Media Sosial adalah Media Buat yang Anti Sosial

Dulu sewaktu internet masih dalam angan-angan para visioner, seorang anti sosial mencurahkan pikirannya dalam media yang cenderung artistik, sebuah puisi, lukisan, syair atau lagu, cerita dan seterusnya, meski hasil akhirnya beragam, dalam konteks skala artistik itu sendiri. Ekspresi yang tidak tersalurkan, mengalirkan kesendirian menuju sungai-sungai dan lautan kerusakan jiwa.

Saya bukan ahli jiwa, tapi merasa kecenderungan seseorang menjadi antisosial itu wujudnya ada dua, pertama yang terlihat secara fisik, yaitu orang-orang yang benar-benar menghidar dari keramaian dan merasa nyaman dalam kesendirian. Yang kedua adalah antisosial yang tersembunyi, merasa tidak nyaman dalam keramaian, meski secara fisik dia bisa mengatasinya. Seperti penggalan lirik salah satu lagu Dewa “Dalam keramaian aku masih merasa sepi”. Kalau kita mau jujur, kondisi ini pasti pernah dialami masing-masing kita, setidaknya dalam kondisi tertentu. Jadi boleh lah kita sebut Temporary Anti social, setuju?.

Pernahkah mendengar kalimat “Si A kok lebih asik di Facebook daripada ketemu betulan!”?. Media sosial, memberi kesempatan seseorang untuk “menjadi orang lain”. Orang yang sedang dalam kondisi temporary anti social tadi bisa berubah jadi menyenangkan secara sosial di dunia maya, jadi lebih asik, lebih keren, lebih humoris kadang lebih pintar.

Tapi sekarang, kecenderungan terbalik 180 derajat juga terjadi, seseorang malah jadi tidak asik saat berada di media sosial dibanding saat bertemu langsung. Kecenderungan perbedaan pandangan idealisme, sosial, politik maupun religi menjadi dasarnya. Untuk hal ini, meski sama-sama “menjadi orang lain”, tapi bukan perwujudan dari anti sosial.

Dalam dunia nyata – katakanlah saat kopdar – tenggelam dalam media sosial, malah menjadikan seseorang anti sosial secara harfiah. Anak sekarang menyebutnya “autis”, sebuah pemakaian kata yang sangat tidak tepat. Secara fisik berkumpul, tapi secara sosial tidak berinteraksi. Meskipun memang tidak sepanjang waktu, tapi bolehlah juga kita sebut Temporary Anti Social, setuju?.

Media sosial, mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat, sebuah kalimat yang 100% saya setuju, karena memang demikian adanya.

Tapi bagaimana kalau anti sosial dikemas dalam sebuah konsep yang malah menjadi viral di media sosial dan lebih luas lagi di dunia maya?. Sebuah review dari album baru band brit pop/rock legendaris Radiohead membahas soal ini. Dalam laman web Pulse, penulis Jemayel Khawaja menuliskan review yang menarik. Dibuka dengan sebuah premis bahwa Radiohead membuat aksi anti sosial (menghapus semua isi media sosialnya) menjadi manuver marketing yang berhasil. Album baru berjudul A Moon Shaped Pool diluncurkan dalam sebuah ekosistem konsep artistik baru, hal yang biasa dilakukan band ini. Simbol-simbol yang biasa menjadi perwakilan atau bagian dari karya artisitik Radiohead dari album pertama sampai album sebelumnya The King of Limbs lenyap sudah, digantikan sebuah karya abstrak -yang tetap artistik. Ciri yang menempel pada identitas Radiohead adalah bukan bagaimana konsep artistik ala Radiohead ditawarkan, tapi konsep artistik itu sendiri adalah Radiohead.

Sekarang, singel pertama berjudul Burn The Witch sudah wara-wiri di media sosial, dikomentari, diberi ekspresi emosi dan dibagikan oleh jutaan orang. Album barunya sudah bisa dibeli dalam bentuk digital sekarang, sedangkan kemasan fisik mulai dijual bulan Juni. Belum ada data berapa juta sudah pembeli album ini, tapi yang jelas, media sosial sudah dimanfaatkan secara brutal oleh sebuah konsep anti sosial.

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s