Konsistensi VS Kebosanan

Dua hari yang lalu sempat menonton  Cak Lontong di salah satu program TV membahas soal kebosanan, tentu bahasannya dibawa dengan gaya humor yang cerdas dan mengena, khas dia, berbelit-belit mempermainkan kata dan diksi. “Kebosanan bukan diakibatkan karena sesuatu sering dilakukan” katanya, makan yang sering kita lakukan tidak pernah bikin kita bosan.

Salah satu yang bisa bikin kita terhindar dari kebosanan saat melakukan sesuatu, yaitu konsistensi. Tapi tentu sebuah konsistensi kalau tidak didasari sebuah objektif yang jelas akan susah dilakukan. Dan konsisten untuk jadi seorang yang punya konsistensi bukan hal yang gampang, malah bisa dibilang sulit sekali.

Seorang Mark Zuckerberg sang boss Facebook, konsisten menggunakan baju dengan model dan warna yang sama bertahun-tahun, jeans dan kaos warna abu-abu gelap. Kalau ditanya alasannya, dia menjawab, menggunakan baju dan celana yang sama itu menghemat otak untuk berfikir setiap pagi “saya harus pakai baju apa hari ini?”. Mungkin untuk dia pribadi, memikirkan baju yang akan dipakai hari ini adalah sebuah kemubadziran, mending otak dipakai untuk memikirkan hal yang lain. Sebuah objektif yang sanggup men-drive dia melakukan hal tersebut terus menerus tanpa kebosanan.

Konsistensi, baik itu sesuatu yang positif ataupun negatif ternyata memberikan privilege tersendiri buat yang melakukan. Masih mengambil contoh Zuckerberg, penampilan dia saat bertemu orang-orang penting, bahkan seorang presiden tidak pernah berubah, sama dengan yang dia pakai sehari-hari. Tapi karena konsistensi inilah semua kepala negara memaklumi. Ada pandangan miring sebagian masyarakat kita saat dia menemui Presiden Jokowi, menganggap kurang menghormati lah, kurang respect dan lain-lain. Padahal justru akan sangat aneh, ketika dia menemui Jokowi dengan setelan jas lengkap nan necis, sementara ketika bertemu presiden-presiden yang lain berpakaian kaos abu-abu andalannya.

Untuk soal pakaian dan penampilan, cukup banyak public figure yang punya konsistensi, sebut saja Steve Jobs dengan kaos panjang turtle neck-nya, Sudjiwo Tedjo dengan topi kulit-nya, Bob Sadino dengan kemeja dan celana pendek-nya.

Konsistensi untuk urusan lain pun begitu, ketika kita kenal seseorang dengan konsistensinya terhadap sesuatu, bahkan ketika itu pun berseberangan dengan kita, akhirnya kita akan menghargai. Misalnya seorang Farhat Abbas yang dikenal selalu kontroversial, selalu usil mengomentari sesuatu, mungkin di awal banyak orang mencerca, tapi setelah dia melakukannya secara konsisten, akhirnya kita pun bisa memaklumi bahkan menghargai.

Yang jadi soal kalau seseorang itu plin plan, kadang A, kadang B dan punya standard ganda. Akan sulit menghargai pemikirannya, walau kadang dia berada di satu pikiran dan kadang berseberangan.

Dalam bahasa arab, konsistensi ini istilahnya adalah istiqomah. Agama saya mengajarkan untuk istiqomah dalam kebaikan, salah satu caranya adalah dengan diajarkan mengerjakan ibadah rutin, yaitu sholat 5 waktu setiap hari. Bukan hal yang mudah untuk bisa konsisten melaksanakannya seumur hidup. Objektifnya adalah ketaqwaan, berserah diri dan “merasa” takut, dengan drive-nya adalah pahala, anti-drivenya adalah dosa.

Dalam mengajarkan umat untuk istiqomah, contoh-contoh baik selalu diceritakan, bagaimana para sahabat Nabi konsisten dalam ibadah dan kebaikan. Tapi beberapa ulama mengambil contoh justru dari sang musuh utama yaitu syaitan yang terkutuk. Bagaimana iblis istiqomah dalam menarik manusia menuju keburukan dari jaman Nabi Adam sampai akhir jaman.

Yang jelas, apapun yang kita lakukan, sebuah konsistensi akan menjadi jati diri kita, sekaligus memberikan privilege yang mungkin tidak kita sadari. Tidak mudah, tapi kalau punya drive yang kuat, pasti lama-kelamaan orang akan menyadari dan mengakui.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s