Salah Desain pada Sistem Lalu Lintas di Jakarta?

Setiap hari perjalanan ke kantor dari Pondok Cabe ke Cipete selalu bertemu titik-titik kemacetan, satu hal yang biasa. Ada titik yang memang disebabkan perempatan tanpa lampu merah (lampu pengatur lalin), ada karena putaran (U-turn) ada karena perilaku egois manusia-nya. Tapi di sebuah lajur jalan di mana ada jalan tol paralel dengan jalan non-tol, saya merasa…

Lelaki

Dia pikir jantan, ketika janin terjuntai tanpa pejantan. Dia pikir gagah, gegabah merebah berapi menggagahi. Dia pikir kuat, ketika murka sang Ayah menjadi kualat. Dia pikir hebat, saat deritanya menerpa begitu berat. Dia pikir teguh, ketika nikmat tersapu berjuta peluh. Dia pikir mudah pergi berlari dari dosa yang membuntuti. *untuk lelaki yang melakukannya pada kerabatku

Jalanan Yang Merubah Wajah

Beberapa tahun yang lalu pernah diputar sebuah cerita pendek kartun animasi yang menarik dari Disney di televisi, bukan cerita dari tokoh yang terkenal seperti Mickey, Donald, Goofy dan kawan-kawan berbuat kekonyolan. Sebuah cerita yang sangat bermakna, menyindir kehidupan kota besar, sehingga selalu menempel di kepala.

Siang Adalah Tamu

“Malam datang, lampu-lampu dinyalakan”, kalimat romantis yang sudah beberapa kali saya dengar. Nyala lampu-lampu memang membius, kadang mendatangkan perasaan menggelitik, entah senang entah galau.