Menghargai Pekerjaan

Hal lain yang menyenangkan dari sebuah pekerjaan adalah bertemu dengan banyak orang yang membuat kita bertambah ilmu. Kadang kita selalu berfikir sempit dengan hanya menyangka bekerja itu cuma demi uang, walau memang itu tujuan paling utama. Ilmu yang didapat selama bekerja tidak bisa diukur dengan nilai uang.

Kemarin adalah salah satu hari termahal yang pernah saya dapat, karena bertemu dengan beberapa orang inspiratif, yang punya kedalaman ilmu karena pengalamannya.

Pertama berkaitan dengan pekerjaan menangani sebuah perusahaan e-commerce, yang boleh dibilang salah satu yang terbesar di negara kita. Saya berkesempatan mendengarkan sharing Sales Manager bernama Satya Budi Suryaputra dan salah satu seller sukses di e-commerce tersebut yang bernama Putri Wanna. Hal yang paling menempel di kepala adalah sebuah kalimat yang simple, tapi mengena “Pada saat memulai sebuah usaha, jangan berfikir bagaimana kalau rugi, tapi harus berfikir bagaimana kalau untung”. Saya pikir kalimat sederhana ini sudah cukup membangkitkan jiwa kewirausahaan yang dulu sempat menggebu, tapi mulai pudar belakangan. Dan dari seller sukses yang sekarang punya omzet 600jt-an per bulan, saya banyak belajar tentang bagaimana seorang anak dan keluarga menjadi motivasi tinggi untuk sukses dalam membangun usaha. Saya tidak akan memaparkan secara detail bagaimana materi presentasi orang sukses tadi, kalau tertarik monggo googling aja nama di atas.

Kedua, saya bertemu dan berdiskusi dengan salah satu musisi yang berkecimpung dalam genre religi/sufi, yaitu pentolan band Debu yang kami panggil Bang Mustafa, saya panggil “Bang” meski umurnya lebih muda, padahal dia sendiri hanya minta dipanggil Mustafa. Meski meeting harus terlaksana menjelang tengah malam, karena waktu tersebut yang memungkinkan dari para kolega, tapi rasa ngantuk sama sekali hilang. Saya banyak belajar ilmu ikhlas dari seniman yang satu ini, bagi saya, dia bukan hanya seniman, tapi seorang leader dan manager. Dia bekerja keras karena mempunyai tanggung jawab besar untuk menghidupi sebuah komunitas dalam lingkungan musik Debu yang total berjumlah sekitar 60 orang. Seorang bule, yang Indonesia banget, dia bahkan mengatakan dirinya anak kampung dan sempat berseloroh “Anak kampung bisa dengan gampang dibawa keluar dari kampung, tapi kampungan susah dikeluarkan”. Kemarin, dia bergerak dari satu meeting ke meeting yang lain tanpa kenal waktu dan kenal lelah. Sebelum pertemuan kami, dia melakukan perjalanan dari kota Bandung dengan kereta dan menuju kantor saya dengan kendaraan umum, dan kemudian sekitar pukul 2 pagi harus kembali berangkat untuk meeting dengan pihak lain di Jakarta Pusat dengan memakai layanan ojek online. Tapi tidak ada sedikitpun dari raut wajahnya yang menunjukkan dia lelah, dia selalu fokus dan tersenyum. Hanya ikhlas yang membuat dia bisa begitu.

Pagi ini saya mengingat-ingat, beberapa bulan ke belakang, siapa saja orang-orang hebat dan inspiratif  yang berhasil saya curi ilmunya. Saya pikir ada beberapa, yang membuat saya harus bersyukur, bersyukur atas pekerjaan ini, yang membuka jalan bertemu dengan orang-orang tersebut. Dan rasa syukur itu berubah jadi sebuah tekad, di masa depan, saya-lah yang harus jadi orang yang dicuri ilmunya, saya yang harus menginspirasi orang banyak …. amiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s