Nota Muthia: Di Haribaan Karibia (Bag.3)

on

HARI KETIGA

“Ayo cepat, nanti ketinggalan” aku menarik tangan Biram di lorong kabin menuju lift ke dek teratas

“Iya, tunggu sayang sendalku nih” Biram melambat

“Ayo sayang” aku menunggu di ujung lorong

Pagi ini kami berhasil bangun awal, meski agak kesiangan juga. Tadi Biram membuka jendela balkon dan sempat terhanyut dengan pemandangan di luar sana. Dan tiba-tiba otak briliannya memberikan ide untuk melihat sunrise tersebut di dek teratas. Kami tertawa terengah-engah dalam lari, lorong senyap menunggu yang terlelap berubah jadi riuh.

Ketika pintu lift dek terbuka, seketika warna kuning kemerahan menerjang apapun yang bertatap muka dengan sang surya, seperti sapuan kuas ekspresif seniman pada kanvas putih. Aku terhenyak, merinding dan hampir tak kuasa menangis haru. Begitu indah, matahari yang seolah melayang terbang tak terbendung garis horizon di ujung timur, tepat dari arah kiri depan kapal. Warna putih dek dan dinding meleleh melawan agungnya cahaya itu. Kulihat Biram terdiam, terpesona, wajahnya yang kini menguning menoleh ke semua arah, mata itu begitu berbinar.

“Oh … indahnya” hanya itu yang sanggup keluar dari mulutku

Setelah tersadar dari pesonanya yang menghipnotis, barulah kami menemukan kembali diri sendiri, dua orang turis asing yang sedang berbulan madu di kapal pesiar ini. Biram mengeluarkan ponselnya, dan memotret apa pun yang menurutnya menarik, semuanya begitu instagram-able. Kadang aku berpose ketika mata kamera  menemukanku. Tapi aku sudah tak lagi mengupload foto-foto yang sesungguhnya menarik seperti ini ke timeline sosial mediaku.

Dewi, salah satu temanku di akademi perawatan yang dinikahi seorang anggota DPRD di  Semarang  selalu menjadi bahan cibiran, karena membanjiri halaman dengan foto-foto pamer kekayaan saat dia dan keluarga menikmati indahnya hidup. Berlibur di pantai, menginap di hotel, menaiki pesawat terbang, belanja di mall dan wisata kuliner di tempat-tempat indah di mall. Kami sering terprovokasi, bukan karena kekayaannya tapi justru karena susahnya hidup kami sendiri. Iri berubah menjadi dengki, tapi kami tak kuasa juga mendepaknya dari pertemanan sosial media. Semenjak aku berpacaran dengan Biram, kesempatan untuk membalas dendam terbuka lebar, bukan demi diriku, tapi demi semua teman-temanku yang lain, yang sebetulnya malah tidak terwakili. Aku yang awalnya pasif, menjadi sangat aktif memposting foto-foto saat merawat diri di salon dan spa terkenal, nge-gym, belanja pakaian dan sepatu di mall, makan di restoran hotel bintang 5, mengendarai mobil mewah dan berlibur sambil melakukan foto pre-wedding. Tapi, alih-alih menjadi minder, Dewi malah melakukan serangan, menuduhku perebut harta warisan, perempuan simpanan dan perusak rumah tangga orang. Aku meradang, dan akhirnya menarik diri dari pergaulan sosial media. Entah apa yang akan dikatakan Dewi sekarang, melihatku berkeliling dunia dalam kemewahan yang tak mungkin dicapai seorang istri anggota DPRD. Mungkin aku akan sangat puas tertawa membayangkan dia membatin, merengek-rengek ke suaminya untuk lebih tamak mencari kekayaan, tapi apa gunanya?. Kemewahan ini untuk aku nikmati, bukan untuk menyakiti.

Jam 9 ketika mentari meninggi, aku mengajak Biram lari pagi, kebetulan kapal pesiar besar ini punya jogging track di dek 5. Bagusnya, trek ini tidak terbuka penuh tapi beratap sehingga teduh dari sengatan matahari, beberapa bagian terbuka lebar di dinding luar, memperlihatkan laut luas dan sekoci-sekoci  penyelamat yang besar berwarna kuning. Letaknya di bagian terluar kapal, sehingga terasa mengelilingi dek. Di beberapa bagian banyak ditemukan tulisan “You can do it!”, menyemangati kami berdua.

Semenjak nge-gym, aku jadi gila olah raga, lari, yoga, aerobik jadi bagian hidupku, bukan lagi kebutuhan tapi sudah jadi life style. Aku menjadi member di beberapa klub penyedia fasilitas olah raga. Biram yang perutnya membuncit terlalu sering duduk di depan komputer jadi sasaranku untuk ditulari. Aku sering mengajaknya lari pagi di car free day, atau kalau ada kesempatan jogging malam di GBK. Dia sebetulnya pernah jadi lelaki fit dan atletis saat masih kuliah, setidaknya itu pengakuannya, tapi tuntutan kerja membuatnya tak lagi sama. Tapi aku tak mau pengantinku nanti badannya tidak ideal, perutnya harus rata supaya jas resepsinya tak menggelembung. Walau tidak mudah, Biram akhirnya berhasil memperbaiki badannya dalam waktu 3 bulan, tentu dengan bantuan liposuction.

Hari ini kita memutuskan berkegiatan yang sifatnya fisik, sebelum besok menikmati keindahan suasana Philipsburg. Aku cukup excited dengan pulau persemakmuran Belanda ini, sebelum kemarin onboard sempat sedikit-sedikit googling mencari info-nya.

Oasis of The Seas punya satu wahana yang jadi andalan di deck 17, yaitu FlowRider surf simulator yang sebetulnya sih tidak terlalu istimewa, persis dengan yang ada di Waterpark Pondok Indah. Satu-satunya pembeda adalah, kita memainkannya di tengah-tengah lautan. Sangat menyenangkan saat aku atau Biram tersungkur dan megap-megap menghindari arus air deras yang menghantam muka. Aku yang belum pernah surfing awalnya kikuk, tapi setelah beberapa lama akhirnya lumayan menguasai dan rasanya sekarang sanggup melakukannya di lautan sebenarnya.

“Sayang, yakin enggak mau coba?” tanyaku saat operator memasang tali webbing di pinggangku,

“Aku terlalu tua untuk flying fox

“haha, bohong! Kakek tua tadi masih main”

“Terlalu banyak orang yang bergantung nasib padaku kalau mati jatuh”

“ah kamu banyak alasan say”

“Ayo cepat meluncur, haha” Biram mendorong badanku yang belum sepenuhnya siap, hanya jeritan melengking yang bisa keluar dari mulutku. Jantung berdetak kencang, adrenalin membuncah, kengerian berpadu dengan rasa kagum. Dari atas sini, seluruh Central Park bisa kulihat cepat mendekat didorong gravitasi. Biram, awas ya aku balas nanti.

Menghabiskan sore yang belum matang, kami menikmati minuman di Pool Bar sambil memandangi kolam renang yang ramai. Aku memberikan kesempatan penuh buat Biram menyaksikan perempuan-perempuan berbikini berseliweran.

Malam harinya karena terlalu lelah, Biram memutuskan makan di kamar dengan memanfaatkan room service. Sea food yang disajikan cukup memuaskan walau tidak sangat istimewa, tapi aku memaklumi setelah mendengar cerita Biram tentang bagaimana ratusan ton bahan makanan harus dibawa dan diolah di kapal pesiar besar ini. Para koki dan puluhan asisten harus bergerak bak pasukan militer, bekerja terstruktur, rapi dan cepat melayani hampir 6000 orang yang lapar di waktu hampir bersamaan. Bisa dibayangkan, sebuah kesalahan bisa berakibat fatal dan mengganggu pelayanan.

Semakin larut, kami hanya mengobrol sambil menonton tayangan TV yang tak terlalu penting, sementara Biram sempat membuka laptopnya, mengerjakan sesuatu.

“Sayang, aku pijit ya?” tawarku

“Enggak perlu sayang, kalau mau dipijit aku ke spa aja, kasihan kamu kan capek juga”

“Sama sekali enggak kok, salah satu tugas istri kan bikin suami rileks” jari-jariku memijat kepala Biram tanpa diminta, rupanya dia tak kuasa menolak

“hmm enak juga pijatannya” Biram menyingkirkan laptop dan mulai menutup mata menikmati

15 menit ke depan perbincangan kami mengantar Biram tertidur, entah karena objek pembicaraan tak menarik, atau pijatanku yang dahsyat.

Tersenyum aku melihat dia yang kucintai terlelap, seperti bayi yang bermimpi indah, kukecup pelan dahinya, sangat pelan agar tak membangunkan. Memandangi seluruh ruangan, aku merasa bersyukur, bisa saja yang berada di sini saat ini adalah orang lain, bisa Kasandra, bisa Anjani atau satu dari jutaan perempuan lainnya. Aku merasa sebagai pemenang yang terpilih, bukan karena kelebihanku, tapi karena apa yang kuberikan pada hidup.

Bergerak menuju cermin, memandangi diriku yang bukan seperti masa lalu. Seluruh apa yang kulihat adalah perwujudan uang dalam bentuk kesempurnaan. Kulit ini sangat mulus dan merata, tanpa kerutan, tanpa noda, memancarkan kecemerlangan. Rambut ini adalah kilau mempesona, mengeluarkan warna berbeda terkena cahaya. Mata bulat tak berkantung, dilindungi bulu lentik hitam, ditulis alis disulam simetris. Hidung menjadi bangir dengan lubang menyempit imut. Mulut dibalut gincu merah mengkilat cerah. Gigi ini berjejer rapi, putih tak bernoda pun tak berlubang hitam. Gemerlap anting, kalung dan gelang dari mineral cemerlang yang diolah tangan-tangan terampil yang tetap pada nasibnya. Kubuka jubah tidur satin tipis yang menutupi tubuh tak berlemak yang kini dibalut lingerie merah muda. Lihatlah lengan dan pahaku yang  tak bergelambir.

Make-up ini dapat membiayai mereka yang merindu sekolah, gigi ini dapat ditukar dengan kendaraan petani mengantar hasil panen, perhiasan ini adalah rumah bagi mereka yang tidur beratap langit, kulit ini adalah gaji guru setahun penuh yang mengajarkan muridnya kesederhanaan. Baju ini adalah keceriaan anak-anak yatim menikmati olahan daging lezat. “Tapi kamu pantas mendapatkannya” itulah yang Biram katakan. Setidaknya dia punya dua yayasan, tempat membersihkan harta, di mana anak-anak yatim piatu menghapus dosa kami dan mudah-mudahan membuka pintu sorga.

 

Bersambung

 

Bagian 1

Bagian 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s