Salah Desain pada Sistem Lalu Lintas di Jakarta?

Setiap hari perjalanan ke kantor dari Pondok Cabe ke Cipete selalu bertemu titik-titik kemacetan, satu hal yang biasa. Ada titik yang memang disebabkan perempatan tanpa lampu merah (lampu pengatur lalin), ada karena putaran (U-turn) ada karena perilaku egois manusia-nya. Tapi di sebuah lajur jalan di mana ada jalan tol paralel dengan jalan non-tol, saya merasa ada yang salah dengan desainnya. Contohnya di T.B Simatupang, hampir sepanjang jalan ini ada pintu-pintu masuk dan keluar menuju/dari jalan tol.

Di setiap titik sekitar perempatan menjadi pusat kemacetan, arus kendaraan dari pintu keluar tol bertemu dengan arus kendaraan menuju putaran atau belokan di perempatan. Biasanya, kendaraan yang baru keluar tol (lajur paling kanan) akan mengarah ke lajur paling kiri untuk berbelok di perempatan atau lurus di jalur lambat, sedangkan kendaraan yang akan berputar dan berbelok kanan akan menuju lajur paling kanan. Persilangan ini yang jadi biang kemacetan pada jam sibuk.

Setelah melewati perempatan, hal yang sama juga terjadi, arus kendaraan yang akan masuk pintu tol memotong arus kendaraan yang berbelok atau memutar dari arah sebaliknya. Sangat ruwet, saking ruwetnya mungkin anda pun bingung dengan penjelasan tadi. Untuk yang sering berhadapan dengan situasi yang sama, pasti akan dengan mudah menangkap maksud saya.

Nah, kenapa saya sebut salah desain?, karena penempatan pintu tol (baik masuk atau keluar) yang kurang tepat. Alangkah baiknya pintu keluar tol ditempatkan setelah perempatan, sedangkan pintu masuk diletakkan sebelum perempatan dan tidak mengganggu lajur putaran. Di sini, kepentingan pengendara secara umum didahulukan dibanding pengguna jalan tol. Kenyataannya, pengguna jalan tol terlalu mendapat banyak privilege, untuk masuk pintu dimudahkan, begitu pun ketika keluar, sangat dekat dengan perempatan, tapi harus mengganggu pengguna jalan umum dan menyebabkan keruwetan.

Sekarang semua sudah terjadi, tidak mungkin merubah desain sistem yang sudah berjalan, karena berkaitan erat dengan konstruksi dan rekayasa arus. Yang ada kita harus pasrah dan menerima kondisi tersebut setiap hari dua kali, saat berangkat kerja dan pulang ke rumah. Sabaar ….

sumber foto: Liputan6

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s