sambil menyenderkan badan dengan lemas ke jok mobil ini, mobil yang akan ikut punah ketika teleportasi bekerja dengan baik nantinya. Saya melihat wajah istri saya yang mulai menangis prihatin, karena tahu pasti belasan tahun saya berjuang keras mewujudkan penelitian ini dengan motivasi memberi kebaikan bagi umat manusia, idealisme mulia, memberi kemudahan dan solusi bagi berbagai macam problem transportasi. Saya tahu bagamaina setiap harinya jutaan manusia menghadapi kemacetan di kota-kota besar, bagaimana setiap masa mudik di berbagai kota di dunia, kepadatan terjadi di jalanan, bandara dan pelabuhan. Bagaimana harga transportasi membuat harga dan komoditas menjadi ikut mahal. Impian lama saya mempermudah urusan manusia malah mengancam keberlangsungan lingkaran setan industri yang ditopangnya. Hati saya hancur seketika, membayangkan ribuan jam yang sudah saya habiskan harus terbuang kalau penelitian ini harus dihentikan. Tapi di sisi lain, ketergantungan jutaan orang pada industri transportasi menjadi terancam, termasuk orang-orang pintar seperti Mas Wira.

Lamunan saya terhenti ketika sadar mesin mobil mati tepat di persimpangan rel kereta, dan sebuah tiupan panjang melengking mendekat dengan cepat dari arah kanan bahkan membuat otak cerdas saya tidak bisa bekerja cepat dalam hitungan sepersekian detik, menghitung kemungkinan-kemungkinan dan memutuskan sebuah solusi terbaik. Seketika kereta menghantam dengan keras mobil kami disertai bunyi tumbukan yang keras, mengirim saya kepada alam ketidaksadaran.

Beberapa menit kemudian saya mulai bisa melihat kerumunan di sekitar mini bus hitam yang ringsek dan terseret beberapa ratus meter, sedangkan kereta harus terus berlalu menjaga ketepatan waktu. Saya sadar sudah berada di alam kematian ketika melihat mayat saya yang hancur tak karuan terjepit rangka mobil. Sedangkan istri saya Kemala sedang berada di ambang kematian, nafasnya tersengal dan kesakitan, darah segar mengalir dari semua rongga, mulut, hidung dan telinga. Dalam beberapa menit kemudian sebuah proses menakjubkan terjadi, jiwa istri saya berpindah dari jasadnya dan sekarang berada di samping dengan senyuman mengembang. Luar biasa, baru saja saya melihat sebuah teleportasi paling alami dan canggih yang pernah saya lihat. Proses pemecahan dan penyatuan partikel atom yang sangat cepat dan luwes, teknologi Tuhan yang mengagumkan. Penelitian saya selama ini soal mekanika quantum selalu berkutat pada ruang dan waktu yang relatif sama, tapi Tuhan melakukannya dengan mudah pada ruang dan waktu berbeda. Kini saya dan istri sudah berada di dimensi berbeda, tempat yang penuh ketenangan, dimana rasa takut dan kekhawatiran sudah hilang dan pergi.

Selang beberapa saat, saya teringat dengan Briptu Alisyahdana, mulai mencari badannya di ruang kemudi. Tapi tak tampak mayat terjepit di tempatnya, hanya airbag mengembung di roda setirnya. Saya melayangkan pandangan ke seluruh arah mencarinya, memeriksa muka-muka penonton bencana yang makin banyak berkerumun. Terus melayang ringan ke arah simpang rel di mana semua berawal, dan di pos perlintasan saya melihat dia dalam perawatan beberapa warga, mengobati luka memar dan gores kasar di lutut dan sikutnya. Rupanya dia sempat melompat ke luar sebelum kereta menerjang, dan diselamatkan beberapa pemuda. Tapi semua terbuka ketika di ponselnya saya sempat melihat sebuah catatan data jadual perlintasan kereta di persimpangan ini. “Ah, Ali … kamu ternyata …..”. Saya mengerti betul apa yang diperjuangkannya, demi kebaikan sebuah masa, dunia belum siap untuk keguncangan ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s