Multi Level Sedekah

Ini adalah cerita seorang bernama Aksara, karyawan swasta di Jakarta.

Hari ini Jumat, yang menurut banyak orang pendek, padahal kalau buat yang nunggu-nunggu besok libur malah kerasa makin panjang. Mungkin penyebabnya adalah Sholat Jumat, yang membuat kerja dirasa kurang efektif, apalagi jaman dulu ketika PNS masih sebebas-bebasnya pulang awal. Setelah istirahat sholat, langsung pulang.

Jam menunjukkan 11.50, teman kantorku ngajak segera ke masjid, “ayo, udah adzan” katanya, sambil melengos pergi. Eeh, dia yang ngajak, dia yang pergi duluan. Aku segera bersiap, membuat komputer tidur, biar sama maksudnya, karena biasanya aku juga ketiduran waktu shalat jumat. “Jumat adalah waktunya beribadah, tak lupa sedekah uang semampunya”, itu pesan guru ngajiku waktu kecil dulu.

Saat narik dompet dari tas, tak sengaja satu gulungan kertas terjatuh yang ternyata struk belanja tadi malam di Indomaret serta sisa kembaliannya 12ribu. Segera kuambil 10ribu dan kuselipkan di saku kemeja batik setelah menyimpan sisa dua ribu plus struknya serta dompet yang tak jadi dibuka.

Perjalanan ke masjid hanya beberapa ratus meter, jadilah berjalan kaki di tengah terik matahari, menutup kepala dengan sajadah yang alhamdulillah jadi multi fungsi. Aku berfikir, kenapa tadi enggak bawa semua sisa kembalian yang 12 ribu buat kencleng masjid?. Mungkin kebiasaanku dari dulu yang hanya bawa satu lembar uang ketika akan bersedekah di masjid. Apa penyebabnya? oh iya aku tau, biasanya lobang kencleng seret-seret, satu lembar uang yang dilipat-lipat jadi susah masuk. Kenapa mau beramal dipersulit ya?, otak dipaksa berfikir cepat buat dapat jawabannya, mungkin karena marak pencurian kencleng masjid dengan cara membalikkan dan mengorek lubangnya pakai kawat.

Jadi penasaran, kalau orang-orang ikhlas dan berilmu tinggi, cara menentukan berapa uang yang akan dimasukkan ke kencleng saat sholat jumat gimana ya?. Apakah membawa seluruh lembar yang ada di dompet?, apa dihitung dengan kebutuhan bulanan, atau mata merem, ambil sedapetnya? entahlah. Tapi kemudian aku inget lagi pesan guru ngaji “keikhlas-an itu tidak bergantung pada nilai uangnya”. Matematika Allah memang misterius.

Setelah sampai di masjid, langsung mengikuti rangkaian ibadah dan tumben-tumbennya aku enggak ketiduran. Hebatnya pak Kiyai yang jadi pendakwah hari ini membicarakan mengenai sedekah, kebetulan yang hebat!. Dari semua pembicaraan beliau saya mengingat satu kalimat: “perbanyak bersedekah, supaya banyak rezeki”. Pengertian rezeki di sini bukan melulu soal duit dan kekayaan ya gaes. Pengen kulihat wajah Pak Kiyai di mimbar sana, tapi karena aku duduk di luar, mana mungkin kelihatan. Tapi yang perlu dari Khotib kan didengar bukan dilihat, ya sudah lah aku denger aja sampai selesai.

Sempat pikiran melayang ke sebuah pembicaraan dengan seorang teman yang rajin ikut majelis taklim. Katanya sedekah itu sistemnya persis MLM, upline selalu dapat reward meski yang aktif berjualan jaringan di bawahnya, tapi syaratnya harus ikhlas. Sedekah seberapa pun, kalau memberi manfaat untuk orang lain, akan menghasilkan pahala dan ketika orang bersangkutan memberi manfaat lagi kepada orang lain karena sedekah kita, maka pahalanya nyampe juga ke kita. Begini deh contohnya, misalnya uang 10rb akan aku masukkin ke kencleng disumbangkan ke anak yatim piatu oleh DKM masjid kemudian dibayarkan SPP sekolah (dengan tambahan uang orang lain tentunya), aku akan dapat pahala, dan ketika anak yatim itu kelak lulus sekolah aku pun akan dapat pahala, ketika si anak yatim itu kerja, kemudian sukses, menikah dan punya anak, aku pun kecipratan pahala-nya meski kecil. Istilahnya, passive-pahala, meniru istilah passive-income nya MLM. Dengan begitu, jadi masuk akal kenapa sedekah itu mendatangkan rezeki buat kita. Matematika Allah selalu misterius.

Tersadarkan dari lamunan, ketika khutbah sudah hampir selesai dan segera sholat berjamaah. Setelah sholat bubar, aku baru memasukkan uang 10rb tadi ke kotak kencleng, semoga ikhlas supaya pahalanya beranak pinak, jadi passive-pahala … amiin. Menyesal juga, kenapa yang dua ribu ditinggal di tas. Ah sudahlah, penyesalan memang selalu di akhir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s