Kemping dengan Aroma Mistis di Gunung Puntang

Sudah lebih dari dua puluh tahun ketika terakhir kali mengunjungi tempat istimewa ini, tapi ingatan masih sangat jelas, cuacanya yang dingin, bentuk dan kontur tanahnya sampai baunya. 17 km sebelah selatan Kota Bandung, sebuah kawasan wisata alam yang tersohor, Gunung Puntang. 

Siang di sini hampir sama, dingin, hanya gerak bayangan yang dibuat matahari yang berpindah. Kabut sering turun tak kenal waktu, kadang hujan membasahi pohon-pohon pinus, menciptakan jarak sebelum jatuh ke tanah. Sedangkan malamnya yang gelap akan semakin dingin, kemudian menghangat ketika hujan kembali turun. Tapi ketika cerah bintang berkedip genit menemani manusia-manusia yang berebut oksigen dengan ribuan pohon.

Kawasan ini berbeda dengan yang lain, sebuah jejak penggalan sejarah tercatat rapi. Jaman kolonialisme, sebuah stasiun radio berdiri kokoh, memancarkan gelombang sampai ke negeri Belanda. Sekarang puing-puing bangunan menyisakan wajah keangkuhan teknologi dan peradaban. Berdampingan dengan kawasan perkemahan dan wisata alam, sungai dan air terjun.

Pintu gerbang, akses menuju lereng yang terjal, pucuk-pucuk pohon pinus berlomba menyundul langit, berderet hingga ke puncak di arah timur. Bau khas pohon tajam ini langsung tercium, bercampur dengan segarnya oksigen mencocok lubang hidung. Ketika kabut turun, wangi lembab bulir air di udara ikut terhisap paru-paru. Ciutan burung bersahutan, ditimpali gumaman serangga yang mendengung kasar. Di gerbang, pengunjung membayar biaya sekedarnya, pendataan dilakukan ketika akan berkemah, pilihan blok camping ground disodorkan.

Jalan aspal mulus menyambung perjalanan sampai area terbuka, sebuah lapangan, berjarak 1 kiloan dari gerbang. Hanya pendaki tertentu yang hapal jalan pintas, menembus deretan batang pinus, menanjak terjal, kadang melintas aspal yang berkelok, buah pinus dan kumis-kumis tebal bunganya berserakan di atas tanah. Lapangan ini sejatinya lapangan tenis yang dulu dipakai menir-menir berolah raga, sekarang lebih sering dipakai bermain sepak bola atau bola volley. Kawasan ini memang istimewa. Di sudut selatan lapangan, sebuah kantor pengelola berdiri, tempat pengunjung dengan mudah mendapatkan informasi atau melapor ketika terjadi hal-hal tak diinginkan. Sedikit berjalan ke arah selatan yang menurun, terdapat musholla kecil yang sangat dingin ketika sholat Isya dan Shubuh, lantai ubin laksana es membeku, air wudhu membuat badan menggigil. Sedikit lagi ke selatan yang menurun, deretan warung dari dinding bilik dan atap rumbia menjajakan kopi, mie instan, gorengan dan rokok, di belakangnya beberapa puluh meter, satu camping ground terbuka lebar. Dari lapangan, mengikuti jalan ke arah utara, bisa ditemukan juga deretan warung sejenis.

Area sekitar lapangan memang memanjakan pegiat kemping, khusus disediakan untuk pemula dan mereka yang malas bersusah payah. Semua tersedia, toilet umum, musholla, warung-warung yang hangat, lapangan olah raga dan posko bantuan ketika diperlukan. 

Satu undakan ke arah timur, sebuah blok camping ground tersedia, bercampur dengan reruntuhan bangunan rumah dinas para pegawai pemancar radio masa lalu, hampir seluruhnya warga Belanda, nama-nama mereka masih tertera jelas pada papan-papan kecil penunjuk sejarah. Semak belukar menyelimuti dinding batu yang mulai tak berbentuk, tempat ular-ular bersarang. Menurut hikayat, bangunan-bangunan itu dan pemancar radio dihancurkan tentara Jepang untuk memutus gelombang informasi ke negeri sang Ratu. Rumput hijau menjadi alas empuk yang nyaman, beberapa titik hitam terbakar, jejak para pegiat kemping membuat api unggun dari ranting dan buah pinus yang mudah membara, meskipun basah tersiram hujan. Rumput-rumput itu yang menjebak embun, membuatnya basah dan dingin di pagi hari. Blok ini memanjang ke utara, sampai mendekat ke arah sungai.

Sungai menyilang dari timur ke arah barat, tempat para pengunjung bermain air dan mandi, batu-batu besar jadi pijakan, kadang jadi alas mencuci pakaian. Untuk menuju sungai, pengunjung harus menuruni jalanan setapak terjal dan licin setelah hujan, airnya deras dan jernih, kecuali pengunjung lain dari arah hulu membuang sampah atau kotoran. Suara aliran air menghujam batu dibantu gravitasi, berkumpul menjadi satu, menderu keras, terdengar hingga jauh. Jembatan gantung besi yang kokoh beralaskan papan-papan tebal membelah sungai, tempat bagi pengunjung yang tak rela kulitnya tersentuh air dingin menikmati sungai dari atas. Di ujung timur sana, sebuah air terjun juga jadi objek wisata menarik, tapi untuk mecapainya tidak mudah. Jalanan setapak yang tidak ramah, di beberapa tempat tertutup ranting dan belukar menandakan jarang sekali dilewati. Ditambah aroma mistis menambah malas para pegiat kemping menuju sana.

Mistis menjadi bagian dari kawasan ini, singgungan dengan sejarah dan kekerasan dalam proses pembentukannya. Konon untuk membangun kawasan pemancar radio ini, banyak nyawa melayang dari pekerja rodi pribumi. Sebuah goa yang terletak di tenggara menjadi penjara dan ruang penyiksaan bagi mereka yang membangkang dan memberontak. Goa yang sering kali tertutup untuk umum, kadang menggaungkan teriakan-teriakan minta tolong di malam hari. Di bagian timur, undakan ke dua terdapat sebuah kolam besar yang disebut kolam cinta, karena bentuknya yang menyerupai hati. Kolam tua dan kering tersebut kini ditumbuhi rumput tinggi, konon pegiat kemping kadang mendengar suara-suara riuh dari kolam itu di malam hari, seperti puluhan orang berenang bergembira berkecipuk di air. Suara-suara menyayat ternyata bukan hanya milik pribumi, menurut cerita, tentara Jepang membantai menir dan noni Belanda bersamaan dengan dihancurkannya fasilitas di sini.

Blok kemping yang lebih timur dan lebih tinggi akan semakin jauh dari peradaban, diperlukan kesiapan dan pengetahuan lebih. Bukan sekedar tenda dan kastrol masak. Area ini cenderung lebih sedikit dipakai, sehingga jarak satu tenda ke tenda lain lebih berjauhan, kontras dengan jarak pohon pinus yang lebih rapat. Kontur tanahnya lebih miring dan curam, perlu ketelitian lebih untuk memilih tanah yang lebih datar. Pencinta kemping sejati akan memilih area ini, menjauhkan diri dari godaan hangatnya gorengan, teh manis dan mie instan dalam cup. 

Sayang ketidakpedulian sebagian pengunjung dengan membuang sampah sisa bawaan dari kota secara sembarangan merusak keindahan kawasan ini. Tidak sadar mereka hanya tamu di sini, yang tidak perlu meninggalkan jejak, hanya kenangan yang perlu ditinggal.

Selain kegiatan kemping, satu hal yang bisa dinikmati dari kawasan ini sebelum pulang adalah kegiatan pulang itu sendiri. Pintu gerbang yang berjarak sekitar 7 Km ke pertigaan Jalan Raya Banjaran-Pangalengan atau yang lebih dikenal dengan Gamblok sangat sayang bila dilewatkan hanya dengan menumpang kendaraan umum atau ojek. Beberapa kali melakukan trekking menuruni jalur akses meninggalkan kenangan yang luar biasa. Waktu terbaik untuk turun gunung adalah pagi hari, karena selain pemandangannya yang indah, waktu yang ditempuh hampir setengah hari memungkinkan sampai di jalan raya lewat siang atau menjelang sore hari. 

Waktu menunjukkan pukul 8 ketika matahari malu-malu muncul, sinarnya menyentuh ujung runcing pohon pinus di bagian puncak yang menguning keemasan. Jalur aspal yang menurun mengantarkan kita menjauh dari hutan pinus, menuju vegetasi pohon hutan tinggi. Jalanan dingin ini nanti akan menjadi hangat saat terpapar sang surya. Sebelah kiri-kanan jalan, villa-villa cantik berdiri megah, pintu gerbangnya terkunci rapat menyembunyikan rahasia. Terus menuruni jalan yang sesekali dilewati kendaraan roda empat dan dua yang menderu, membunyikan klakson satu kali menyapa ramah. Sampailah pada area pesawahan ketika matahari sudah lebih tinggi, sinarnya menyentuh ujung pohon padi sistem terasering, teratur menurun. Paduan gelap-terang berulang melukiskan pemandangan yang sangat indah, pantulan cahaya di air sungai kecil jalur pengairan berkilauan. Orang-orangan sawah menari ketika angin menerpa, menerbangkan burung-burung gereja kecil yang mencari bulir padi untuk makan. Berpindah jalur dari jalanan aspal ke pematang sawah yang berkelok-kelok dan terus menurun seperti tangga raksasa, kadang kita temui saung kecil tempat petani berteduh, jadi tempat kita beristirahat sementara. Aliran air jernih sungai kecil menghilangkan dahaga. Berpaling ke belakang, Gunung Puntang yang kaku, kini kuning bercahaya, menggantung di langit. Terus menyusuri pematang sawah, area perkebunan kini membentang di bawah, perkampungan mulai terlihat jarang-jarang. Kemudian ketika memasuki perkampungan itu, bau kandang ternak kerap tercium, canda anak kecil berlarian bebas, wajah-wajah ramah menyapa, pemuda mengangkut karung rumput makanan ternak, nenek-nenek mengunyah sirih menyapu halaman. Warung kecil bolehlah kita sambangi, menikmati teh hangat asli dari Pangalengan, sungguh nikmat, ditemani pisang goreng dan bala-bala. Setelah bayangan memendek dan mulai condong ke timur, sampailah di pertigaan Gamblok, untuk meneruskan perjalanan dengan kendaraan umum menuju Banjaran dan kemudian ke Bandung meninggalkan keindahan alam dan suasana mistis Gunung Puntang. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s