Anjing-Anjing Pengendus

Lolongan melengking peluit anjing menyalak galak, udara jadi jalur merayap, meliuk menghindari pucuk-pucuk pohon beringin tinggi, menghampiri telinga, mengabarkan cemas pada tungkai agar berlari lebih depan. Biarlah anjing-anjing itu mengoyak pantat Binu sebelum aku, ganjaran buat pelari lamban. Binu, dialah lelaki yang berlari dua langkah di belakang, menyeretku dalam situasi ini, bodohnya aku, karena ternyata persahabatan tak kenal hukum.

Idealisme yang salah adalah monster, siap mengoyak kemapanan Nasionalisme. Aku bukanlah buah pemikiranku, hanyalah gelembung egoisme melawan malaikat kapitalisme sanjungan ayahku. Celotehnya yang mencerca otak membuatku muak, sampai akhirnya keindahan sosialisme menghipnotis. Di tengah kekosongan idealisme, Binu datang dengan keindahan-keindahan Marxisme yang akhirnya aku amini hanya dengan alasan dia sahabatku. Sedangkan aku bukanlah pemikir.

Kami lebih dari sekali mengalami pengejaran seperti ini, dengan pentungan, bahkan moncong senjata. Tapi, anjing adalah kelemahanku, monster yang lebih monster dari sangkaan mereka terhadap kami. Tak banyak titik di muka bumi ini bisa menghapus jejak aroma, saat ini aku hanya bisa mengumpat kenapa Tuhan menciptakan makhluk pengendus itu. Kami diburu seperti penjahat pelanggar Hukum Pidana, berbahaya layaknya pelaku mutilasi.

Terengah, Binu bertanya: “Chaliq, kalau kita tertangkap atau mati hari ini, apakah kau akan menyesal?”. “Menyesal hanya milik orang lemah!” teriakku. “Jadi, kau siap buat mati?”. “Haha Binu, bodoh sekali kau, kalau aku siap mati, kenapa harus lari?”. Menghindar batang pohon, Binu bersungut: “Kenapa benci sekali mereka dengan kita?”. “Mereka hanya benci kau Binu, tidak denganku, mereka hanya tidak suka aku tak bisa benci kau”. “Haha bagus, perbanyaklah menghibur diri sebelum kepalamu dipukul popor”. Popor, ya hal yang dari tadi hampir tak pernah kurisaukan.

Sudah dua minggu aku dicekoki masalah-masalah perburuhan sebelum diseret Binu ke dalam demo May Day hari ini. Kami bukanlah buruh, bahkan renggang dari dunia itu. Aku dan Binu adalah mahasiswa semester 7 FISIP salah satu Universitas swasta di Jakarta. Bahkan saat nanti pun aku lulus, mungkin tak akan jadi bagiannya. Ayahku adalah pengusaha pengalengan daging sukses di Madura, sejak lahir aku disiapkan bukan untuk jadi buruh.

Alergi Binu terhadap kapitalisme sesungguhnya hampir tak aku mengerti, andai dokter bisa menganalisa dan mencekoki obat yang manjur, sudah tentu aku akan mendukung. Dia terlalu banyak tahu, hal yang dia sendiri sebetulnya tidak terlalu yakin kebenarannya. Penyakit masyarakat saat ini, kita dihajar pengetahuan yang sangat banyak, tapi tanpa keyakinan akan kebenarannya. Informasi yang muncul di dunia maya menjelma jadi kegalauan otak dan hati, menggerakkan kami untuk berbuat sesuatu.

Bodohnya para buruh ini, mereka menutup jalan tol dengan motor dan ban bekas, membakar umpatan dari para pembeli waktu. Ketika menarik perhatian diterjemahkan dalam kata-kata provokasi, dan otak disimpan di garasi rumah, beginilah jadinya. Demo yang direncanakan tertib dan damai berubah jadi kekacauan.

Asap tajam menusuk paru-paru dan membuat perih semua bagian tubuh yang berlendir, biji mataku mengering, meronta meminta air. Itulah semburan gas air mata yang menghentikan aksi kami hari ini. Beberapa orang menyiramkan air banyak-banyak ke kepala kami semua, bilasan percuma dari pekatnya gas menyakitkan ini. Seketika peluru karet berdesingan, buruh berlari tunggang langgang tanpa tujuan. Binu menarikku berlari menyebrangi jalur tol berkecepatan tinggi sebelahnya, sebuah aksi yang hadir karena rasa takut dan khawatir. Saat seperti ini, reaksi kimia otak mengalahkan kerja logika.

“Sakit jiwa!, kita bisa saja mati tertabrak Bus Primajasa barusan!” umpatku. “Rupanya belum waktunya buat kita mati” Binu menyeringai. “Mudah-mudahan tak ada yang mengikuti kita”. “Lebih baik kau berdoa”. “Kenapa tak berdoa juga kau?”tanyaku. “Aku belum berdamai dengan Tuhan”. “Sinting!” teriakku singkat. “Aku akan berdoa untuk diriku sendiri” lanjutku. “Tahukah kau, berdoa untuk orang lain lebih mujarab!”. “Jadi kau tetap mengharapkan aku berdoa untuk kau?” tanyaku dengan nada tinggi. “Haha, harus kuakui dalam keadaan seperti ini, doa boleh juga”.

Lima menit kemudian hening, hanya deru nafas panas membakar paru-paru dan bunyi pijakan kaki tak teratur. Dari kejauhan letupan-letupan gas air mata masih terdengar.

Tiba-tiba Binu lirih dalam sengal “doamu tidak terkabul!”. “Apa yang membuatmu berfikir begitu?” tanyaku. “Dengar baik-baik!”. Lolongan melengking peluit anjing menyalak galak, udara jadi jalur merayap, meliuk menghindari pucuk-pucuk pohon beringin tinggi, menghampiri telinga, mengabarkan cemas pada tungkai agar berlari lebih depan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s