Kerabat Pagi

Meski hari dibelah jadi rata antara setengah gelap dan setengah terang, hidup kita sering sekali enggak mengalaminya secara rata. Itu karena secara alami manusia membagi hidupnya selama 24 jam sehari ke dalam tiga bagian. Sepertiga untuk bekerja, sepertiga untuk istirahat dan sepertiga untuk aktivitas lain. Dan kebiasaan serta profesi menjadikan pembagiannya jadi berbeda-beda.

Hansip (almarhum) kerja di malam hari dan istirahat saat matahari muncul, penjual sayur mulai aktif waktu banyak dari kita masih lelap, belanja dan menyiapkan gerobak atau lapak, kemudian selesai lebih awal sekitar jam 10an, di sore saat kita masih berurusan sama kerjaan, mereka tidur. Drakula yang takut cahaya cari mangsa saat gelap.

Ada golongan orang-orang yang terbiasa tidur larut lewat tengah malam dan bangun siang, salah satunya anak-anak agensi periklanan, Production House, pekerja di club malam, banci taman lawang dan lain-lain. Para sahabat malam.

Golongan mayoritas adalah yang bangun pagi dan kerja secara normal (jam 7-5), termasuk diantaranya anak-anak sekolah. Mereka itulah para kerabat pagi, yang membuat hari menggeliat. Sebagian mereka percaya pada pepatah “Bangun pagi sebelum rejeki dipatok ayam”, sebagian lagi memang patuh pada aturan, sebagian lain dipaksa keadaan.

Di kota-kota besar padat seperti Jakarta, di mana para pekerja tinggal di kota-kota satelit yang jauh, para kerabat pagi ini bahkan bisa jadi masuk ke kategori Kerabat Pagi Banget. Ada yang sudah harus berangkat sebelum adzan shubuh, bisa dibayangkan mereka harus siap-siap dan mandi dari jam 4 pagi, jadi boro-boro ayam matok rejeki, berkokok saja belum. Meski rejeki mereka belum sempat dipatok ayam, ya hidupnya begitu-begitu aja. Kalau rejekinya banyak pasti sudah sanggup beli rumah di kota yang harganya jauh lebih mahal.

Tapi satu yang saya yakin dari para kerabat pagi, mereka (termasuk saya) lebih sehat, karena bisa menghirup udara yang lebih bersih, bisa dapat sinar matahari yang masih bagus untuk kulit dan kesehatan, polusi masih belum banyak, masih bisa mendengar burung berciut riang, masih bisa lihat sinar matahari menembus ranting-ranting pohon. Lebih sehat secara fisik dan psikologis lah.

Memulai aktivitas lebih awal juga jadi bisa mengakhirinya lebih awal, efeknya bisa beristirahat lebih awal.

Tapi dalam 24 jam sehari, awal itu di mana letaknya? setiap orang tentu berbeda, makanya kata Einstein waktu itu relatif, “makhluk” paling misterius. Secara sepakat dan berlaku internasional, kita menentukan jam 00 adalah awal dari hari dan titik pergantian tanggal. Padahal pada penanggalan berdasarkan bulan, pergantian hari dimulai setelah magrib. Jam biologis kita menentukan awal hari adalah jam bangun pagi. Sementara orang bijak menentukan awal hari adalah ketika waktu bermanfaat.

Satu yang saya lihat dan semoga bukan pembenaran, para kerabat pagi cenderung lebih optimis, lebih ceria dan cenderung antusias dan punya energi lebih untuk beraktivitas seharian.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s