Jurnal Pagi Jakartans: 10 Januari 2017

Pagi yang basah, bukan karena air mata, tapi air hujan yang mengguyur deras. Tapi akan berubah menjadi air mata kala beberapa anak sekolah datang terlalu siang akibat kemacetan. Bisa jadi juga jadi air mata ketika mereka terpaksa memakai seragam basah. 

Hujan sesungguhnya adalah rejeki dari Tuhan. Dengannya, air tanah tercukupi, tumbuhan tersenyum gembira dan dengannya pula para penjual jas hujan bergembira.

Ada selalu oportunis sejati di segala situasi kota Jakarta. Para ojek payung mengais rejeki, penjual payung dan jas hujan. Sopir taksi lebih banyak penumpang dari biasanya. Makanan dan minuman hangat jadi pereda dingin.

Tapi tentu ada yang dirugikan, bagaimana nasib pejaja es dan minuman dingin?. Pengemudi motor yang direpotkan dengan memakai jas hujan. Di beberapa tempat berteduh beberapa mereka bergerombol, memarkir kendaraannya. Kolong fly over dan jembatan kadang tiba-tiba jadi area parkir mereka yang nyaman dan kering. Membuat pengemudi mobil harus melambatkan putaran roda, jalanan menujunya pun jadi merayap.

Ada orang-orang hebat yang harus tetap bertugas dalam deras hujan. Polisi mengatur lalu lintas dalam lindungan jas hujan yang tak kuasa menahan basah di bajunya. Para petugas TransJakarta, para petugas gerbang tol, para tukang parkir dan sebagainya. Mereka jelas bukan oportunis, sekedar menjalankan kewajiban agar masyarakat tetap menikmati hal yang kadang susah mereka syukuri.

Jakarta mendung pagi ini jangan sampai membuat hati menjadi kelam, cukuplah menjadi teduh saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s