Ramadhan, Bulan yang Berbeda

on

Bulan yang istimewa itu sudah hadir, ke pintu hati kita. Bagaimana kita memperlakukannya yang berbeda-beda, akankah hanya menjadi tamu, yang kita jamu kemudian pergi, ataukah menjadi bagian diri kita sendiri, sebagai tuan rumah yang ramah. Yang jelas, bulan ini sangat berbeda bagi siapa pun, baik yang tingkat imannya surut maupun yang luber, bahkan bagi yang tidak seiman sekalipun, setidaknya di negara kita yang mayoritas Muslim. 

Setiap Ramadhan akan mengingatkan saya pada bulan yang sama di masa kecil, saat beban hidup belum datang jadi bagiannya. Satu bulan ini diisi dengan kegiatan keagamaan dan tradisi beragam dan menyenangkan, saya selalu teringat dengan para guru ngaji dan ustadz/ustadzah yang pernah mengisi otak dan hati ini dengan berbagai ilmu dan empati. Malam hari di bulan Ramadhan selalu terang benderang, mungkin karena masjid di depan rumah selalu berpenghuni, dibanding malam di bulan lain yang gelap gulita. Kenapa bulan ini begitu menyenangkan?, karena di sinilah tempat jatah bermain, bersosialisasi dan berinteraksi dengan teman lebih banyak. Saat setelah sahur dan sholat subuh, menanti buka (ngabuburit), sebelum dan sesudah sholat tarawih berjamaah dan yang paling bikin antusias adalah saat sebelum sahur, dimana kita diberi kebebasan berbuat gaduh, memukul-mukul tong dan drum yang ditarik roda. 

Banyak kekonyolan-kekonyolan yang diperbuat diri sendiri dan teman-teman, mungkin tidak seluruhnya baik, tapi selalu terkenang. Mulai dari curi-curi minum saat wudhu, menyembunyikan sandal teman, membunyikan petasan supaya orang kaget, menguji kesabaran dan kekhusukan ibadah mereka, “meminta” singkong dari kebun tak bertuan untuk dibakar setelah tarawih. Keseruan itu berpusat di masjid, yang selain menjadi tempat ibadah, adalah juga jadi base camp, tempat nongkrong, tempat tidur di siang yang terik atau tempat begadang saat tadarus. Sekarang kadang masjid kehilangan keseruannya, anak-anak dibatasi dan dikurangi ruang geraknya dengan alasan menjaga kesucian. 

Ramadhan memang berbeda, jam biologis kita pun dipaksa berubah, bangun lebih awal, lambung dikosongkan dan dipaksa beristirahat. Saat sahur, kita bisa mentertawakan ayam jago yang terlambat berkokok, bahkan mereka mungkin terkaget-kaget bangun karena bunyi genderang bersahutan. Siang hari, teman-teman non muslim dan saudara muslim yang tidak berpuasa (bisa saja sedang sakit, menyusui atau wanita yang sedang haid) kesulitan mencari makan, karena warung tutup, apakah karena menghormati orang berpuasa, takut digeruduk ormas atau memang baru buka menjelang buka puasa. Sore menjelang buka adalah salah satu saat yang sibuk, para pekerja bergegas pulang, ibu-ibu sibuk memasak di dapur, anak-anak sibuk dengan tivi atau gadget, tapi tentu tidak semua, masih ada yang pergi mengaji di surau, langgar, mushola maupun masjid.

Selama bulan Ramadhan, kita diajarkan untuk menahan hawa nafsu, hal yang tentu sangat sulit untuk manusia, karena alat yang disematkan pada raga yang menjadikan kita sebagai manusia ya nafsu itulah. Manusia diajarkan untuk jadi malaikat – yang tidak bernafsu, hanya berbakti kepada Sang Maha Pencipta. Yang jelas untuk mencapai tahap menyerupai malaikat tentu tidak mungkin, tapi mencoba mendekati sifatnya yang diminta. Kalau selama ini kita beralasan sulit sekali “menjadi” malaikat karena gangguan syaiton yang selalu membawa manusia pada nafsu yang maksimal, maka di bulan ini mereka “dibelenggu”, jadi tidak ada alasan lagi. Tapi kalau melihat hubungan ketiga makhluk ini, setan-manusia-malaikat, saya menterjemahkannya dalam nafsu-wadah-tidak bernafsu dalam konteks ibadah bulan Ramadhan. Jadi, yang membelenggu setan adalah kita sendiri, saat wadah itu kita tutup dari kucuran nafsu yang setan selalu tawarkan dan seketika sifat malaikat memercik pada wadah itu, persis seperti teko, saat teko itu kosonglah kita menjadi malaikat.

Mungkin banyak dari kita menganggap, kenikmatan adalah hawa nafsu yang selalu terpenuhi. Nafsu makan terpenuhi dengan hidangan lezat nan mahal, nafsu kekuasaan terpenuhi dengan posisi dan jabatan, nafsu birahi terpenuhi dengan hubungan seks, nafsu diperhatikan, nafsu dihormati, nafsu dikasihi dan segudang nafsu lainnya. Tapi pernahkah terpikir, bahwa kenikmatan paripurna adalah tidak memiliki nafsu, seperti malaikat, penuh ketenangan, tidak terganggu dengan keinginan ini itu yang bermacam-macam. Dan tentu kenikmatan paripurna itu hanya akan ada di surga, setidaknya itu dalam terjemahan saya pribadi. Artinya, bulan Ramadhan juga sebuah simulasi surga kalau kita berhasil menjaga hawa nafsu, dan akan menjadi simulasi neraka sebagai kebalikan kalau tidak berhasil menaklukannya, hanya akan menyisakan keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi. 

Sekali lagi, tidak mudah menjalani shaum Ramadhan dengan tepat, yang tujuannya membelenggu setan dan mendekati sifat malaikat. Merasakan cipratan surga, saat hawa nafsu pergi sementara untuk siap-siap kembali lagi merongrong manusia. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s