Siapa Bilang Menulis Gampang?

Menulis bisa jadi hal yang membosankan dan perlu perjuangan keras. Saya tidak bicara dalam konteks menulis asal nyeloteh atau nyablak. Tapi menulis dengan sebuah objektif yang jelas dan tujuan yang baik. Tak heran karya-karya bagus ditulis dalam waktu yang lama, bahkan sangat lama. Beberapa penulis terkenal bisa menghabiskan waktu tahunan untuk menelurkan sebuah buku / novel.

Sebuah karya tulisan, buat saya tidak hanya merangkai kata untuk mengkomunikasikan sesuatu, tapi juga adalah sebuah proses “kriya kata” – sebuah kerajinan. Pilihan diksi, penting atau tidak pentingnya sebuah paragraf, kalimat-kalimat kunci, bila dipikirkan dengan seksama dan dengan semangat “berkarya kriya”, saya 100% yakin akan menghasilkan karya yang berkualitas.

Tapi kadang mood mempengaruhi, hingga pada suatu titik kita dengan penuh sadar mengatakan “cukup” dan menelurkan karya yang setengah matang bahkan mungkin masih mentah. Hal itu bisa dimaklumi, sepanjang kita sendiri sadar dengan kualitas yang dihasilkan dan tahu parameter yang harus dicapai jika lain kali “ingin” menghasilkan karya yang lebih baik.

Yang menyedihkan bila penulis tak sadar parameter nilai karyanya sendiri, apakah buruk, kurang baik, cukup, bagus atau bagus sekali. Dia hanya menelurkan karya tulisan tanpa tahu bagian mana yang harus terus diperbaiki di masa depan, tidak ada senjata untuk menilai dan mengomentari karya sendiri.

Untuk bisa menilai hasil tulisan sendiri, yang saya lakukan adalah membacanya terus menerus berulang-ulang, melakukan filter terus menerus, membuang yang tidak perlu – menambahkan yang perlu. Tapi tentu jam terbang dan pengetahuan pun mempengaruhi, orang-orang seperti saya yang tidak punya latar belakang sekolah formal dalam bidang penulisan maupun sastra punya keterbatasan ilmu. Yang bisa saya lakukan adalah minta pendapat orang lain untuk menilai, semakin banyak masukan akan semakin baik.

Tapi inti dari semuanya adalah menghargai karya tulisan sendiri. Sering kali saya menemukan situs-situs yang menawarkan pekerjaan menulis dengan imbalan yang sangat memprihatinkan. Sebuah artikel bisa dihargai 15 ribu perak!, hal yang mengerikan!. Saya mengerti, yang mereka harapkan dari penulis dengan harga sekecil itu tentu bukan karya istimewa, tapi Rp. 15.000 untuk sebuah karya tulis tetap sesuatu yang merendahkan. Dan yang lebih memprihatinkan adalah banyak juga penulis yang bersedia melakukannya. Yang mereka lakukan adalah menulis dalam kuantitas besar, kuantitas berbanding lurus dengan konsumsi waktu. Pada akhirnya, tak ada cukup waktu untuk “berkriya kata”, tak ada cukup waktu untuk membaca berulang-ulang, tak ada cukup waktu untuk menilai.

Hasilnya adalah karya-karya tulis celotehan impulsif, tanpa struktur, tanpa idealisme dan tanpa objektif yang jelas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s