Jurnal Pagi Jakartans: 15 Maret 2016

Setiap perjalanan pagi adalah sebuah pengalaman melalui perubahan dalam banyak aspek, bisa dari geografis, perilaku, karakter dan lainnya. Saya yang jalan dari Depok, mengalami sebuah transformasi yang cukup ekstrim. Dimulai dari pengendara motor yang berani jalan tanpa kelengkapan standar, seperti helm, jaket & sepatu, semakin mengarah ke pusat Jakarta mereka semakin tertib dalam hal kelengkapan, mungkin karena polisi-nya semakin galak. Jenis penumpangnya pun beda, jam 6-7 banyak pemboncengnya anak sekolahan dari berbagai tingkat, semakin siang hanya tinggal para pekerja. Dari sisi ekologi juga berubah, di daerah Depok saya masih bisa menemukan berbagai jenis burung dan kupu-kupu berterbangan, kadang tupai melintas di kabel listrik,  semakin ke tengah kota Jakarta, mereka semakin jarang sekali terlihat. Dan matahari pun berubah, semakin jauh perjalanan semakin tinggi di ufuk.

Pagi ini matahari cukup galak, bayangan tampak lebih panjang dan gelap dari biasanya. Cahaya keemasannya membuat jalanan jadi semarak. Jalanan memang semarak, warna-warni meriah. Warna yang muncul dari cat mobil dan motor, striping motor, jaket, helm dan tas, belum lagi berbagai plang toko dan reklame. Semua warna muncul, tidak terkecuali warna hijau terang dari armada ojek online. Ojek online ini memunculkan fenomena baru, yaitu ojek-genik, cewek-cewek fashionable yang tetap menarik walau membonceng motor matic atau motor niaga lainnya. Biasanya, mereka hanya jadi motor-genik kalau membonceng Vespa baru yang fancy dan  motor sport besar seperti Kawasaki Ninja atau Honda CBR.

Ojek online juga jadi sebuah perubahan, sempat jadi profesi yang diminati banyak orang. Karyawan berbondong-bondong berhenti dari pekerjaannya demi jadi driver yang diiming-imingi banyak cerita sukses. Ojek offline (pangkalan) mulai luluh, yang tadinya menentang keras, malah turut bergabung. Mereka yang mengikuti perubahan jaman bisa survive di kota ini. Tapi ada juga para survivor yang konsisten dengan pekerjaannya, bisa kita temukan para pedagang yang sudah sepuh masih terus beroperasi. Tadi pagi saya lihat seorang kakek penjual tahu mengendarai sepeda ontel butut dan bak plastik di belakanya menyusuri jalan besar yang padat. Ada penjual pisang yang meski sudah mulai bungkuk, masih kuat menahan beban pikulan. Seorang kakek mendorong gerobak mencari barang bekas yang bisa ditukarkan dengan balon, jalan tanpa alas kaki. Dan seorang sepuh yang masih berjualan kayu gosokan pakaian di tengah maraknya mesin cuci dan pengusaha laundry. Mereka adalah Jakartans sesungguhnya, mungkin sudah berjualan belasan bahkan puluhan tahun di kota ini, dan menjadi saksi perubahan-perubahan wajah kota Jakarta. Mereka tidak minta dikasihani, mereka pejuang yang sudah berhasil melewati kerasnya hidup. Kalau hanya untuk mengasihani mereka, kenapa harus menunggu belasan tahun?, kenapa tidak dari dulu?.

Tapi setiap pagi, ada saja kelakuan Jakartans yang bikin prihatin. Seorang pengendara motor memperlambat laju-nya di dekat sebuah fly over dan tiba-tiba melempar sebungkus plastik sampah ke bahu jalan. Dan yang lebih prihatin, beberapa puluh meter ke depan sebuah truk sampah berjalan lambat mengikuti petugas kebersihan memungut plastik-plastik yang dilempar para pengemudi model tadi. Bisa dibayangkan, jalanan yang baru saja dibersihkan, sudah langsung dikotori lagi dengan sampah baru. Dan buat para petugas berbaju oranye ini, pekerjaannya jadi seperti never ending story. Berbeda dengan para tukang cukur, yang juga meskipun never ending story, udah dicepak-gondrong lagi, tapi mereka dapat bayaran dari setiap jasa mencukur, begitu juga para dokter, udah disembuhin-sakit lagi. Tapi para petugas kebersihan ini digaji, mau dapat sampah banyak atau sedikit, pendapatannya tetap sama. Coba kalau mereka dibayar berdasarkan target volume sampah, makin banyak sampah dibuang, makin senang mereka.

Diantara jutaan pekerja di kota ini, banyak juga yang menganggur karena berbagai alasan, mereka tidak terlihat, karena menyaru dengan para pekerja. Sebetulnya di sini apapun bisa jadi lahan mencari uang, asal kreatif dan mau berusaha. Bicara soal nganggur, sepanjang perjalanan tadi saya melihat sembilan buah papan billboard besar yang menganggur, kosong melompong. Semejak dilarangnya produk rokok beriklan di media luar ruang, semakin banyak titik-titik reklame yang “tidak punya pekerjaan”. Entah bagaimana nasibnya ke depan, mudah-mudahan mereka bisa kreatif dan jadi survivor juga seperti para kakek penjual tadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s