Demo Menolak Jaman

Badra termenung menatap lurus awan yang sedari tadi bergerak sopan, seperti anak-anak kampung Sukmajaya yang menunduk permisi setiap kali melewati pos tempatnya mangkal. Kadang dia mengacuhkannya, persis saat ini ketika awan itu tak menarik perhatiannya. Kepul asap bakaran tembakau lintingan menghasilkan bau yang tak biasa, menarik waktu mundur tiga puluh tahun ke belakang, saat para sesepuh sehari-hari menghisapnya. Badra sampai harus melupakan rokok kretek kesayangannya, karena kantong tipisnya semakin mengkerut belakangan. Anak-anak sopan yang dulu menjadi langganan jasanya kini lebih memilih ojek online yang katanya lebih murah, praktis dan modern.

Dia marah, bukan pada anak-anak sopan itu, tapi pada nasib. Menyesali masa mudanya dulu yang tak disirami ilmu pengetahuan dan kekayaan moral, Badra muda lebih memilih jadi kuli di pasar dan kemudian menjadi preman penjaga keamanan bagi pembayar upeti dan menebar panah-panah ketakutan pada sasaran yang acak. Kini hidup seolah mentertawakannya geli, bukan hanya dengan kemiskinan yang semakin merenggut, tapi pada kebodohannya. Pernah dia diajak Samawi untuk ikut mendaftar menjadi bagian dari ojek online, tapi dia takut menghadapi teknologi. Dia tidak siap dengan yang orang bilang kehidupan digital. Sadar kini dirinya lebih bodoh dibanding anak tiga tahun yang akrab dengan kemajuan teknologi. Bahkan cucunya Fathih yang berumur dua tahun jauh menguasai benda asing itu.

Hari ini ratusan pengojek pangkalan akan melakukan demo ke kantor Bupati menolak pengesahan operasi ojek online di wilayahnya dan mungkin dilanjutkan dengan menggeruduk kantor ojek online berwarna hijau tersebut. Badra sedikit gamang, bukan hanya karena merasa dirinya sudah terlalu tua untuk itu, tapi beberapa teman, saudara bahkan anaknya sudah menjadi bagian dari ojek modern itu.

“Mang, melamun aja …” Si Hamid mengganggu lamunannya, dia melepaskan helm dan segera duduk di bangku kecil yang terbuat dari drum kaleng sisa cat tembok yang sudah lusuh ditempel debu.

“Eh kamu Mid, bikin kaget aja. Iya nih mamang lagi mikir ikut demo atau enggak.”

“Mang, rokoknya enggak enak gitu, ini ganti punya saya.” menyodorkan sebuah rokok filter rendah tar dan nikotin.

“Ah boleh nih, lumayan lah. Kurang mantep sih pake filter, tapi nuhun.”

“Jadi, kenapa harus bingung ikut demo atau enggak?” Hamid menyalakan korek gas, menyalakan rokok di mulut Badra.

“Kamu ikut enggak?”

“Eh, kenapa jadi balik bertanya, tadi belum dijawab.”

“Yah Mamang mah bingungnya ngerasa udah kolot … tua, kalau ikut demo sepertinya enggak pantes. Nah kamu kan masih muda, harusnya ikut.”

“Ah buat apa Mang!” Hamid meniupkan asap lurus ke udara sambil bersandar malas pada tiang bambu pos yang sudah mulai lapuk dimakan rayap dan cuaca.

“Ya buat hidup kamu di masa depan atuh Mid!”

“Tadinya saya mikir begitu, tapi setelah merenung sepertinya enggak perlu”

“Sok atuh kasih tau Mamang Badra hasil renungan kamu.”

“Mamang tau kan Mang Odin, terus si Kang Ujang sama Apet?.”

“Iya, ada apa sama mereka?, apa hubungannya sama demo?”

“Ya ada atuh!” Hamid duduk tegak. Kemudian dia berdiri dan menuju lemari kecil tempat penyimpanan kopi yang dibeli dari uang kas yang dikumpulkan beberapa pengemudi ojek di pangkalan itu. Dia menyeduh satu bungkus kopi susu dengan air panas yang setiap hari disumbang Ma Ijah, penjual lotek tidak jauh dari pangkalan itu.

“Mamang mah bodoh, jadi enggak tau apa hubungannya Mid. Sok atuh kasih tau.”

“Mang, Si Mang Odin jualan apa?”

“Jualan gas kan?” meyakinkan

“Iya, jualan gas … persis!” Hamid kembali duduk dan meletakkan gelas panas di meja depannya yang terbuat dari ban bekas dan potongan daun pintu Posyandu yang kini sudah diganti baru dari sumbangan Pak Lurah. “Tapi sebelumnya jualan apa?”

“Sebelumnya jualan minyak tanah kan?”

“Bener mang!, dulu jualan minyak tanah. Inget kan dulu Si Mang Odin kalau ngelayanin suka sambil ngahaleuang (bersenandung) sambil ngitung literan.”

“Oh iya inget …. saleter …. dua leter …. tilu leter …” Badra menyanyikan yang biasa dilakukan penjual minyak tanah itu.

“Nah, waktu itu pas pemerentah bikin program penggantian kompor minyak ke gas, sok mamang inget-inget, ada enggak demo pedagang minyak tanah?”

“Henteu nya … tapi beberapa Ibu-Ibu protes ke kecamatan.”

“He-uh, pimpinan Bu Jafar.” Hamid tertawa kecil sambil menyeruput kopinya. “Terus waktu Mang Ujang punya kios wartel, enggak laku. Mulai musim pake henpon, apa tukang wartel pada demo?”

“Ya enggak Jang Hamid!”

“Pertanyaan selanjutnya, apa sekarang Mang Odin sama Kang Ujang jadi miskin?”

“Enggak, kan Mang Odin jadi jualan gas, Kang Ujang jualan pulsa henpon.”

“Naah,  mereka berdua ngikutin jaman Mang … da perubahan mah enggak bisa dilawan, bener teu?. Si Apet yang menyerah, hanya mengeluh jadinya miskin kan, sekarang pengangguran.” Hamid berekspresi serius, setengah berorasi.

“Enya belegug (bodoh) si Apet Mah, padahal Mamang pernah ngajak ngojek, tapi ada aja alesannya, gak punya motor lah … capek lah!” Badra sesekali menyentil rokoknya untuk membuang abu ke dalam asbak keramik di atas meja. “Kan motor mah bisa minjem ke mertuanya.”

“Gengsi mungkin Mang”

“Dahar tah gengsi! (makan tuh gengsi).”

Hamid menyeringai kecil dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jadi kesimpulannya, yang enggak siap sama kemajuan ya jadi orang yang rugi, bener Mang?”

“Bener sih kamu pinter Mid, jadi, kamu selanjutnya mau ngapain? ikut ojek online atau ganti profesi?”

“Lagi nyari lowongan kerja di internet Mang.”

“Wah gagayaan pisan nyari lowongan di internet, kan kudu punya keahlian.”

“Eh atuh ngikutin perkembangan jaman Mang Badra!”

“Bagus atuh, ada lowongan apa aja?”

“Ya banyak, ada jadi sopir, karyawan gudang, kurir dan lain-lain.”

“Enggak ada lowongan buat Mamang?”

“Kita boleh aja ngikutin kemajuan jaman Mang, tapi umur mah mentok euy.”

“Ah si gelo!” Badra melemparkan puntung rokok ke arah dada Hamid, yang disambut gerakan menghindar dan tertawa terbahak-bahak.

“Ah udah, dengerin kamu mah bikin Mamang tambah bodo.” Badra bergegas berdiri, mengenakan jaket dan mengeluarkan kunci dari salah satu kantongnya.

“Mau ke mana Mang?”

“Ke warnet!, mamang mau belajar internet.”

“Indomie telor kornet?” Hamid kembali tertawa.

“Mamang mau jadi yutuber!”

“Naon eta Mang?”

“Hayang nyaho wae! (mau tahu aja!).” Badra segera berlalu, setelah menekan tombol starter elektrik dan menarik gas.

Hamid kini melamun sendiri, menyandarkan kepalanya pada tiang bambu, memandangi awan yang bergerak sopan, seperti anak-anak kecil pengajian di Mushola depan rumahnya.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s