Jaman Kejahatan Out of The Box

Siang kemarin satu kompleks dihebohkan kedatangan seorang misterius yang mengaku petugas PLN untuk mengecek meteran listrik di setiap rumah. Heboh karena beritanya langsung menyebar di group whatsapp warga. Seorang tetangga menelepon call center dan hasilnya adalah info kalau meteran listrik sistem token tidak perlu pengecekan manual, namanya saja Listrik Pintar. Seorang tetangga lain meminta surat tugas yang dikeluarkan oleh Kantor PLN, tapi apa daya sang petugas tak punya, sambil tetap ngeyel mengunjngi satu per satu rumah dan memotret meteran listrik dengan ponselnya. 

Kompleks perumahan di siang hari adalah sasaran empuk kejahatan, para suami dan wanita karir sedang bekerja nun jauh di sana, meninggalkan para istri dan anak-anak. Hanya satpam dan beberapa laki-laki entrepreneur serta Pak RT yang berjaga di rumah. Perumahan di siang hari seperti brankas tak terkunci, mudah dibuka dan disikat ludes, kalau saja semua tidak waspada.

Kembali ke petugas misterius tadi, bagaimana warga tak berprasangka, karena bertugas tidak berseragam berlogo petir, sandal kulit jadi alas kakinya. Di sini pepatah “don’t judge the book by it’s cover” susah diamalkan, stigma kadung menempel di kepala. Kartu pengenal yang dikalungkan tak lagi membantu membangkitkan kepercayaan. Kemeja kotak-kotak tidak dikancing mengekpos kaos oblongnya plus celana jeans model longgar di paha, topi hitam bertengger di kepala. Gaya Gang Enam-Style begini memang sulit diberi kepercayaan, kartu pengenal kan gampang dibuat, tinggal datangi tukang foto copy dekat kampus. Petugas sebuah perusahaan “raksasa” milik negara seharusnya memenuhi standard SOP paling enggak dalam segi penampilan, pakai baju rapih dan sepatu.

Untuk memberi rasa aman kepada warga, Pak RT meminta foto sang “tersangka” yang dengan senang hati tersenyum manis di depan kamera sambil menunjukkan ID Card. Antisipasi kalau ada kejadian tertentu dalam waktu dekat, misalnya pencurian atau perampokan, orang ini bisa jadi salah satu opsi dipanggil untuk dikorek informasinya. Suudzon … ya demikianlah, memang sulit untuk tidak di jaman sekarang ini. Batas waspada dan berprasangka sudah semakin tipis kayak stocking.

Sebuah kompleks perumahan yang mengadaptasi gaya cluster, dengan satu pintu gerbang memang cenderung alergi dengan makhluk asing. Padahal dulu ketika saya kecil, di rumah Bapak yang berada di Kompleks Perumahan terbuka, seliweran orang asing sudah dianggap biasa. Bahkan Ibu selalu membuka pintu lebar-lebar di siang hari, supaya udara segar mengalir ke dalam rumah, tanpa diliputi rasa khawatir.

Intinya, secara sosial, kita memang mengalami penyakit akut ketidakpercayaan, yang disebabkan pemberitaan kriminal yang semakin banyak, ditambah lagi kejahatan yang makin kreatif dan out of the box, hasilnya, untuk mencapai rasa aman, masyarakat jadi harus lebih dalam masuk ke dalam box.

Advertisements

3 Comments Add yours

  1. Denisa says:

    Intinya harus hati-hati, tapi tidak juga terlalu over 😀 salam kenal

    Like

    1. eggaip says:

      Betul Sekali … agak susah memang di jaman sekarang. Tapi harus dilakukan.

      Salam kenal juga, terima kasih sudah berkunjung 🙂

      Like

      1. Denisa says:

        Iya kadang dilema kalau ngademin orang yg gak dikenal, takut emang beneran ada kepentingan atau butuh bantuan, tapi takut juga kalau ternyata berniat jahat mas

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s