Nota Muthia: Di Haribaan Karibia (Bag. 1)

HARI KEDUA

Angin sejuk menerpa wajah, yang bila saja bercermin pastilah bahagia, sebuah kebahagiaan yang mustahil digambarkan. Tepat di depanku terhampar luas samudera Atlantik yang tenang, sedang matahari mulai melayang meninggalkan cakrawala yang kesepian jauh di sana, memantulkan cahaya emas di riak ombak biru pekat. Sepertinya awan tak kuasa mengganggu kebahagiaanku pagi ini, mereka berarak tipis menjauh dari sang surya, membuat langit bersih di seputarannya. Tangan kiriku berpegangan ringan pada batang besi di depan balkon kamar, bukan sebuah hotel tepi laut, tapi di atas kapal pesiar besar nan mewah bernama Oasis of the Seas. Itulah semua alasan kesumringahanku, tapi bukan cuma itu, seorang suami tersayang menemaniku berlayar tujuh hari mengarungi karibia. Dia, yang masih tertidur di ranjang putih dihiasi aksen biru laut adalah Biram, lelaki yang dulu berjanji ketika menikahiku, akan membahagiakan kita berdua dengan bulan madu setahun  berkeliling dunia. Sesuatu yang tak kuminta, bahkan tak pernah terpikirkan dalam benak. Ini masih seperti mimpi, bahkan ketika aku tidak pernah berani memimpikannya. Dan pernikahan berlalu empat bulan lamanya.

Tadi pagi ketika aku terbangun, masih berada dalam salah satu rangkaian mimpi itu, melintasi samudera luas dalam ketenangan luar biasa. Tidak sama dengan kapal ferry yang biasa membawaku melintas Selat Sunda dari Merak ke Bakahuni setiap mudik Lebaran, kapal yang bergoyang-goyang dibawa tarian arus, membuat kepalaku pening dalam mabuk laut. Panas dek kapal membuat berat puasa yang kujalankan, jeans dan kaos lengan panjang yang kubeli di Pasar Tanah Abang melindungi dari sengatan matahari dan kemungkinan masuk angin akibat tamparan kencang tiupannya di badanku. Tapi kali ini aku bisa bertelanjang kaki, bercelana jeans pendek ketat Dolce & Gabbana, sedang kemeja putih satin Ralph Lauren menari ringan menutupi tanktop Missoni warna pink yang membebat. Cahaya surya yang sampai di mataku tertahan kaca mata aviator Tiffany. Wangi manis sunscreen Josie Maran yang tadi kusemprotkan sebelum berdiri di balkon ini menyeruak, mengalahkan kopi di tangan kananku, aroma yang melenakan.

“Pagi cantik” suara berat menyadarkanku dari lamunan, menghampiri, melewati pintu geser kaca lebar.

“Pagi sayang” kukecup bibirnya yang baru saja tersenyum.

“Kamu enggak bangunin aku, kan pengen liat sunrise

“Aku juga telat bangun kok say, besok deh ya” janjiku.

Dia mengangguk kecil sambil tangannya menghampiri cangkir kopi yang dari tadi kugenggam di tangan kanan, menyeruputnya pelan sambil mencium wangi tajam khas Arabica. Dia kemudian menjatuhkan beban badannya ke kursi yang disediakan di balkon ini, wajahnya belum segar, sesekali menguap terkena angin lautan.

“Kita di mana ya?” matanya menyipit memandang horizon nun jauh di sana.

“Entahlah, Cuma lautan yang terlihat” jawabku, dia pun tersenyum kecil. “Sayang, makasih ya udah ajak aku nikmatin semuanya” tanganku memijat pundaknya dari arah belakang sandaran kursi.

Dia menggenggam halus jemariku,  menarik badanku untuk duduk di pangkuannya serta melingkarkan tangannya di perutku. “I love u!” bisiknya di telinga. Kepalaku cuma ingin bersandar di pundaknya, menikmati pelukan di keheningan bentang samudra ini. Balkon ocean view ini memang dirancang begitu privasi, menjadikan lautan seolah kami miliki.

Entah berapa menit kita lalui dalam senyap, hanya batin yang menyampaikan rasa terima kasihku yang sungguh besar padanya. Sampai bunyi kriuk terdengar dari perutku yang mulai kosong, kontan gelak tawa kami berdua pecah, badan Biram berguncang-guncang kegelian.

“Makan apa kita?” wajahnya serius menahan tawa.

“hmm apa ya?, bubur ayam Bang Romli?” tanyaku geli.

Berdua kembali tertawa, mana ada bubur ayam di kapal pesiar semewah ini, apalagi dijual oleh Bang Romli langganan kami.

“Ayo mandi” tangannya mendorongku perlahan agar berdiri dari pangkuannya, dia kemudian berjalan ke dalam kamar melewati ranjang King Size yang sekarang berantakan. Dengan santai melucuti dirinya dari celana boxer dan kaos oblong menuju kamar mandi membelakangiku.

“Hey!” ke arahnya kulemparkan bantal kursi kecil yang tadi tersusun manis di atas sofa di sebelah ranjang. Dia hanya tertawa kecil, memasuki kamar mandi dan menutup pintunya. Tapi tak akan lama, sedetik kemudian wajahnya yang lucu keluar dari arah pintu, sebuah tanda kecil agar aku bergabung. Dengan senang hati aku melakukan yang tadi dia lakukan, berjalan menuju ruangan yang sama melucuti yang menutupi badanku.

Sejam kemudian kita siap, Biram memakai celana pendek abu dan kaos senada yang dua hari lalu kubelikan dari butik Fendi di Aventura Mall di Miami, wangi parfum Armani menyegarkan badannya. Aku selalu suka laki-laki yang wangi. Diriku mengenakan dress putih bahan kaos bermotif bunga cerah yang nyaman keluaran Desigual, roknya menggantung di paha, Biram selalu suka kalau aku memakai rok mini. Sedang jelly wedges putih 7 cm yang kubeli online awal bulan membuat tinggiku melebihinya.

Kami berdua menelusuri area tengah kapal ini yang dinamakan Central Park, di bagian kanan kiri yang menjulang adalah kamar-kamar yang tersusun rapih, balkon-balkon putih membentuk lengkungan menonjol, seperti ombak yang meluap-luap. Suasana di sini persis dengan mall, kadang aku lupa tengah berada di lautan. Gerai-gerai makanan berlomba menarik pengunjung, tapi pilihan kami untuk sarapan yang terlalu siang ini adalah restoran Italia bernama Giovanni’s Table, pasta adalah pilihan yang tepat, tidak terlalu berat. Spaghetti yang kupesan begitu berbeda dengan mie instan yang selalu jadi menu wajib di akhir bulan saat aku jadi anak kost, menunggu kiriman uang dari Bapak. Waktu itu aku adalah siswa keperawatan di daerah Tangerang, pelarian dari cita-citaku untuk menjadi dokter yang tak kesampaian. “Maafkan Bapak ya Muthia, kamu harapan besar Bapak dan Ibu, tapi untuk masuk kedokteran itu perlu uang yang sangat banyak” seumur hidup baru saat itu kulihat Bapak menitikkan air mata. Saat yang pedih, satu sisi aku memahami kondisi keluargaku, di sisi lain aku merasa bagian hidupku dirampok, mimpiku dibuang jauh-jauh.

Biram melahap Gnocchi sambil sesekali menyuapiku, lelehan mozzarella-nya yang gurih mungkin tak akan mengalahkan rasa senang yang aku rasakan beberapa hari ini. Wajahnya selalu mengingatkanku pada sosok perempuan luar biasa, yang mampu menahan sakit mengganggu dengan ketabahan kelas tinggi. Dialah Ibu Kemala, Ibu kandung dari Biram yang menjadi pasienku lima tahun terlewat, aku menjadi perawat pribadinya sampai akhir hayat. Infeksi saluran pernafasan menggerogoti hidupnya, menyesakkan nafas perlahan, pasti menyakitkan. Beliau adalah pasien keduaku, sebelumnya seorang bapak tua pengidap jantung koroner di wilayah menteng kutemani selama hampir satu tahun sampai jantungnya menolak bekerja lagi. Aku memang ditakdirkan kehilangan mereka, tugasku hanya membantu melayani perjuangannya memperpanjang hidup. Setiap malam hari adalah waktu yang menegangkan, memperhatikan gerak nafas, mencari detak, memastikan mereka masih diberi hidup satu hari ke depan.

Ibu Kemala menjadi bagian hidupku selam dua tahun, lebih dekat dari Ibuku sendiri, pekerjaan ini memang menguras emosi, mengaitkan jangkar pada hidup orang lain yang segera akan pergi jauh berlayar ke kehidupan selanjutnya. Suaminya, Muhammad Bashar seorang pensiunan Pertamina, sudah sejak lama meninggal akibat diabetes komplikasi dengan batu ginjal. Bunda, begitu aku memanggilnya seperti juga panggilan anak-anaknya, mencurahkan waktu-waktu tanpa ayah dengan penuh sayang kepada mereka. Anak pertamanya, Mas Amran tinggal di Bandung bersama keluarga, menjadi anggota DPD dan mengabdikan hidupnya pada politik. Biram adalah anak kedua, pada saat Bunda berjuang melawan penyakit, dianggap kakak dan adiknya seorang yang gagal. Dia bercerai dari istri pertamanya, Anjani karena usahanya di bidang IT terseok-seok, memberi beban tambahan pada keluarga lainnya. Adik Biram adalah Seruni, seorang dosen ilmu komunikasi UI yang dinikahi seorang bule asal Perancis yang bekerja di perusahaan provider telekomunikasi besar di Jakarta. Si bungsu adalah Marina, bekerja di perusahaan tambang di Jakarta Selatan, masih lajang dan berpaut dua tahun lebih muda denganku. Di rumahnya di daerah Pejaten, Bunda hanya ditemani aku, Marina, mbok Yem dan suaminya Pak Haidir yang menjaga keamanan, tapi karena kesibukannya Marina hanya berada di samping ibunya saat larut malam dan hari libur saja. Jadi sepanjang hari, hanya akulah yang menemani Bunda, mendengarkan semua cerita masa lalunya. Dari mulut beliau aku jadi kenal betul keluarga Bashar, meski mereka tidak menyadari.

Biram baru menyadari sedari tadi aku memandanginya, sejenak berhenti mengunyah “apa sayang?” matanya begitu bening, mata yang sama yang dimiliki ibunya.

“Enggak apa-apa” tangan kiri yang menopang pipi ikut bergoyang ketika aku menggeleng. Dia tersenyum, senyum paling mempesona dari laki-laki yang tak kusangka bisa juga kucintai. Biram melanjutkan makan siangnya dengan serius tanpa bicara, sebuah kebiasaan keluarga Bashar yang tertinggal.

Setelah makan siang kami memutuskan berjalan-jalan berkeliling, tangan suamiku selalu menggenggam jari-jari kiriku yang tersemat sebuah cincin kawin emas putih bertahtakan berlian kecil yang indah. Kami berkeliling menyusuri dek demi dek kapal pesiar ini, hari pertama kemarin tidak sempat melakukannya, kamar jauh lebih menarik buat kita berdua. Oasis of The Seas adalah kapal pesiar yang sangat besar, meski saat boarding kemarin aku bisa melihatnya dari luar, tapi berjalan berkeliling lebih terasa melelahkan. Meski didominasi oleh orang Amerika, penumpang kapal yang hampir mencapai 6000 orang ini berasal dari ras berbeda, Latin, Eropa, India, Cina, Arab, Afrika dan tentu Melayu. Begitu pun kru kapal, berasal dari seluruh belahan dunia.

Dua jam berkeliling kami sampai di dek paling atas, di mana kolam renang, bar dan aktivitas lainnya seperti flyng fox atau simulasi surfing berada, riuh teriakan anak kecil jenaka bergema, sesekali terdengar gelak tawa para peminum bir membagi  jokes. Kursi-kursi pantai tersebar, digunakan para bule berbikini untuk melakukan tanning berharap kulit eksotis. Kami berdiri bersandar di railing dek, membiarkan angin laut membelai rambut. Biram memelukku dari belakang, sedang aku membentangkan lengan meniru adegan film Titanic, dia menggumamkan nada lagu My Heart Will Go On. Tapi tentu tidak pernah sama, karena bagian paling ujung depan dek utama kapal pesiar ini dipakai untuk helipad. Mungkin hanya keangkuhan kapal inilah yang bisa disamakan dengan kapal legendaris itu, di mana aroma feodalisme begitu kental. Kalangan atas berada di tingkat teratas, menikmati kemewahan, sedangkan para pekerja berada di dek lebih bawah, bekerja keras memastikan semua tamu terpuaskan. Kadang rasa khawatir kejadian Titanic terjadi pada Oasis muncul, tapi aku berusaha keras mengabaikannya. Aku yakin dengan teknologi canggih sekarang bisa menghindarkan musibah Titanic terulang kembali, lagi pula di Karibia mana ada gunung es. Sekoci-sekoci berwarna kuning berderet rapih siap memberi pertolongan kala hal terburuk terjadi.

Di film itu, masih kuingat bagaimana wajah-wajah ketakutan tercebur ke pangkuan samudra yang dingin. Mereka yang terlalu lelah berenang akhirnya tenggelam, tak dapat bernafas. Ingatan seketika berpindah ke saat-saat di mana Bunda kesulitan bernafas di akhir hidup, padahal selang oksigen menancap di lubang hidungnya, mendesak memasuki paru-paru. Waktu itu jam 5 dini hari di R.S Pondok Indah, semua anak-anak berkumpul mendoakan. Mbak Seruni tertidur lelah di kursi tunggu, setelah seharian menunggu ibunya sambil berdzikir. Dokter jaga ICU berusaha memaksa paru-paru Bunda bekerja, tapi akhirnya Tuhan berkehendak lain, beliau wafat tepat jam 5.47. Sedih dan lega berbaur, lega karena penderitaan panjang Bunda akhirnya berakhir. Dua hari kemudian aku berpamitan untuk kembali ke Lampung, sejenak beristirahat sebelum mengambil pekerjaan selanjutnya. Pamitan dengan Mas Amran, Mbak Seruni dan Marina, sedangkan Biram sudah harus kembali sibuk dengan pekerjaannya.

“Eh ini kayaknya asik, cobain yuk” Biram memperhatikan sebuah papan informasi bertuliskan “Solarium Pool” sebuah kolam renang khusus dewasa di bagian depan dek ini.

“Kenapa khusus dewasa ya?” penasaran aku turut membaca penjelasannya yang ternyata karena suhu area yang cenderung hangat akibat atap dan dinding kaca menahan sinar matahari, kemudian karena ada Solarium Bar yang menyediakan minuman untuk orang dewasa.

“Oh, kirain nude area” Tertawa Biram

“hush, kayak berani aja”

“Haha, males lah lihat cowok-cowok nude

“kalau cewek-cewek?”

“Cewek-cewek nudist itu banyakan jelek malahan, mending lihat kamu aja say”

“halah alesan!” kucubit gemas pinggangnya, dia hanya meringis sambil berusaha menghindar.

Setengah jam kemudian, kami sudah berada di antara belasan turis lain yang berendam di salah satu whirpool setelah tadi sempat ke kamar berganti pakaian. Ini memang kolam berendam, bukan untuk berenang, aku bersandar di lengan kiri Biram yang melingkar di belakang leherku, sedang tangan kananya memegang cocktail glass berisi Strawberry Mojito. Kami bersandar di dinding kolam dan sengaja menghadap searah laju kapal. Di bagian depan, kaca-kaca besar menampilkan samudera luas membentang, hanya tiang-tiang struktur yang dibuat sekecil mungkin melintang yang tak sanggup mengganggu pandangan.

Alur air digerakkan oleh beberapa lubang semburan di dinding kolam serta gemericik air mancur kecil di bagian tengah kolam. Benturannya pada otot-otot mengantarkan rasa rileks, sementara matahari sore menerpa wajah yang menengadah. Begitu pun aliran sungai yang tak terlalu deras, tak kuasa menarik-narik badanku menuju hilir saat kecil dulu, airnya dingin. Wangi rumput mengalahkan bau matahari dari badanku dan teman-teman setelah berlarian bermain petak umpet. Aku adalah satu dari lima anak perempuan di antara belasan anak laki-laki sekelas di SD Inpres desa kami di pinggiran Bandar Lampung. Sungai adalah area bermain kami, berbagi dengan para petani yang mencuci cangkulnya dan ibu-ibu yang mencuci pakaian. Aku suka sekali berendam di desakan air dingin ini, memberikan rasa segar dan menaburkan aura tenang setelah melewati beragam masalah. Semua teman tahu di mana harus mencari aku setelah dimarahi orang tua atau guru, aku memang anak perempuan tomboy jahil yang kadang jadi biang masalah, tapi bahagia!.

Setengah jam lamanya kami berendam, rasa hangat sudah mulai menjalar di  kulit, Biram mengajakku berpindah tempat keluar dari kolam menuju kursi pantai yang sengaja diletakkan mengelilingi kolam yang berbentuk lingkaran. Tak kusadari, aku telah berubah menjadi seorang perempuan percaya diri, berjalan melintasi pandangan-pandangan, baju renang one piece bermotif bunga Victoria’s Secret menutup badan yang kini berbentuk ideal. Badan itu, yang dibentuk oleh investasi mahal yang Biram bayarkan selama masa pacaran. Berbagai perawatan baik untuk badan dan kulit aku jalani sampai datangnya hari pernikahan. Perjalanan cinta kami yang meski secara waktu lumayan panjang, hampir dua tahun, tapi secara intens hanya delapan bulan. Itu karena pekerjaanku sebagai perawat pribadi tak banyak memberikan waktu untuk kami berdua.

Dua tahun sepeninggal Bunda, aku dikagetkan dengan teguran yang familiar, “Muthia, benarkah?” Biram menyetopku di lorong Rumah Sakit yang sama tempat ibunya dirawat dulu. Tapi sekarang aku sedang merawat seorang Bapak yang terindikasi gangguan ginjal, tinggal di wilayah Bintaro.

“Eh Mas Biram, iya ini saya Muthia”

“Apa kabar?, sekarang merawat siapa?” tanyanya, pertanyaan yang keluar dari mulut laki-laki yang kini berbeda. Dua-tiga tahun lalu, dia begitu berantakan, seluruh waktunya hanya untuk pekerjaan, sehingga lupa akan penampilannya. Dia menarikku halus ke kantin Rumah Sakit, yang lebih mirip restoran di mall. “Kamu ada waktu kan ngobrol sebentar?” matanya memelas. Pasien saat cuci darah, memberikan aku waktu sejenak untuk beristirahat selama dirawat oleh pihak rumah sakit.

Segera setelah duduk, aku bercerita singkat mengenai hidupku setelah Bunda meninggal, bagaimana aku pulang kampung untuk beristirahat sebulan penuh dan kemudian kembali ke Jakarta untuk merawat pasien baru.

“Saya belum sempat mengucapkan terima kasih sama kamu yang sudah merawat Bunda secara telaten selama dua tahun”

“Enggak apa-apa Mas, itu kan memang sudah jadi tanggung jawab saya”

“Kamu salah, sebetulnya merawat Bunda itu tanggung jawab anak-anaknya, termasuk saya. Tapi pekerjaan yang padat menuntut waktu saya. Saya tenang selama kamu yang merawat, Bunda berada di tangan orang yang tepat” tak kuduga kalimat itu meluncur dari mulutnya, seingatku dulu dia bahkan tak mungkin sebijak ini.

Aku hanya tersenyum menunduk, “sama-sama Mas”, sejenak menjadi kikuk, “Mas Biram sedang apa di sini?” tanyaku memecah kekakuan.

“Di sini?, oh iya saya tadi nengok teman yang dirawat karena asam lambungnya naik, biasa lah lupa makan sama stress kali ya”

Aku sempat menanyakan kabar kakak dan adik-adiknya, dan merasa senang mendengar semua baik-baik saja sepeninggal Bunda. Marina bahkan sudah menikah tahun lalu dengan Mas Nanda, tetangga di ujung jalan yang dulu  berbisnis paket ekspedisi tempat aku menitipkan barang untuk dikirim ke Lampung kala dapat pemberian dari Bunda dan keluarganya. Biram kini sudah membaik, bisnisnya berhasil dan sekarang menempati kantor di Pacific Place.

Seorang perempuan cantik menghampiri kami, badannya tidak terlalu tinggi tapi proporsional, hidungnya mancung dengan wajah klasik menunjukkan campuran beberapa suku. “Biram kamu di sini” matanya memandangiku penuh pertanyaan. “Eh Sandra, iya nih kenalin Muthia, dia perawat Mamaku dulu waktu sakit”

“Hai, Muthia” tanganku menjulur yang disambut hangat tangannya,

“Halo, aku Kasandra”

“Dulu waktu Mama sakit, Cuma dia ini yang bisa diandalkan, sayang banget sama Mamaku”

“Sama Mbak Marina juga Mas” kataku merendah

“Iya, Marina adikku” Biram menambahkan

Apakah dia pacar Biram?, tapi masa iya tidak kenal dengan Marina adiknya. Tapi mereka serasi, Sandra sepertinya baik dan bisa menggantikan Mbak Anjani.

Kami mengobrol sebentar sampai akhirnya harus segera berakhir setelah teleponku berdering, anak Pak Mohtar pasienku memanggil. Segera aku pamit kepada mereka berdua. Biram sempat meminta nomor teleponku yang baru, memang sebuah kebiasaanku untuk mengganti nomor setiap mendapat pasien baru. Supaya bisa fokus merawat, tanpa diganggu masa lalu.

Pertemuan itu sebetulnya biasa saja dan tak berarti apa-apa kalau dua minggu kemudian Biram tidak mengirim sms dan kemudian meminta waktu menelepon kalau aku punya waktu luang. Saat Pak Mohtar tertidur adalah waktuku mengobrol dengannya. Panggilan teleponnya semakin sering, dia senang sekali bercerita dan berbagi apa yang dia rasakan sekarang. Biram rupanya berhasil membalikkan kondisi perusahaannya yang hampir bangkrut menjadi sukses, bahkan sebuah perusahaan internasional besar membeli sahamnya, yang belakangan aku tahu adalah Google inc.

Dia selalu meminta waktu bertemu, tapi hal itu yang tidak aku punya. Hanya saat Pak Mohtar melakukan cuci darah-lah aku bisa memberikan waktuku. Dia selalu datang ke rumah sakit untuk hanya bertatap muka dan mengobrol singkat. Pernah suatu saat dia terbang pulang dari Singapura hanya untuk menemuiku, dan setelahnya berangkat kembali ke sana untuk pertemuan dengan rekan bisnisnya. Semenjak itu setiap sms, telepon dan pertemuan dengannya, berhasil membuat hatiku berdetak kencang, ada perasaan kangen setiap kali tak dapat kabar darinya.

Pertemuan di rumah sakit yang ke enam adalah saat yang tak mungkin terlupakan, waktu itu Biram menununggu di tempat biasa. Wajahnya sedikit berbeda, begitu manis tapi misterius, menyimpan sesuatu yang siap meledak.

“Kamu punya waktu berapa lama?” tanyanya seraya menggeser kursi untukku duduk.

“Sepuluh menit Mas”

Dia memandangi jam tangan di pergelangan kirinya sejenak “oke, kalau begitu aku akan cepat” sambil kembali duduk di kursi. Kedua tangannya diletakkan di atas meja, menggosok-gosok sebentar, dan kemudian meraih tanganku. Mengagetkan, tapi entah mengapa aku tak berusaha menariknya, ada perasaan hangat menjalar di seluruh tubuh.

“Muthia, kamu sudah sangat berjasa untuk perkembangan bisnisku selama ini”

“Maksudnya?, rasanya saya tidak pernah ….”

Segera dia memotong “kamu memang enggak pernah menyadarinya, begini … dua tahun saat Bunda memerlukan perawatan adalah waktu yang sangat krusial buat perusahaanku, ada dia antara kematian dan harapan. Bisa saja aku intensif merawat Bunda, tapi bisnisku pasti akan hancur, semua yang kubangun selama tiga tahun akan sia-sia. Kamu yang penuh kasih sayang memberikan perhatian penuh pada Bunda memberiku kesempatan untuk terus memperjuangkan perusahaanku tanpa rasa bersalah meninggalkan Beliau. Kamu juga tidak sadar kalau aku sering menanyakan kepada Bunda bagaimana perlakuanmu terhadapnya, beliau sangat senang mendapatkan perawat yang tulus, jujur dan tak pernah mengeluh. Dan pasti kamu tidak pernah sadar kalau aku sebetulnya selalu memperhatikanmu saat ada kesempatan melihatmu merawat beliau”

Dia berhenti sejenak, memandangi wajahku, mengecek bagaimana reaksiku, aku sendiri tidak tahu apa yang dilihatnya saat itu. “Aku selalu berangan-angan nanti mempunyai seorang istri yang bisa merawatku dengan tulus seperti itu, hal yang tak pernah kudapat dari Anjani. Dua minggu sebelum meninggal, aku sempat berbicara dengan Bunda kalau berniat melamarmu.” Sebuah kalimat yang membuat reaksi kaget spontan di wajahku, Biram berhenti sebentar, kemudian melanjutkan “Bunda melarangku, selama bisnisku belum berjalan baik. Aku hanya boleh melamarmu saat perusahaan sudah sukses. Itu menjadi sebuah janjiku terhadap Bunda.”

Wajahnya sekarang dicondongkan sedikit mendekat ke arahku, genggaman tangannya pada jemariku semakin erat. “Dua tahun aku kehilangan kontak, rupanya Tuhan mempertemukan kita lagi di saat yang tepat, saat perusahaanku sekarang membaik”.

Matanya kini menatap tajam menusuk jantung, aku tak kuasa bergerak, hanya diam yang menguasai. Biram membenarkan duduknya, membuang gugup. “Maukah kamu menjadi istriku?” sebuah pertanyaan yang tak kuduga datang secepat ini.

Beberapa saat aku hanya terdiam, rasanya ingin mencubit diri sendiri memastikan aku tidak sedang terlelap dalam mimpi. Tapi apakah aku mencintainya?, apakah kalau aku menerima lamarannya dan menjadi istrinya, hal yang sama terjadi pada Mbak Anjani akan terjadi padaku?. Bagaimana reaksi kakak dan adiknya ketika tahu hal ini?, beribu pertanyaan menggelayut di dinding otak.

“Muthia?” Biram menunggu jawaban

“Mas, gimana pendapat Mas Amran, Mbak Seruni dan Mbak Marina soal ini?” aku berusaha menenangkan diri

“Jujur?, aku enggak peduli apa pendapat mereka, aku hanya ingin memenuhi janjiku pada Bunda” katanya tak pernah seyakin ini. “Kalau kamu perlu waktu memikirkannya, silahkan! atau perlu diskusi dengan orang tuamu, aku akan menunggu”

Tak tahu harus berkata apa, aku hanya mengangguk kecil sedang mata menatap kosong. Biram melepaskan genggamannya perlahan-lahan, kemudian berdiri memandangiku tetap tajam, senyum yang sangat menenangkan disertai sebuah penutup yang manis “Aku akan menunggu jawaban kamu, tapi aku ingin kamu tahu kalau aku mencintaimu Muthia!”. Kemudian dia meninggalkanku terkesima.

Tak sanggup memandanginya pergi meninggalkanku di sini, tak terasa hangat lelehan air mata mengalir di pipi. Entah air mata apakah ini, yang jelas bukan kesedihan. Sepertinya malaikat maut yang legam menanti kematian di rumah sakit ini pun menari-nari. Aku hampir tak ingat kapan terakhir seorang lelaki mengatakan mencintaiku dan bagaimana rasanya. Dia adalah Ridwan yang saat SMK melakukannya, menjadi kekasihku hingga lulus ujian. Tiba-tiba aku menyesal, kenapa tak juga kukatakan “iya” sebagai jawaban pertanyaan Biram tadi, tapi aku bukan gadis yang pandai bercinta kasih. Hari itu begitu panjang, degup jantung terus menggema, aku ingin segera bertemu dirinya, tapi jadual cuci darah adalah seminggu kemudian.

bersambung

Bagian 2

baca juga: Prolog

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s