Nota Muthia: Di Haribaan Karibia (Bag.4)

HARI KEEMPAT

“Aahhh” Biram menghembuskan nafas panjang melempar badannya santai di kursi pantai berpayung besar sewarna dengan bentangan air laut. Payung itu membentuk bayangan bulat besar menghitam hingga teduh di bawahnya. Dari balik kaca sun glass Ray Ban-nya aku bisa melihat kedua mata menutup, mulut itu tersenyum menikmati dunia pagi ini. Kami berada di bibir pantai Sint Marten, Philipsburg. Sebuah pantai putih panjang yang hampir membentuk setengah lingkaran menelungkup teluk besar, itulah Great Bay. Menghadap ke selatan lautan biru mengurung, sedangkan di utara, bukit-bukit kecil berwarna hijau seperti batu diselimuti lumut membentang panjang, di kaki-kakinya bangunan-bangunan putih tersebar. Matahari mendongak di balik bukit sebelah timur, menyemburat kemilau emas di awan yang tersebar seperti kapas tertiup angin.

Jauh di sebelah kiri, marina menancapkan tiang-tiang kapal kecil putih tegak menuju langit. Di belakangnya kapal pesiar kami yang besar terlihat mengecil ditelan pandangan luas, tapi tetap menjulang di antara bangunan lain yang tampak kerdil. Dia begitu angkuh, kapal yang menyimpan hasrat cinta kami yang menggebu di malam-malam gelap yang terlewati.

Tadi pagi, jam 8.00 Oasis merapat dan memberi kesempatan para penumpangnya untuk menjejak tanah pertama kali semenjak tiga hari mengangkat jangkar. Bau pasir dan tanaman di sepanjang Broadwalk menyergap hidung, jalan tertutup porselen dan keramik membentang di sepanjang pantai. Rentetan restoran dan resort di sebelah kanan jalan kadang meniupkan wangi makanan menggugah selera yang masih diolah untuk santapan nanti.

Bentang pantai putih ini ditutupi kursi-kursi menghadap lautan yang menggandeng payung warna-warni cerah, berderet diatur berdasarkan siapa yang berinvestasi. Pohon-pohon kelapa menari-nari, memberi jarak antara bangunan dan pantai di seberangnya.

Aku dan Biram mengenakan pakaian renang dengan motif sama dari Quiksilver, ya aku tahu ini sedikit norak, tapi tetap kami lakukan juga. Sebuah kain bermotif bunga tropis kupasang di pinggul menunggu dibuka di saat yang tepat.

Kami berada di Café Holiday, membeli dua botol bir dingin  di bar untuk dapat menggunakan kursi pantai di depannya. Privilege yang disematkan adalah penggunaan kamar mandi dan sinar matahari tak terbatas. Aku dan biram saling mengoles dan meratakan sun screen sambil sedikit memijat halus kulit masing-masing. Para turis sudah mulai berbaring di kursi-kursi putih yang kini sudah mulai berwarna-warni, yang timbul karena beragam warna kulit dan bikini-nya. Orang-orang berbicara dengan beragam bahasa dan dialek, aku tahu beberapa di antara mereka saling membicarakan satu sama lain, tanpa rasa kuatir.

“Gila si kakek gendut, ceweknya hot and sexy. Pasti cewek simpenan” Biram menggunjingkan pasangan di sebelah kanan kita.

“Tua-tua keladi hehe” Aku menyambung “Tapi bisa aja dia anaknya say!”

“Masak sama anaknya ciuman bibir”

“Ah masa?, kapan?”

“Tadi, hot banget lho”

“Ngiri ya?, sini aku cium” godaku

“Tadi pagi gak puas ya?”

“haha, nanti malem lagi ya!”

“Siap Boss” Biram tertawa kecil.

“Itu si Ibu lemak gelambir ke mana-mana” perhatian beralih

“Tapi pede aja ya pake bikini, kamu kalau gembrot gitu berani ga?”

“Aku sih tahu diri say!”

“Nah itulah bedanya bule”

“Tidak semua bule begitu” mengagetkan, suara lelaki berat dari sebelah kiri kami. Seorang bule duduk dari tidurnya, membuka kaca mata hitam dan tersenyum sambil mengedipkan mata kiri. Dia mendekat dan memperkenalkan diri “Hai, aku Alex”

Tersadar dari kaget, aku dan Biram tertawa kecil dan memperkenalkan diri juga.

“Bahasa Indonesia anda bagus sekali” Biram memuji

“Ya, saya tinggal di Indonesia sudah 15 tahun” menjelaskan alasannya

“oh ya? Di mana?” tanyaku

“Aku sekarang tinggal di sekitar Lovina”

“Bali?” tanya Biram

“Iya, punya resort kecil di sana join sama orang Bali asli, sudah 8 tahun lah. Sebelumnya sempat tinggal di Kuta, sempat di Lombok juga”

“Oh menarik, sekarang sedang cari referensi atau liburan?”

“Keduanya haha”

Alex berperawakan kurus, tingginya menjulang, mungkin sekitar 185 cm, perkiraanku umurnya sekitar 50 tahun, tapi badannya terawat olah raga, tak ada lemak menutupi. Berikutnya obrolan menjelaskan cerita hidupnya yang berasal dari Australia, datang ke berlibur ke Bali sekaligus untuk bekerja sebagai seorang fotografer dan seketika jatuh cinta pada alam Bali, mengabadikan segala hal tentangnya. Menjadi kontributor untuk beberapa majalah travelling dan ilmiah termasuk National Geographic. Tahun kedua memutuskan berkeliling pulau Dewata untuk mencari lebih dari sekedar kemeriahan Kuta dan kawasan wisata sekitarnya. Sempat menikah dengan seorang gadis Uluwatu dan mempunyai dua orang anak, bercerai dan kemudian menikah lagi saat berada di Lombok dengan gadis lokal, sempat menjadi mualaf dan kembali menganut Kristen setelah bercerai karena ketahuan berselingkuh. Istri ketiganya adalah seorang Jawa yang tinggal di Nusa Dua, seorang pengusaha penginapan kecil di sana. Darinya dia belajar bisnis hospitality dan berhasil mengembangkan beberapa penginapan di sana. 8 Tahun ke belakang melihat prospek perkembangan wisata Lovina dan mendirikan sebuah resort. Alex sangat cinta Bali dan Indonesia, kini dia berkebangsaan Indonesia.

“Kalian baru menikah?” mengawali pertanyaan soal kami berdua. Kemudian Biram bercerita sedikit soal pernikahan dan bulan madu kami dengan Oasis.

“Wah seru ya, aku belum pernah naik kapal pesiar”

“Ke sini pakai pesawat?” tanyaku

“Iya, dari Kanada. Sebelumnya main ke rumah teman di Quebec”

Biram sempat bercerita soal foto pre-wedding kami di Bedugul yang berkesan. Tiga bulan menjelang pernikahan, Biram tiba-tiba punya ide membuat foto pre-wedding di beberapa kota dengan satu motor kesayangannya Triumph Truxton. Dia memang suka motor besar yang lebih klasik tapi mewah  dibanding Harley Davidson yang terlalu berotot. Foto dengan moge itu sebuah pencitraan memang, karena kami tidak mengendarainya menuju Bukittinggi, Palembang, Bandung, Malang, Bali, Pulau Komodo, Gorontalo, Ambon dan terakhir Pontianak. Anwar sang kaki tangan Biram yang mengurus pengirimannya dengan mobil truk towing khusus. Sedangkan kami berdua cukup datang di hari yang dijadwalkan dengan pesawat.

Sesi foto di Bali dilakukan di Bedugul, sebuah resort dengan latar pesawahan indah menjadi pilihan. Lahan hijau terasering khas petani Bali menghampar, membentuk pola tidak teratur tapi tidak pula alami. Aliran air yang menuruni tangga-tangga terasering tersebut seperti ular tangga, mencari jalan menuju permukaan rendah. Tim fotografer menemukan titik itu setelah tiga hari lamanya berburu di sekitar Ubud dan Nusa Dua. Hari ini kami harus berpacu melawan cuaca, ada gumpalan awan gelap mendekat dari arah utara. Menunda tak memungkinkan, karena Esok hari Biram harus segera menuju Hongkong untuk sebuah pertemuan dengan CEO LG Mobile. Saat semua alat dan lampu siap, malapetaka itu datang, guyuran hujan dimuntahkan langit dan pemotretan harus dibatalkan, melindungi peralatan dari kerusakan. Setengah jam menunggu, Biram dan Robby Agus sang fotografer memutuskan melanjutkan pemotretan dalam hujan. Aku dan Biram harus merelakan jaket kulit Lanvin dan sepatu boots pesanan dari Bandung dibasahi hujan. Kami seperti anak kecil yang kegirangan bermain dalam hujan, sedang kamera Robby hanya terlindung payung. Pelukan Biram mengusir dingin hembusan angin yang meniupkan air pada kulit, terkadang dia mencium bibirku yang pucat dan sesekali menggil. Tapi buat Biram pengorbanan terbesar adalah melihat motor kesayangannya sang Truxton disiram hujan. Motor itu yang selalu tersimpan rapi di garasi, hanya anwar yang boleh menyentuhnya. Aku kadang geli dibuatnya, karena menurutku, motor adalah benda yang semestinya digunakan.

Saat aku SMP, adik Ibuku yang bernama Riyadi bekerja di sebuah perkebunan kelapa sawit di Medan, beliau menabung beberapa bulan untuk membeli sebuah sepeda ontel yang lama diincarnya. Sepeda yang sangat disayanginya, tak pernah digunakan, hanya tersimpan di halaman belakang ditutupi plastik besar bekas taplak meja dan diawasi sepasang mata Rhoma Irama dari poster besar yang menempel di dinding. Setiap Pakle pulang ke Lampung akhir bulan, dia membuka penutup plastik, mengelap sepedanya penuh cinta dan memberi oli pelumas pada rantai dan as roda agak terhindar dari karat. Perlu diakui, sepeda itu memang sangat cantik  menawan dan jadi primadona di kampungku, tak jarang Pak RT dan tetangga menawar sepeda itu untuk dibeli, tapi Pakle Yadi menolaknya mentah-mentah. Kecantikan sepeda itu berakhir ketika suatu pagi di hari Minggu, aku mengajak Wati diam-diam menggunakannya menuju kota tanpa sepengetahuan siapapun, kecuali Bang Rhoma. Ibuku sedang di pengajian, sedangkan Bapak mengunjungi kebunnya. Sepeda elok itu menjadi penyok ketika kami terjatuh menabrak pagar jembatan karena menghindar kucing yang kaget menyeberang jalan. Seminggu itu kupingku tak pernah jauh dari jeweran, mulai dari Ibu, Bapak, Kakek dan tentu Pakle. Bapakku yang kena getah harus mengganti sepeda Pakle dengan yang baru, meski yang lama tak tergantikan.

“Sudah berapa lama di sini?” Tanya Biram

“Ini hari ke lima di Sint Maarten. Sebelum ke Philpsburg aku berlibur di utara, bagian Perancis dua hari, tapi di sana cukup mahal” pulau ini memang unik, dimiliki oleh dua Negara berbeda, bagian utara adalah persemakmuran Perancis, sedang bagian selatan milik Belanda. “Tapi perhiasan di sana bagus-bagus, kamu pasti suka Muthia, kamu yang cantik pasti tambah menawan pakai batu-batu asli karibia” tersipu aku dibuatnya.

“Boleh lah kapan-kapan kita ke sana” Biram melirikku yang hanya mengangguk kecil.

“Rencananya berapa lama di sini?”

“Tiga hari lagi kembali ke Bali” Jawabnya tak rela

“oh oke”

“Kalian?”

“Oasis hanya mampir siang ini, nanti sore lanjut berlayar, besok kita ke San Juan” Jawab Biram

“ooh Puerto Rico ya, katanya cewek di sana lebih cantik-cantik”

“Oh ya?” aku sedikit bergumam

Seorang gadis manis muncul, rambut gelombang hitam sepunggung dengan kulit cokelat alami yang mulus, sangat eksotis. Mini bikini warna hijau terang membungkus seperlunya titik yang mesti ditutup. Alex memperkenalkan namanya Jasmine. Gadis campuran Karibia dan Bule Eropa itu masih sangat belia, umurnya mungkin baru 20 tahun, tapi bahasa tubuhnya begitu dewasa, sexy dan menggoda.

Selanjutnya Biram mengajakku bermain di pantai, menyentuh air laut, menaiki jet ski dan banana boat meninggalkan Alex dan Jasmine menikmati Tequilla.

Alex sempat mengajak kami bermain voli dan meminta bertukar pasangan, Biram dengan Jasmine sedangkan aku dan dia. Permainan yang memang seru, kadang Alex dengan cuek memeluk aku saat kami mendapatkan poin, sentuhan-sentuhan dia di tubuhku entah sengaja atau tidak membuatku risih. Beruntung aku dan Biram harus berpamitan karena Oasis akan kembali berlayar jam 5 sore.

Beberapa saat setelah kapal berlayar, kami memutuskan menghabiskan beberapa saat di kamar mandi, menikmati kebersamaan di bath tub.

Malam harinya menuju Broadwalk mencari makan malam, kami memutuskan menikmati makanan Meksiko di Sabor. Interiornya cukup unik, warna merah terang kursi-kursi yang disusun bertabrakan dengan biru solid di dinding dan plafon yang berbaur dengan warna kayu muda. Restoran ini lebih berkesan urban dibanding mewah, meski ornamen Meksiko tidak terlalu kental tapi suasananya tetap kena, mungkin karena musik dan makanannya yang cukup autentik.

Malam itu menjadi sedikit panjang, pergumulan sepasang pengantin baru mengakhiri gelap yang menua yang beberapa jam lagi akan hilang ditelan lembayung pagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s