Adu Mulut yang Tak Akan Berujung

Hampir sebulan yang lalu pergi ke sebuah barber shop baru di dekat rumah, jaraknya sedikit lebih jauh dari tukang cukur langganan. Cat yang didominasi warna hitam masih mengkilap, peralatannya pun begitu, memang mereka baru buka beberapa hari ke belakang. Saya suka eksplorasi barber shop, yang saya cari adalah kenyamanan ruangan dan kehebatan si tukang cukur memijat kepala, gaya potongan hampir tidak terlalu penting. Pernah mengunjungi tukang cukur yang bau keringat?, semua peralatan, handuk dan lainnya memiliki bau yang mengganggu, bau acem kain tidak kering yang tercampur keringat. Kalau sudah menemukan yang begini, sudah pasti dicoret dari list.

Seorang tukang cukur yang masih sangat muda, perkiraan baru lulus SMP, mempersilahkan duduk di salah satu kursi ekskusi. Rambutnya gaya mohican, tipis di samping dan belakang. Di mulai memotong rambut yang sudah mulai berantakan ini, ternyata tangannya cukup terampil. Pertanyaan default semua kapster dilontakan: “tinggal di mana Bang?”. Kadang suka heran, apa pentingnya mereka nanya tempat tinggal pelanggan, jangan-jangan mereka intel. Setelah selesai, tibalah waktunya memijat kepala, leher dan pundak … daan ternyata skill memotongnya tidak sebanding dengan memijat. Tenaganya tidak terasa, ini dipijat atau dipegang-pegang?, ya mungkin otot saya yang kaku juga jadi faktor dia kesulitan mengeluarkan energi. Tenaga anak muda itu kalah dengan mak tua tukang pijat di Bogor, kalau saya kebetulan berkunjung ke rumah almarhum Nenek.

Tapi bukan itu yang mau saya bahas, saya sempat berfikir, sudah banyak sekali tukang cukur yang memotong rambut ini sejak kecil. Mungkin ratusan jumlahnya, dan mereka bukan orang yang saya kenal. Namanya saja tidak tahu, asal dari mana, kecuali beberapa orang Tasik yang bisa dikenali dari logatnya. Dan ratusan orang itu memegang pisau yang sangat tajam di dekat leher saya, sangat dekat dengan urat nadi. Bagaimana seorang yang baru kita temui dibiarkan memegang pisau tajam di dekat leher kita, agak misterius dan kurang masuk akal sih sebetulnya. Ternyata jawabannya adalah: KEPERCAYAAN. Kepercayaan yang sama yang membuat kita menurut saja apa yang dokter sampaikan, begitu pula kepercayaan terhadap guru untuk mendidik anak-anak.

Bicara kepercayaan, memang susah disandingkan dengan logika, meski beberapa orang cukup berhasil membuat keduanya mesra. Begitu juga dengan Agama, menurut saya kepercayaan terhadapnya akan tetap misterius sampai kapan pun. Setiap orang punya keyakinan subjektif. Saya sih sadar, tidak akan ada gunanya berdebat, beradu mulut atau berusaha melemahkan kepercayaan orang lain di socmed. Argumentasi-argumentasi yang dilontarkan tidak akan pernah ketemu. Saya lebih suka menghindar pembicaraan soal ini, kecuali berkaitan dengan politik dan kemanusiaan. Dan kemubadziran-kemubadziran itu harus dihindari, karena dalam agama yang saya anut, mubarzir pun sesuatu yang tidak disukai Allah.

Dan sekarang sang cermin sudah menyuruh saya mencari barber shop lain yang lebih mantap.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s