Nota Muthia: Di Haribaan Karibia (Bag.2)

Malam itu Biram menelepon, detak jantung ini semakin memberontak, hampir saja gemetar tangan menjatuhkan telepon dari genggaman. Aku menenangkan diri dengan usaha keras, meminta jantung lebih tenang, tapi tak kunjung juga.

“Halo Muthia” suara di seberang sana

“Halo Mas Biram” suaraku terdengar bergetar

“Pak Mohtar sudah tidur?”

“Iya Mas, dia sedang istirahat” kini aku berada di kamarku, tepat di sebelah kamar pasienku tersebut. Dia hanya perlu memencet tombol merah di sebelah bantalnya saat memerlukanku.

“Jadi kamu perlu waktu berapa lama?” menanyakan jawabanku

“Iya!” mulutku tak terkontrol

“heh?”

“Iya, itu jawaban pertanyaan Mas Biram tadi siang” menjelaskan “boleh kan aku menjawabnya di telepon?”

“Muthia, yang bener?, aku tanya sekali lagi ya, maukah kamu menjadi istriku?”

“Iya Mas, aku mau” lega, semua beban yang mengganjal tetiba lenyap menguap ke langit-langit yang temaram

Selanjutnya tak ada kata-kata manis berbunga-bunga menghampiri telinga seperti kisah romantis di sinetron, mungkin karena dia sudah dewasa dan pernikahan kita nanti adalah yang kedua buatnya. Dia hanya menyebutkan langkah-langkah apa selanjutnya yang harus direncanakan, menemui orang tuaku di Lampung, menyampaikan kabar kepada kakak-adiknya, membuat rencana akad nikah dan resepsi. Luar biasa, keadaan berubah dengan sangat cepat, bahkan kemarin aku jauh sekali dari memikirkannya.

“Kamu kapan selesai merawat Pak Mohtar?”

“Itu yang tidak bisa aku tahu Mas, hanya Tuhan yang tahu jawabannya”

“Tapi kan kamu bisa cari perawat pengganti”

“Rasanya aku enggak tega, Pak Mohtar harus beradaptasi lagi dengan perawat baru. Waktu itu aja, aku harus menunggu dua minggu sampai dia benar-benar mau dirawat olehku”

“Kalau begitu, salahkah kalau aku mendoakan beliau cepat wafat?”

“Ih, Mas Biram tega amat!”

Dia tertawa kecil  “mendoakan kan hal yang baik”

“Iya Mas” entah kenapa kali ini aku mengamininya

Pembicaraan malam itu diakhiri dengan sebuah kalimat yang tidak pernah aku ucapkan sebelumnya “Aku juga cinta Mas Biram … daah”

Malam itu aku tak bisa tidur, gelisah dan senang bercampur baur mengacak-acak jam biologisku, tak tenang melakukan apa pun, serba salah. Badan yang sangat lelah akhirnya memaksa otak beristirahat menjelang subuh, aku tertidur di kaki ranjang, meringkuk tak karuan.

Rupanya doa Biram tidak Tuhan kabulkan, Pak Mohtar baru meninggal sepuluh bulan setelahnya. Sepuluh bulan yang terasa sangat panjang  “tapi pantas ditunggu” itu perkataan yang sesungguhnya sangat romantis dan berarti buatku, walau dia mengatakannya tanpa beban. Selama itu kami hanya bertemu saat berada di rumah sakit, selebihnya menelepon dan chat lewat Whatsapp.

Segera setelah tugasku merawat Pak Mohtar selesai, Biram  menyewakan sebuah apartemen tipe studio di daerah Tanjung Duren. Aku dilarang bekerja dengan alasan menyiapkan pernikahan. Dia memintaku mengikuti permintaannya untuk merawat badan di sebuah klinik perawatan lengkap, membuang lemak yang membungkus otot, berolah raga di gym, perawatan kulit dengan teknologi laser, merawat gigi, manicure pedicure dan spa. Aku mengerti betul apa tujuannya, seorang istri dari pengusaha level internasional tentu tak bisa seperti perempuan  yang datang dari dusun. Aku harus bisa menyesuaikan diri, menjadi bagian dari hidupnya, walau tidak mudah, tapi aku melakukannya dengan senang hati.

Hanya perlu waktu 5 bulan sampai diriku berubah menjadi seorang perempuan cantik terawat bertubuh ideal dan bisa membuat iri semua perempuan di Jakarta ini. Tapi tak mudah merubah perilaku, aku yang terbiasa melayani tidak biasa berakting seperti perempuan penuh keanggunan yang inner beauty nya memancar penuh pesona. Percaya diriku belum juga meningkat tinggi, walau tubuh ini sudah seperti putri kerajaan. Saat berada di lingkungan Biram, aku kadang menarik diri, lebih banyak berdiam mendengarkan daripada berbicara. Dia yang mengerti kegalauanku berinisiatif menyekolahkanku di kursus bahasa inggris dan sekolah kepribadian, sehingga pelan-pelan kepercayaan diriku timbul. Tiga bulan sudah aku sudah berubah secara lengkap, seorang perempuan paripurna yang cocok menjadi istri seorang CEO dan founder perusahaan IT ternama.

Lamaran Biram kepada kedua orang tuaku berjalan lancar, mereka mengerti walau calon mantunya adalah seorang duda beranak satu. Sedangkan di keluarga Bashar, hanya Mbak Seruni yang agak berat menerima dan menyetujuiku, tapi akhirnya luluh juga saat pernikahan semakin dekat. Marina malah sangat senang, kami berdua memang punya chemistry yang cukup baik yang terbangun sejak bersama-sama merawat Bunda.

Pernikahan kita empat bulan lalu mengantarkanku pada janji yang dia sampaikan, menkmati satu tahun bulan madu berkeliling dunia. Waktu satu tahun pula untuk menunggu rumah yang Biram persiapkan di Pondok Indah selesai. Rumah yang sangat besar, dengan berbagai fasilitas lengkap, bahkan Biram mempersilahkan aku merencanakan dapur sesuai keinginanku. Sebuah kenyataan, yang bahkan tidak pernah menjadi mimpiku.

Seminggu setelah hari pernikahan, Biram mengajakku berbulan madu di Maldives, menempati sebuah resort untuk memanjakan diri. Di sanalah pertama kalinya dia memintaku mengenakan bikini two pieces yang membuatku ragu karena aku bukan tipe pamer body. Saat pertama itu begitu kikuk, rasanya ingin selalu bersembunyi di balik semak-semak. Tingkah lucu yang dihasilkan dari rasa minder itu membuat Biram tertawa-tawa. Waktu itu dia cuma berkata “kenapa harus malu sih?, enggak ada yang kamu kenal kan di sini?”, ya memang hanya bule-bule dan jutawan berwajah oriental berkeliaran di sini. Aku berusaha untuk cuek saja dan percaya diri, meskipun sulit, hari ketiga akhirnya berhasil melakukannya dengan baik. Mungkin karena perempuan-perempuan lain pun berbikini di sini, jadi ada rasa kebersamaan. Pernah sekali aku bertanya “Sayang, kamu kan mengeluarkan uang yang sangat banyak buat aku perawatan, terus sekarang membiarkan laki-laki lain memandangi tubuhku, apa enggak rugi?”. “haha enggak lah, mereka boleh saja bisa memandangi badanmu, tapi kan cuma aku yang bisa menyentuhnya”.

Jam menunjukkan angka 5 sore waktu Amerika, saat aku membangunkan suamiku yang tertidur di pinggir kolam. Segera kami bergegas menuju kamar, malam ini dia menjanjikan dinner romantis di salah satu restoran di kapal ini. Turis lain pun mulai meninggalkan area Solarium Pool, mungkin punya maksud yang sama. Lampu-lampu di kapal mulai dinyalakan, memberikan kesan romantis, pemanasan menuju malam nanti. Sepanjang lift menurun menuju kamar, Biram selalu memelukku dari belakang walau ada orang lain di dalamnya. Di sini, menjadi malu adalah sebuah kerugian.

Jam 7 malam kami berdua selesai bersiap, aku menggunakan mini dress warna biru gelap Herve Leger backless multi strap, seperti mummi yang dibebat rapi, tapi dengan sentuhan artistik, sepasang heels Gianvito Rossi warna silver serasi dengan tas tangan Givenchy. Rambut ikal ini kubiarkan tergerai, make-up dari Lancome kusapu secukupnya.

“Sayang, you’re so stunning” puji Biram, yang selalu kupercaya tulus dari hatinya

Thanks say” aku melayang di langit karibia

Dia tak kalah menawan, mengenakan setelan jas rapi biru gelap Tom Ford tanpa dasi, memberikan kesan santai tapi tetap berwibawa. Aku sedang memandangi seorang Direktur Perusahaan IT sukses dan dikenal di kalangan dunia digital.

“Kamu juga stunning sayang” pujiku

Dia tersenyum, sambil menyisir rapi rambut kelimis pomade andalannya saat harus formal.

Berjalan kita menuju dek 11 di mana Chef’s Table berada, sebuah restoran yang bisa dibilang salah satu yang terbaik di kapal ini.

“Sayang, maaf ya aku enggak dapat meja untuk berdua, ternyata agak susah bisa dinner romantis di kapal ini”

“Jadi gimana?” tanyaku heran

“Kita lihat nanti ya”

Ternyata Chef’s Table ini menyediakan sebuah meja panjang berkursi 14 orang, suasananya memang tidak semewah restoran di hotel bintang lima, semoga makanannya tidak sesederhana suasananya. Sebelumnya, selama beberapa belas menit para tamu diajak menikmati pre-dinner champagne di sebuah Library. Aku lebih memilih white wine, dan mengobrol seperlunya dengan para tamu yang umumnya berumur lebih dari kami berdua. Beberapa kali Biram menggenggam tanganku dan tersenyum untuk menghilangkan rasa kecewaku. Aku membalas senyumnya sebagai tanda baik-baik saja.

Makan malam dipimpin oleh seorang Sommelier yang mempresentasikan menu yang disajikan, memperkenalkan Table Manager dan Chef yang bertugas. Sayangnya aku lupa nama-nama mereka, aku memang tak pandai mengingat nama orang, apalagi yang asing di telinga.

Lima courses yang disajikan selalu dipasangkan dengan wine, mulai dari salad, soup sampai main couse berupa steak tenderloin yang susah sekali kuingat namanya, tapi aku yakin Biram pun demikian, walau dia selalu mengangguk-angguk pura-pura mengerti ketika Sommelier menyebutkannya. Dinner ditutup dengan dessert berupa berbagai hidangan coklat yang menggiurkan. Sebuah pengalaman makan malam yang baru buatku, rasa makanannya sangat enak, cukup mengobati kekecewaanku akan romantic candle light dinner yang tak terlaksana.

Setelahnya kami berjalan-jalan di sekitar Central Park, Biram menggapit pinggangku, aku bersender di pundaknya. Di atas, bintang berkedip-kedip genit. Dari pantulan kaca restoran, aku bisa melihat kami berdua yang sedang dimabuk cinta. Suamiku yang kini mengenakan setelan jas mengingatkanku akan resepsi pernikahan kami.

Bertempat di ballroom hotel Dharmawangsa di bilangan Jakarta Selatan, malam spesial ini dihadiri oleh orang-orang penting rekan kerja Biram. Ada menteri Kominfo, para pejabat kementrian, Managing Director Google Southeast Asia Operation, Country Head Google Indonesia, beberapa ahli IT ternama, orang-orang dari perusahaan lain dan beberapa selebriti yang menjadi talent di promosi produk perusahaan Biram. Para perempuan keluarga Bashar menggunakan kebaya modern berwarna biru toska, sedangkan keluargaku yang kikuk menggunakan kebaya serupa berwarna merah marun. Berkali-kali kudengar Bapak berdecak kagum memandangi interior hotel yang kini dilengkapi dekor mewah dari tim WO Mbak Rina Gunawan. Ibu terharu sepanjang resepsi, begitu juga diriku, tak pernah menyangka hari pernikahanku akan sebegini luar biasa. Gaun pengantinku dibuat oleh Ivan Gunawan, yang berkali-kali memuji kecantikan diriku, dan gaunnya tentu. Biram suamiku mengenakan setelan jas berwarna abu-abu yang necis, wajahnya begitu cerah, tak menampakkan kelelahan setelah beberapa hari ini harus mengawasi persiapan pernikahan ditemani Ikram, sahabatnya.

Tidak ada dangdutan, yang biasanya jadi bagian pesta perkawinan di kampungku, yang ada penampilan band  membawakan jazz berkelas. Ponakan-ponakanku melahap setiap menu yang disediakan, kesempatan yang belum tentu datang dua kali. Biram hanya tertawa-tawa melihat kelakuan mereka, dan memintanya menghabiskan semua makanan kalau sanggup.

Jam sudah menunjuk ke angka 11, Biram mengajakku pulang ke kamar, aku pun setuju karena rasanya sudah tidak ada lagi yang bisa kita nikmati malam ini. Penat rasanya, walau hanya berjalan-jalan sedikit, kami memutuskan  tidur cepat, karena besok pagi harus bangun pagi untuk melihat sunrise. Sebetulnya aku yakin rasa tak segar ini akibat minum wine tadi di Chef’s Table.

Bersambung

 

Bagian 1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s