Jurnal Pagi Jakartans: 8 Maret 2016

Dua jam perjalanan pagi setiap hari rasanya cukup sayang untuk tidak diceritakan, banyak hal-hal menarik di luar hal rutin dan biasa, kelakuan para Jakartans di jalanan. Diantara wajah-wajah ngantuk anak sekolah yang kadang tertidur-mulut menganga, menyender di punggung Bapak atau sopir ojeknya. 

Sesosok lelaki muda di angkot depan duduk paling belakang, umurnya 20-an, kemungkinan anak kuliah. Dia menjilat jari jempolnya dan terus menggosok mata kirinya, makukannya berulang-ulang. Semakin diperhatikan, semakin jelas maksudnya, ternyata dia membasahi bulu matanya yang kering menempel, mungkin akibat sebelumnya ketiduran sampai beleknya kering.

Seorang petugas Dinas Perhubungan, berbaju abu-abu, rompi dan celana biru tua sibuk mengusir beberapa pemotor yang melawan arus, keluar dari satu gang. Sifat malas Jakartans buat memutar pakai jalan normal, memang sih kurang efisien, mereka harus putar balik dengan jarak lebih dari 1 Km, tapi ya gimana, namanya juga aturan.

Seperti biasa para pengojek pangkalan dengan sumringah dan wajah-wajah cerah becanda sambil menyeruput kopi, kontras dengan wajah-wajah kuli angkut galian yang memasang muka suram, merokok sambil menerawang, jongkok di samping panggulan dan cangkulnya.

Satu mobil X-Trail warna abu doff cukup tua dikemudikan Bapak sudah berumur, rambut dan kumisnya sudah banyak uban, dia merokok sambil membuka jendela. Dari tadi dia gradak-gruduk sibuk menutup jalan buat para pengemudi lain yang ingin mendahului, saya memilih ada di belakangnya saja dengan sabar. Kurang piknik nih si Bapak. Selang setengah jam kemudian, gantian satu mobil Suzuki Ertiga warna abu gelap yang kelakuannya sama, tapi kali ini wajah pengemudinya tidak terlihat. Ada apa dengan warna mobil abu-abu pagi ini?, apa yang bikin mereka sensi?.

Ada yang bikin saya ketawa, satu pengendara motor dari arah berlawanan berbelok menyeberang, pakai jas hujan. Hey, sebegini anehnya kelakuan Jakartan di jalanan?. Tapi ternyata dua ratus meter ke depan, hujan rintik turun, padahal baru saja langit di atas Jakarta cukup cerah. Berdosa saya mentertawakan orang yang salah. Dan mulailah wajah jalanan berubah jadi beringas, motor-motor bergerak tanpa perhitungan. Satu motor memotong jalur saya dari samping kiri, untuk berbelok ke kanan, kalau ibarat pisau, memotong dengan tajam, ngiris hati, kalau enggak pandai nahan emosi bisa jadi berabe. Tapi itu saja masih mending, dibanding pemotor yang ragu-ragu, antara nyalip atau enggak, nyalip atau enggak, mereka ini yang kadang jadi sumber kecelakaan. Dan hujan hanya mampir sebentar, matahari muncul lagi, mungkin lagi latihan gerhana besok.

Bicara soal sabar, tidak ada yang harus lebih sabar dibanding berada di belakang bajaj yang jalannya agak ke kanan, menutup lajur, sedangkan dia cuma jalan pelan 20 Km/jam, lajur sebaliknya jalanan padat, jadi susah buat nyalip.

Eits, saya menemukan jaket aneh lagi di pagi ini, seorang pemotor perempuan memakai sporty jacket bertuliskan Manchester City, tapi warnanya merah!. Suka kezel sama tukang bikin jaket yang ngasal, kalau sudah gini jadi lebih menghargai pembuat jaket KW, seenggaknya warnanya masih bener. Tapi ya begitulah Jakartan, lebih mementingkan fungsi dibanding estetika atau etika.

Perjalanan pagi ini ditutup dengan kejadian epic di jalan kecil dekat kantor, seekor kucing meregang buang hajat di pinggir jalan, buntutnya berdiri tegak, sedang badannya menekuk. Pejalan kaki harus terganggu, menghindar tahi-nya, padahal di jalan ini pun tidak ada trotoar. Semoga pemandangan ini tidak ada pengaruhnya buat mood sepanjang hari nanti.

Jurnal hari lainnya 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s