Demo Menolak Jaman

Badra termenung menatap lurus awan yang sedari tadi bergerak sopan, seperti anak-anak kampung Sukmajaya yang menunduk permisi setiap kali melewati pos tempatnya mangkal. Kadang dia mengacuhkannya, persis saat ini ketika awan itu tak menarik perhatiannya. Kepul asap bakaran tembakau lintingan menghasilkan bau yang tak biasa, menarik waktu mundur tiga puluh tahun ke belakang, saat para…

Nota Muthia: Di Haribaan Karibia (Bag.4)

HARI KEEMPAT “Aahhh” Biram menghembuskan nafas panjang melempar badannya santai di kursi pantai berpayung besar sewarna dengan bentangan air laut. Payung itu membentuk bayangan bulat besar menghitam hingga teduh di bawahnya. Dari balik kaca sun glass Ray Ban-nya aku bisa melihat kedua mata menutup, mulut itu tersenyum menikmati dunia pagi ini. Kami berada di bibir…

Nota Muthia: Di Haribaan Karibia (Bag.3)

HARI KETIGA “Ayo cepat, nanti ketinggalan” aku menarik tangan Biram di lorong kabin menuju lift ke dek teratas “Iya, tunggu sayang sendalku nih” Biram melambat “Ayo sayang” aku menunggu di ujung lorong Pagi ini kami berhasil bangun awal, meski agak kesiangan juga. Tadi Biram membuka jendela balkon dan sempat terhanyut dengan pemandangan di luar sana….

Engkong Sobari: Mungkin Mereka Mikir Mentri Bisa Prilens

Pagi-pagi sekali sepulang sholat shubuh berjamaah ketemu Engkong Sobari yang lagi siap-siap dorong gerobak buahnya ke tempat mangkal.   B: Assalamualaikum Kong Bari S: Waalaikumsalam, eh elu Tong, apa kabar? B: Baik Kong, Engkong sehat-sehat kan? S: Seger gue mah B: Kong, menteri ESDM yang rame-rame diduga WNA akhirnya dicopot tuh S: Iye, gue denger…

Nota Muthia: Di Haribaan Karibia (Bag.2)

Malam itu Biram menelepon, detak jantung ini semakin memberontak, hampir saja gemetar tangan menjatuhkan telepon dari genggaman. Aku menenangkan diri dengan usaha keras, meminta jantung lebih tenang, tapi tak kunjung juga. “Halo Muthia” suara di seberang sana “Halo Mas Biram” suaraku terdengar bergetar “Pak Mohtar sudah tidur?” “Iya Mas, dia sedang istirahat” kini aku berada…

Nota Muthia: Di Haribaan Karibia (Bag. 1)

HARI KEDUA Angin sejuk menerpa wajah, yang bila saja bercermin pastilah bahagia, sebuah kebahagiaan yang mustahil digambarkan. Tepat di depanku terhampar luas samudera Atlantik yang tenang, sedang matahari mulai melayang meninggalkan cakrawala yang kesepian jauh di sana, memantulkan cahaya emas di riak ombak biru pekat. Sepertinya awan tak kuasa mengganggu kebahagiaanku pagi ini, mereka berarak…

Lima Sekantor: Bagian 4

Juni 2015 Beban berat, itulah yang gue rasa sekarang, seperti bendungan yang udah gak sanggup lagi nampung air sungai. Sudah beberapa hari belakangan Tika curhat masalah pribadinya yang berat, super berat malah. Gue yang jadi keranjang sampah diminta dengan sangat enggak cerita ke siapa pun, termasuk Mita, Efa dan Bimo. Masalah ini ternyata berawal dari…

Anjing-Anjing Pengendus

Lolongan melengking peluit anjing menyalak galak, udara jadi jalur merayap, meliuk menghindari pucuk-pucuk pohon beringin tinggi, menghampiri telinga, mengabarkan cemas pada tungkai agar berlari lebih depan. Biarlah anjing-anjing itu mengoyak pantat Binu sebelum aku, ganjaran buat pelari lamban. Binu, dialah lelaki yang berlari dua langkah di belakang, menyeretku dalam situasi ini, bodohnya aku, karena ternyata persahabatan…

Lima Sekantor: Bagian 3

Mei 2015 Sudah tiga jam perjalanan dalam bis ini menuju Tanjung Lesung di Ujung Kulon, dan masih ada sekitar 3-4 jam lagi. Hampir semua orang ketiduran, cuma beberapa saja yang bisa gue denger ngobrol di deretan belakang. Wajar juga kami kecapekan, kita harus kumpul di kantor jam 6 pagi, berarti udah harus jalan dari rumah…

Engkong Sobari Soal Jelekin Presiden Masa Lalu

Kali ini, kami berkesempatan mewawancarai Engkong Sobari yang sedang agak santai berteduh di dekat gerobak buah-nya. Assalamualaikum Kong Bari… Waalaikumsalam warohmatullohi wabarakatuh, eh elu tong, sini ngadem! Iya Kong makasih, panas banget ya cuaca. Iya, gue sampe keringetan dari tadi, padahal ngadem di bawah pohon sini. kabarnya sih akibat badai equinox, jadi suhu meningkat. Bisa…

Sabron Bercermin dari Catur

Hidup buat Sabron tidak pernah bersahabat, dari kecil dulu selalu jadi musuh berat, seperti bermain catur melawan Kasparov. Dia hanya bisa terus berlari dari serangan, bergerak menghindari skak mat, kalah bukan pilihan, remis paling tidak. Sabron yang hidupnya berat tetap idealis, kemantapan hati menurutnya jadi modal buat tetap bertahan dalam gempuran strategi Petrocian Attack. 

Engkong Sobari Soal Valentine

Assalamualaikum Kong, sehat?. Alaikumsalam, eh elu Tong, baek-baek nih … Makin keren aja nih Kong Bari makin hari. Ah pujian lu tuh kagak tulus!. Haha bisa aja, eh Kong, hari ini kan hari valentine, Engkong gak ngerayain?.