Kemana Perginya Menghargai Pendapat?

on

Sadar enggak sadar, sekarang penghakiman masal pada seseorang karena sebuah perbedaan pendapat sudah jadi hal biasa. Kadang, penghakiman itu diwujudkan dalam sebuah bully  yang sadis dan menjelma jadi pembunuhan karakter. Ketika anda berlawanan arus dengan gelombang mainstream, seketika menjadi pesakitan, dinilai bodoh, tak berotak, tak bermoral dan tidak punya empati. Kebenaran dibentuk dengan pendapat kebanyakan, perbedaan langsung diganjar sebuah predikat “salah”. Padahal tak ada yang mutlak dalam sebuah pemikiran, tergantung dari sudut mana kita memandang.

Tanpa disadari, gelombang mainstream ini dianggap sebuah celah yang menggiurkan buat para pebisnis penggiringan opini, para ahli strategi komunikasi politik. Mereka pintar?, tentu saja, bahkan bolehlah kita bilang jenius. Mengais rejeki dari sebuah bangsa bergejolak dan rawan kegalauan.

Langkahnya mungkin sederhana, tapi konsepnya yang tidak sederhana. Hanya perlu mengumpulkan beberapa orang yang punya pengaruh besar, “berbicara” dengan pesan tersamar tapi dengan tujuan akhir terukur. Isrilahnya KOL, Key Opinion Leader, para penggiring opini.

Dalam dunia sosial media, mereka yang punya pengikut banyak (bisa dibilang aset) adalah para KOL. Yang ketika bicara A, semua pengikut akan berbicara A, atau paling tidak mengamini diam-diam dalam hati. Kalau pun ada penentang-para anti mainstream- itu pun jadi aset untuk membuat pembahasannya makin hot dan terus membahana. Meminjam istilah pertelevisian, menjadikan rating makin tinggi.

Para penentang pendapat mainstream ini adalah para pemberani, siap dengan segala resiko. Dibully, di-unfriend malah level paling sial, dilaporkan ke sang bos sosial media, supaya nantinya di-banned dari keanggotaan.

Kemana perginya menghargai perbedaan pendapat?. Saya pikir sudah pergi dengan cepat semenjak semua diciptakan bipolar, antara lovers & haters, benar & salah, pintar & bodoh, bersih & kotor, bermoral & amoral. Abu-abu mulai pudar.

Padahal kita selalu diajarkan untuk “out of the box”, berfikir tidak seperti kebanyakan orang. Melihat dari sisi dan sudut berbeda. Tapi mental berani berbeda itu mulai dirongrong dengan sebuah usaha penyeragaman, satu suara, satu pendapat. Berbeda pendapat adalah dosa, pantas dihukum dengan “kekejian bahasa”. Dibilang fitnah, hoax dan sebagainya.

Hormat saya tinggi-tinggi buat mereka yang berani bertentangan, berpendapat berbeda dari orang kebanyakan. Mengambil resiko dibunuh karakternya. Demi sebuah kata: idealisme!. Terlepas dari benar atau salah, karena kebenaran tidak dibentuk hanya dengan persetujuan banyak orang, tapi dibentuk dari asas-asas kebenaran.

Saya punya ketakutan, para pemuda penerus bangsa ini akan punya banyak ketakutan untuk menjadi berbeda, kehilangan keberanian mengemukakan pendapat atau mempertahankan pendapat yang tidak populer. Jadilah bangsa yang mudah disetir, digiring opini, lemah dalam analisa dan pemikian. Dipaksa untuk mudah menerima pendapat mainstream, yang bisa saja mewakili status quo, atau kebenarannya diragukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s