Pepolution, Efek Pep Pada Manchester City dan Liga Inggris.

Ketika Pep Guardiola mulai memegang kursi kepelatihan Manchester City di awal Juli 2016, banyak pengamat yang memperkirakan akan terjadi perubahan signifikan baik untuk City, maupun untuk liga Inggris keseluruhan.

Saya tidak akan membahas detail soal pembentukan tim dan aktivitas transfer, tapi lebih kepada perubahan yang Pep lakukan.

Yang paling pertama menarik untuk dibahas tentu soal taktik, atau yang banyak disebut sebagai “Pep’s System”. Karena hal ini yang jadi banyak pertanyaan di kalangan pengamat dan media. “Bagaimana Pep mengadaptasi tiki-taka di Liga Inggris yang terkenal agresif dan keras?”. “Apakah para pemain bisa mengadopsinya?”. “Butuh berapa lama untuk beradaptasi?”. Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Dalam masa pra-musim, yang sangat pendek. Bisa dilihat para pemain, terutama yang musim sebelumnya ada di bawah kepelatihan Pellegrini begitu kikuk dan terlihat kesulitan menerjemahkan apa yang Pep mau di lapangan. Dua pertandingan, melawan Bayern dan Arsenal, saya pribadi sempat pesimis City bisa beradaptasi dengan cepat. Perlu waktu setidaknya setengah musim untuk benar-benar bisa menyatu, itu pikiran saya.

Tapi setelah 4 pertandingan kompetitif, lawan Sunderland dan Stoke City di EPL serta dua pertandingan home-away melawan Steaua Bucharest di penyisihan UCL, dunia mulai terbelalak. Bagaimana ternyata taktik Pep sudah mulai bisa dikuasai para pemain meski belum sempurna 100%.

Lantas apa saja yang berubah?

1. AGRESIVITAS

Ya, secara tim selama ini City dianggap tim yang kurang memiliki agresivitas. Padahal punya beberapa pemain cepat seperti Raheem Sterling, Jesus Navas dan Aguero. Taktik posesif Pellegrini kadang hanya berputar-putar di lapangan tengah tanpa menghasilkan peluang berbahaya. Pep membuat City agresif secara kolektif. Pergerakan tanpa dan dengan bola yang cair, pressing ketat saat lawan memegang bola, serta sentuhan-sentuhan pendek ala tiki-taka yang dipadu operan daerah yang panjang. Bahkan agresivitas ini sudah terlihat mulai dari Kiper, Caballero yang dinilai lebih cocok dengan sistem Pep beberapa kali berfungsi sebagai libero, berani keluar dari sarangnya.

2. SISTEM PERTAHANAN KOLEKTIF

Musim kompetisi tahun kemarin, City memiliki sebuah lubang menganga yaitu pertahanan!. Dan lubang ini sering kali jadi bulan-bulanan lawan untuk mengalahkan klub setangguh City. Garis pertahanan tinggi yang diset oleh Opa Pelle, tidak disertai kecepatan yang cukup dari para pemain belakang, alhasil para penyerang cepat lawan seringkali merepotkan dan mengalahkan skuad bertahan City. Seringkali kita lihat pertahanan begitu panik menerima serangan cepat lawan, dan Central Back yang tersedia, Mangala, Otamendi, Demichelis terlihat begitu lamban, ditambah dengan kondisi Kompany yang terus menerus didera cidera. Tahun ini Pep menerapkan sistem pertahanan yang berbeda, pertahanan dimulai dari penyerang! dan dilakukan oleh semua pemain dengan melakukan pressing ketat ketika kehilangan bola. Sering sekali para pemain yang sebelumnya dinilai tidak bisa bertahan seperti Aguero, David Silva melakukan pressing secara kontinu. Hasilnya, meskipun belum 100% sempurna, pertahanan City semakin solid dan kepanikan tidak telalu sering terlihat di lini belakang. Bahkan saat pra-musim, ketika City belum merekrut John Stones dari Everton, City memainkan bek tengah muda Tosin Adarabioyo (18th) dan Aleks Kolorov yang aslinya bek kiri, tapi tetap saja pertahanannya terlihat lebih solid dibanding musim lalu. Dengan hadirnya John Stones serta kembalinya Otamendi dari tugas tim nasional pertahanan City semakin solid. Apalagi ketika nanti Kompany pulih dari cidera.

3. TAKTIK PEP

Pellegrini, saat musim pertama datang membawa sebuah sistem penyerangan baru yang menggebrak. Menyerang total dengan margin gol yang tinggi, sehingga satu gol kebobolan bisa dibalas dengan 2 atau 3 gol baru. Sangat produktif dan menyenangkan untuk disaksikan. Tapi ketika dua musim berikutnya para pelatih lawan sudah mulai mengerti dan kenal dengan taktik Pelle, mereka mulai menemukan sistem penangkal. Opa Pelle dinilai sangat kaku dalam penerapan taktiknya, sangat sedikit melakukan eksperimen dan perubahan. Formasinya begitu kaku dan tradisional, antara 4-2-3-1 atau 4-4-2, pada akhirnya mudah dipatahkan, apalagi Liga Inggris kedatangan pelatih-pelatih baru kelas dunia. Agak sedikit berbeda di level Liga Champions Eropa, Pelle malah kadang menerapkan strategi yang lebih oportunis, bertahan dan melakukan serangan balik di waktu yang tepat. Sebuah taktik yang cukup mengagetkan tim lawan. Taktik ini cukup berhasil membawa City melangkah lebih jauh di kompetisi tertinggi Eropa tersebut, berhasil menjadi semi finalis.

Berbeda dengan Pep, dalam beberapa kali pertandingan pra-musim dan pertandingan kompetitif awal, kita bisa melihat penerapan beberapa taktik berbeda dari Pep. Bahkan saat itu ada pendapat dari para fans, susah sekali memprediksi taktik seperti apa yang akan Pep terapkan dalam sebuah pertandingan, dan siapa saja pemain yang akan menjadi starting XI. Beberapa kali Pep merubah formasi dari 4-2-3-1 ke 4-3-3 atau kadang 4-1-4-1, kadang 3-5-2 atau 3-5-1-1. Bahkan dalam bertahan dan menyerang menggunakan pola yang berbeda berubah dari 4-1-4-1 menjadi 3-2-4-1 misalnya. Salah satu yang cukup menjadi pembicaraan adalah ketika menggeser dua bek sayap menjadi holding midfielder saat memulai serangan dan kemudian membiarkan penyerang sayap menjadi sangat melebar.

4. MERUBAH PEMAIN

Salah satu kehebatan Pep adalah merubah pemain, baik secara mental maupun dalam hal posisi bermain yang berbeda dan yang terakhir mempromosikan pemain muda untuk bersaing dengan pemain senior. Kepindahan Pep ke City membawa angin segar sekaligus rasa penasaran. Kira-kira pemain mana yang akan dipindahkan posisinya?, pemain muda mana yang akan dipromosikan?, pemain mana yang akan didepak dan pemain mana yang penampilannya akan meningkat?. Seorang Pep sering dibilang sebagai pelatih jenius, perfeksionis dan sekaligus menuntut banyak hal dari para pemainnya. Adalah Raheem Sterling salah satu pemain yang penampilannya didongkrak sang pelatih, saat akhir musim lalu dan selama Piala Eropa sang winger tampil jauh dari bagus dan jadi bulan-bulanan media serta bahan bully di dunia maya. Harga transfer yang tinggi tidak sebanding dengan apa yang dia perlihatkan di lapangan, dan diperkirakan menjadi salah satu pemain yang akan didepak. Alih-alih mengikuti arus, Pep malah menyemangati Sterling dan menyampaikan pada media bahwa dia punya rencana untuknya. Hasilnya langsung terlihat di awal musim ini, Sterling tampil bak pemain baru, dengan energi dan semangat yang luar biasa. Beberapa pemain lain yang sempat menurun performanya, sekarang sudah mulai memperlihatkan perubahan drastis, David Silva mulai kembali mendapatkan “keajaibannya”, Fabian Delph mendapatkan kepercayaan diri yang tinggi, Zabaletta tampil trengginas, Alexandar Kolarov seperti pemain rekrutan baru.

Merubah posisi, adalah salah satu daya tarik sang pelatih. Para pengamat dan pecinta sepak bola selalu penasaran dengan hal ini. Di beberapa bertandingan (pra musim dan kompetitif) Pep sudah merubah beberapa posisi pemain dengan hasil yang luar biasa. Pertama adalah Fernandinho yang beberapa kali digeser menjadi bek tengah, persis seperti Mascherano saat di Barcelona. Kedua yang cukup fenomenal adalah Aleks Kolarov yang digeser dari bek kiri menjadi bek tengah. Penampilannya yang dinilai sudah menurun di bek kiri sangat berbeda ketika dia menjadi bek tengah, sangat tenang, membaca permainan, unggul di bola-bola atas, nyaman menggiring bola dan punya operan yang akurat. Kemudian David Silva yang digeser lebih ke belakang menjadi holding midfielder walau akhirnya tetap digeser kembali ke pemain tengah bertipe menyerang. Seorang Yaya Toure pernah dicoba menjadi striker saat melawan Steaua Bucharest dan tampil cukup impresif. Fabian Delph yang seorang holding midfielder dicoba berposisi nomor 9 di belakang striker. Dan diduga akan banyak kejutan lainnya di depan.

Pemain muda yang dicoba dan cukup menjanjikan baik selama pra musim maupun di pertandingan resmi diperkirakan akan bertambah selama periode Pep. Perhatiannya pada pemain muda memang salah satu alasan penunjukkannya sebagai pelatih utama. Ada beberapa bibit muda yang tampil memukau dan cukup mendapatkan pujian dari fans, pengamat maupun Pep sendiri. Angus Gunn, kiper muda Inggris masa depan, memukau pada adu penalti melawan Borussia Dortmund laga di pra musim, dia punya modal yang sangat bagus untuk menjadi kiper masa depan City, badan jangkung, keberanian tinggi serta olah kaki yang bagus, satu yang disukai Pep dari seorang penjaga gawang, Gunn tinggal perlu meningkatkan refleks dan kecepatan. Tosin Adarabioyo, bek tengah jangkung berumur 18 tahun, cukup mendapatkan pujian karena penampilannya yang tenang, tangguh dan juga berani berduel. Meski membuat blunder di pertandingan pra musim melawan Arsenal. Dua fullback yang berseberangan, Maffeo di kanan dan Angelino di kiri, menjanjikan penerus di masa depan. Aleix Garcia, playmaker calon pengganti David Silva. Masih ada beberapa pemain muda lain yang saati ini dipinjamkan ke klub lain agar mendapatkan pengalaman kompetitif, dua tiga tahun lagi mereka akan cukup matang untuk masuk skuad utama City.

5. KEBUGARAN

Pressing ketat yang dituntut Pep mebutuhkan kebugaran pemain yang prima, pemain dituntut lebih banyak bergerak tanpa bola. Perubahan signifikan di saat Guardiola datang adalah pola latihan kebugaran dan pola makanan sehat. Sekarang pemain berlari lebih banyak, dengan rata-rata peningkatan sebanyak 2 Km per pertandingan. Pemain yang memiliki berat badan melebihi standard akan diminta berlatih sendiri dan tidak diperkenankan berlatih di lapangan. Tercatat beberapa pemain harus menurunkan 5-7 Kg dalam waktu 2 minggu, seperti Yaya Toure dan Samir Nasri. Pemain lain harus menurunkan sekitar 2-3 Kg, misalnya David Silva, Zabaletta dll. Hasilnya langsung terlihat, pemain lebih fit, lebih agresif dan punya daya tahan cukup baik. Tahun kompetisi 2015-2016 City dihantui cidera, beberapa pemain kunci harus absen dalam waktu lama. Bergantian mereka didera cidera mulai dari Kompany, Nasri, Aguero, Silva, Otamendi, Mangala, Sterling, De Bruyne, Zabaletta, Sagna dll. Pola kebugaran yanga ketat diharapkan mengurangi resiko cidera. Di luar lapangan, pembatasan makanan tidak sehat seperti pizza saat setelah pertandingan home ditiadakan. Pep pun memberlakukan latihan kecil di pagi hari sebelum pertandingan di siang atau sore, agar otot-otot lebih siap.

6. KEHARMONISAN RUANG GANTI

Satu yang ditekankan oleh Pep ke semua pemain adalah, tidak ada yang lebih istimewa di anatara mereka. Pemain yang akan ditampilkan adalah yang fit, siap secara mental dan sesuai kebutuhan taktik. Pep tidak segan-segan “membuang” pemain yang dinilai punya kecenderungan “dapat mempengaruhi” ruang ganti. Pemain tersebut rata-rata adalah pemain senior dan berpengaruh. Joe Hart salah satunya, dia memang punya pengaruh kuat di luar lapangan. Yaya Toure secara pelan-pelan “dikurangi” pengaruhnya dengan sering membaku cadangkan, bahkan dia tidak masuk di daftar pemain City di UCL. Nasri akhirnya memilih pergi ke Sevilla daripada tetap bertahan. Pemain-pemain mahal pun tidak segan dia “buang”, tercatat Bonny, Mangala, Hart, Nasri, Mangala harus dipinjamkan ke klub lain dengan konsekuensi City tetap ikut membayarkan gaji mereka untuk meringankan klub tujuan peminjaman. Yang jelas, Pep selalu menyampaikan pesan tersirat kepada seluruh pemain dan staff :” saya adalah Boss, ketika City merekrut saya sebagai pelatih, maka keputusan ada sepenuhnya di tangan saya!”. Dan, ketika semua mulai terlihat hasil positifnya, maka semua orang akan berkata: “oke Pep, kamu adalah bossnya!, kami percaya dirimu sepenuhnya”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s