Lima Sekantor: Bagian 3

Mei 2015

Sudah tiga jam perjalanan dalam bis ini menuju Tanjung Lesung di Ujung Kulon, dan masih ada sekitar 3-4 jam lagi. Hampir semua orang ketiduran, cuma beberapa saja yang bisa gue denger ngobrol di deretan belakang. Wajar juga kami kecapekan, kita harus kumpul di kantor jam 6 pagi, berarti udah harus jalan dari rumah masing-masing dari jam 4 atau jam 5 subuh. Gue sendiri pergi jam 4.30 dari rumah, perjalanan Jati Asih ke Sudirman tadi sekitar sejam dan gue masih sempet sholat subuh di kantor.

Ini pertama kalinya gue harus pergi jauh dari Billa sejak nikah, berat juga man! kadang suka mikir yang enggak-enggak, gimana kalau gue ngalamin kecelakaan di jalan dan jadi cacat atau mati, amit-amit. Dari pergi tadi  banyak-banyak berdoa demi keselamatan kami selama perjalanan & acara. 

Gue ada di bis nomer 8, bareng Andri & Mita, mereka duduk di kursi tepat di depan, gue duduk bareng Zul, anak logistik. Zul anaknya diem banget, kerjaannya cuma maen Fesbuk sama Path, jadi susah ngobrol sama dia. Dari tadi Andri, Mita & gue aja yang aktif ngobrol, sebelum mereka ketiduran. Bimo ada di bis 4, dan sibuk pamer foto wefie bareng anak-anak CS yang bening-bening di Line Group. Tika di bis 2, dia cukup sibuk di acara ini, kebetulan kebagian jadi bendahara di kepanitiaan. Ini adalah acara inisiasi kantor buat evaluasi 1st quarter dan persiapan smester II, pesertanya cuma karyawan dari H.O, sedangkan untuk kantor di site atau cabang ada acara sendiri di tanggal berbeda.

Sebenernya acara ini lumayan refreshing juga sih, setelah hampir sebulan kemaren gue harus berkutat sama sistem keamanan web yang digempur habis sama hacker. Mereka bikin pasukan buat nyerang web kantor di seluruh dunia, sebagai bentuk solidaritas buat Greenpeace. Site rig internasional kita di Argentina dianggap melakukan pencemaran air laut dari tumpahan minyak akibat kecelakaan teknis, ada ribuan galon minyak mentah tumpah. Sebetulnya team pembersihan udah jalanin tugasnya, tapi masih dianggap lambat sama kurang tanggap sama Greenpeace. Hasilnya, terjadi bentrokan antara aktivis dan petugas keamanan yang disewa perusahaan beberapa minggu ke belakang.

Kerja di perusahaan ini kadang bikin hati galau, nurani belawanan, gue sendiri sebetulnya termasuk pecinta lingkungan. Jaman kuliah gue ikut organisasi pecinta alam dan sempet gabung di LSM yang nanganin masalah pencemaran kawasan wisata pendakian gunung. Gunung adalah jiwa gue, selalu jadi tujuan di waktu kuliah kosong atau libur. Greenpeace juga jadi salah satu organisasi referensi gue, dan pernah jadi salah satu impian buat gue nantinya bergabung. Dan sekarang, sekitar 12 tahun kemudian, gue harus berhadapan sama mereka, perang coding dan keamanan web, cukup ironis.

Acara ini juga jadi kesempatan genk kita kumpul lagi, tiga minggu ke belakang gue memang agak susah diganggu, lembur terus di malem hari sama di weekend, kalau lagi dapet libur, gue pilih ngabisin waktu sama Billa di rumah. Divisi IT yang isinya 11 orang jadi kayak robot, kerja terus shift-shift-an jaga keamanan web. Sedangkan Tika cukup sibuk nyiapain acara ini, sama-sama harus banyak lembur dan pulang malem. Tapi kadang gue masih bisa ngobrol sama dia kalau kebetulan bisa pulang bareng, nganter dia ke rumahnya. Dia cukup kewalahan juga jadi bendahara, bukan bakatnya jadi orang yang rapi ngelola duit, makanya gak heran Lukman suka curhat soal ini. Tapi Andri, Mita & Bimo masih suka jalan bareng, cuma buat nongkrong, makan malem atau nonton konser atau film. Sering gue larang mereka upload fotonya di group, cuma bikin ngiri doang. Saking sibuknya gue, tadi pagi waktu ketemu Andri sempet pangling, body-nya agak langsingan, hasil nge-gym tiga bulan ini. Gue sih turut senang, mudah-mudahan di Tanjung Lesung nanti dia bisa dapet jodoh, kasian jomblo terus dua tahun. Dia sebenernya enggak jelek juga, charming malahan, dandanannya gak pernah norak, masalah dia cuma kurang pede doang, padahal beberapa temen pernah minta dikenalin.

Matahari yang makin terang bikin mata jadi sepet, ditambah perjalanan yang cenderung boring, gak banyak yang bisa dinikmati. Gue memilih membayangkan liburan sama Billa di Lombok atau Manado, tujuan kita tahun depan, mumpung masih belum punya buntut. Meski gue anak gunung, rasanya liburan sama bini lebih enak di pantai. Lamunan soal liburan dan musik instrumen yang dipasang sopir bis jadi paduan yang bagus, dan makin lama bikin gue makin ngantuk dan akhirnya nganter ke alam mimpi.

Terbangun dari tidur gara-gara suara cekikikan dari kursi depan, jam di tangan menunjukkan angka 12.30, ah gue ketiduran 2 jam. Zul masih ngorok di sebelah, nyender ke kaca sambil mukanya ditutup handuk. Bunyi notif di henpon bersahutan, gue cek, ada beberapa dari Path, FB, WA dan Line group, segera gue buka WA dari Billa, dia ngecek gue udah di mana dan tanya kenapa gak bales-bales. Seperti biasa, sebagai suami gue punya kewajiban buat lapor dan ngasi penjelasan secara detail. Setelah beres, mulai beralih ke Line group yang notif-nya udah 40-an, isinya celaan dan ketawaan anak-anak, segera gue scroll ke atas buat tau apa yang jadi objek bahasan. Dan ternyata gue yang jadi korban, ada foto gue yang lagi tidur dengan mulut nganga, tapi itu aja sih bukan hal yang paling memalukan, ada hal lain yang bikin bete, si Zul ketiduran juga, nyender di pundak gue. Sebagai lelaki tulen ini aib besar buat gue dan langsung ketik |sialaaaan:(((|. Sontak Andri & Mita cekikikan makin kenceng dan kepala keduanya nongol di balik senderan kursi, ngadep ke belakang. “Eh udah bangun Fa!” kata Andri, Mita melanjutkan “so sweet banget sih” sambil melirik ke arah si Zul yang masih terlelap. “Eh Andri, cepetan hapus!” hardik gue sambil nyubit tangannya, dia cuma bisa meringis sambil ngeles “Bukan gue, itu Mita, sumpah!” kata-katanya ketahan di tengggorokan. Sang tersangka menunduk di kursinya sambil melindungi iPhone 4 andalan dan badannya berguncang karena tawa. Mita satu-satunya orang yang punya privilege mencela tanpa bisa dibalas di genk Lima Sekantor, dia terlalu lemah buat disakiti. “Mit, hapus dong” pintaku memelas, dia akhirnya iba juga “iya deh aku hapus, kasian Zul hihi”. Sisa perjalanan kami habiskan dengan mengobrol seru soal gaya tidur masing-masing, obrolan offline maupun online.

Bis berhenti dalam sebuah area parkir besar yang menjorok ke dalam, setelah melalui akses masuk yang cukup panjang, seperti sebuah ceruk. Disambut beberapa staff hotel yang ramah membawakan welcome drink segar setelah cukup lama terjebak dalam bis, segera suasana laut terasa, anginnya, baunya, amat khas. Gue cukup sibuk bantu ngeluarin barang bawaan Mita dan Andri, selain travel bag sendiri. Andri mulai celingak celinguk nyari muka senga-nya Bimo sama si Tika. 8 menit kemudian kita digiring ke area restoran yang lebih luas, di mana petugas EO memberi informasi lengkap soal kegiatan tiga hari ke depan. Besok akan jadi hari yang cukup boring, meeting seharian melototin angka-angka dan tabel grafik. Sore ini kita masih punya kesempatan nikmatin alam sama udara pantai. Kita bertiga duduk-duduk di anak tangga dengan tiupan angin yang cukup kenceng, niup-niup rambut Andri yang kadang mukul muka gue dan Mita. “Cihuyy” teriakan Bimo tiba-tiba terdengar sambil melemparkan pantatnya duduk nyempil diantara Mita & Andri, tangan kanannya gengggam satu cone es krim coklat yang mulai lumer. “Weiiy hati-hati Cemen!” Mita memindahkan tas-nya yang terkadung kena tetesan lelehan es krimnya. Si Bimo dengan santainya menjilat lelehan tadi, gak mau rugi “udah tuh!” katanya sambil nyengir. Mita bergidik jijik. Tika datang lima menit berikutnya dan seperti biasanya jadi pusat perhatian, kombinasi tank top, celana selutut, kaca mata aviator, rambut sebahu berkibar dan badan jenjang. Ini pertama kalinya dalam beberapa minggu kami berlima kumpul bareng, berisik sejadi-jadinya ngebahas hal yang tadi udah dibahas di group.

Sore yang cerah ini kita berlima memutuskan berenang saja di kolam renang resort, satu-satunya yang paling besar dan dekat dengan restaurant. Dari kolam renang ini kita bisa melihat ke arah laut lepas yang berjarak beberapa puluh meter di sebelah barat dan berundak ke bawah. Pantai di sini bukan tipe berpasir putih dan nyaman buat berenang, tapi berbatu karang dengan ukuran kecil. Dari sini anak Krakatau terlihat jelas, jauh di horizon. Nanti waktu sunset pasti sangat indah. Bimo seperti biasa, pamer otot cari perhatian cewek-cewek dari divisi lain. Andri tampak lebih atletis pakai yoga pants dan baju renang spandeks model diver, lemak-lemak di lengan sama perutnya udah banyak hilang. Mita pakai baju renang celana dan lengan panjang warna biru gelap, nyembunyiin bentuk tubuhnya. Tika, walau kayaknya salah kostum, dia cuek aja pakai bikini two pieces motif garis-garis warna abu dan biru muda, “Ya ampuun Tiktok, ini bukan Bali!” komen Mita waktu tadi datang, siulan muncul di sana-sini. Yang jadi objek perhatian cuek aja nyemplung ke kolam renang. Gue, sebagai anak IT sejati, konsisten dengan perut sedikit buncit dan badan kendor, tanda kemapanan :D.

Besoknya, seperti yang sudah diperkirakan, meeting berjalan membosankan dari pagi sampai sore. Gue cuma tertarik sama strategi berusahaan yang berkaitan dengan dengan bidang gue, ada beberapa kabar bagus di bulan-bulan ke depan. Kabar buruknya, bos gue akan dipindah ke Afrika Selatan, penggantinya datang dari Philipina dan dia orang India. India terkenal sama orang-orang pelit, perfeksionis dan bawel, ya mau gimana lagi.

Malam harinya adalah waktu bersenang senang, ada seafood barbeque di pinggir pantai. Seluruh peserta tampak hadir, makan enak dan banyak disertai candaan-candaan melepas penat seharian. Setelah cukup bersosialisasi, tiba waktunya kami berlima memisahkan diri becanda ke hal yang lebih sektoral. Sebetulnya hanya kami berempat, Tika enggak kelihatan batang hidungnya dari tadi sore. “Mungkin dia sibuk banget ngitung duit” Andri bersungut sambil melahap salad suapan terakhirnya. Andri yang biasanya jago makan, harus menahan diri sekarang, program dietnya terlalu mahal buat digagalin seafood enak ini. “Aku mulai sedih kalau kita udah mulai susah kumpul lengkap gini” Mita merajuk. “Ya namanya juga jadi panitia Mit!, biarin lah, nanti kalau udah kelar juga dia pasti dateng” Sahut gue.

Tapi salah,  sampai larut  yang ditunggu enggak kunjung hadir, padahal di group dia selalu bilang “sebentar ya, lagi tanggung nih”. Jam nunjukkin angka 1, mata gue udah makin berat, akhirnya gue menyarankan kita bubar aja istirahat, besok perjalanan pulang akan bikin capek. Kami berempat bubar ke bungalow masing-masing, keadaan sudah sepi, semua orang sudah di tempat tidur masing-masing, hanya beberapa bungalow masih hidup, Bimo bergabung di salah satu kumpulan bermain gaple.

Tanjung Lesung di tengah malam seperti ini cocok untuk teman tidur, pantulan cahaya bulan bergoyang-goyang didera ombak.

 

Bersambung

 

Lima Sekantor Bagian 2

Lima Sekantor Bagian 1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s