Hidup di Era Drama

“Kita hidup dalam era drama” seorang kolega dengan mantap berteori. Sama sekali tidak salah, karena memang demikian.

Sudah dua tahun kebelakang, teman-teman saling melukai hati di sosial media, termasuk saya sendiri, terutama ketika Pilpress berproses. Saya yang biasanya golput dan acuh pada politik, saat itu harus menunjukkan sikap, memihak salah satu.

Sekarang, dinding-dinding sosmed kembali memanas, membuat gerah penghuninya. Teman-teman yang datang dari masa lalu dan sekarang kembali saling terhanyut dalam drama, perasaan diombang-ambing. Tapi sekarang, di pilkada yang bukan untuk memilih pemimpin dimana saya tinggal, lebih baik menarik diri mejauh. Tapi Ibu Kota akan selalu jadi magnet.

Teman-teman yang dulu tangguh, cuek dan kuat kini jadi sensitif, gampang tersinggung dan merajuk. Bawa perasaan! kata anak muda jaman sekarang. Jadi tak habis pikir, mengapa pertempuran yang bukan milik kita bisa melukai, kadang membuat mati – pikiran.

Bahkan, nun jauh di sana drama juga melanda penduduk Amerika Serikat, tokoh utama, figuran dan kameo hilir mudik di dunia maya yang menjelma jadi saru dengan nyata. Ini bukti kita bukan lagi berproses belajar demokrasi, mereka yang mahir pun terjebak dalam drama.

Setiap drama pasti ada ujungnya, saya menunggu kapan akan berakhir, semoga saja bisa tamat, bukan beralih ke drama lainnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s